Showing posts with label Arifin. Show all posts
Showing posts with label Arifin. Show all posts

Sunday, April 10, 2011

Nirwan, George, dan Arifin

Yesayas Oktovianus BADAN sepak bola dunia, FIFA, telah mengambil langkah penyelamatan terhadap sepak bola Indonesia dengan membentuk Komite Normalisasi untuk menggelar kongres pemilihan ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota Komite Eksekutif PSSI. Alasan pembentukan KN adalah FIFA menganggap PSSI tidak kredibel. Keputusan FIFA segaris dengan keputusan pemerintah yang tak mengakui PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid dan Sekretaris Jenderal Nugraha Besoes.

Yang masih menarik dibahas adalah keputusan FIFA mendukung keputusan Komite Banding (KB) bentukan PSSI yang menganulir empat bakal calon, yakni Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, George Toisutta, dan Arifin Panigoro. Keputusan ini layak diperdebatkan karena KB itu tidak dibentuk PSSI lewat kongres, dan KB adalah bagian dari karut-marut kepengurusan Nurdin.

Kalau memang pengguguran keempat nama itu berdasarkan Statuta FIFA, sangat kuat legalitasnya. Namun, ketika itu didasarkan pada keputusan KB, ini adalah bagian dari kerja Komite Normalisasi (KN) untuk meluruskan kesalahan dan kekeliruan tersebut. Jika kita merujuk ke Statuta FIFA, dari empat nama di atas, hanya Nurdin Halid yang gugur mengingat ia tersangkut pasal kriminal. Sementara Nirwan Bakrie, George Toistutta, dan Arifin Panigoro berhak maju. Ketiga sosok tersebut masih sangat pantas diadu dalam kongres nanti karena telah memperlihatkan komitmen kuat.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat sedikit pun kepada Agum Gumelar karena Agum memiliki kapasitas dan kredibel berada di KN, saya juga perlu mengingatkan bahwa Agum sangat akomodatif. Selain merupakan kelebihan, aspek itu juga kelemahannya selama ini.

Dengan demikian, bukan tak mungkin Agum akan kembali merangkul PSSI dalam kerja KN menuju kongres. Untuk itu, saya perlu mengingatkan bahwa Agum harus memperlihatkan komitmen yang tinggi dalam semua keputusan KN nantinya.

Masyarakat pencinta sepak bola di Tanah Air tidak ingin melihat kegagalan dan kesalahan kedua Agum setelah ia melakukan blunder dengan mengakomodasi PSSI di Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) di Malang, Jawa Timur, tahun 2010.

Keberadaan Joko Driyono dalam tim KN paling tinggi menimbulkan resistensi. Mengapa? Joko adalah bagian dari Liga Super saat ini. Saya kenal dekat Joko secara pribadi dan ia sosok yang berkomitmen tinggi membangun sepak bola Indonesia. Akan tetapi, di balik komitmen tinggi itu, Joko tidak bekerja sendirian.

Ia berada di bawah kendali ”tangan-tangan” lebih kuat sehingga untuk alasan tersebut, saya sangat meragukan Joko bisa bekerja jujur, terutama dalam membahas Liga Primer Indonesia (LPI).

Sebagai pengawas Sebagai Komite Eksekutif PSSI saat ini, KN sebetulnya bisa mengambil jalur pintas menuju kongres sebelum 21 Mei 2011. Jalan pintas itu adalah dengan mendukung kerja Komite Pemilihan (KP) dan KB bentukan kongres Pekanbaru, Riau, bulan lalu. KN cukup bertindak sebagai pengawas—dan ini sesuai dengan Pasal 31 Statuta FIFA—terhadap rencana 78 anggota yang akan menggelar kongres di Surabaya, 29 April nanti.

Statuta FIFA Pasal 31 Ayat 2: The Executive Committee shall convene an extraordinary congress if 2/3 (two-thirds) of the members of PSSI make such a request in writing. The request shall specify the items for the agenda. An extraordinary congress shall be held within three months of receipt of the request. If an extraordinary congress is not convened, the members who requested it may convene the congress themselves. As a last resort, the members may request assistence from FIFA. Terjemahan bebasnya: ”Komite Eksekutif akan mengadakan kongres luar biasa apabila diminta secara tertulis oleh dua per tiga anggota PSSI. Permintaan itu harus mencantumkan agenda yang akan dibicarakan. Kongres luar biasa harus diadakan dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah permintaan tersebut diterima. Jika kongres luar biasa tidak diterima, anggota dapat menggelar kongres sendiri. Sebagai usaha terakhir, anggota dapat meminta bantuan FIFA untuk hadir dalam kongres.”

KN tinggal melengkapi kekurangan-kekurangan KP dan KB saat ini sehingga akan tercipta sebuah kongres yang berlangsung jujur, transparan, dan dapat diterima. Bagaimanapun, sebanyak 78 anggota pemegang suara memiliki legitimasi kuat untuk menggelar kongres. Kedaulatan tertinggi ada di tangan anggota sehingga KN sebaiknya mendengar dan menampung aspirasi mereka.

Apa pun keputusan yang diambil KN, termasuk mendukung keputusan kongres Pekanbaru tentu akan diterima FIFA. Mengapa? Karena FIFA jelas tidak mungkin menganulir keputusan KN yang mereka bentuk sendiri

Wednesday, March 9, 2011

FIFA Juga Tolak Pencalonan Toisutta dan Arifin

Ketua umum PSM Makasar, Ilham Sirajudin, Manager Persema Malang, Asmuri, dan Direktur Persib, Umuh Muchtar (kanan-kiri), berjabat tangan dengan KSAD Jendral TNI George Toisutta (kiri), usai acara dukungan kepada George untuk maju sebagai calon Ketua PSSI, di Mabes Angkatan Darat, Jakarta Pusat, Rabu (2/2/2011). Namun, selain menolak Nurdin Halid mencalonkan diri sebagai ketua umum PSSI, FIFA juga menolak Toisutta, Arifin Panigoro, dan Nirwan Bakrie.

JAKARTA, KOMPAS.com — Selain Nurdin Halid, FIFA juga melarang Arifin Panigoro, Nirwan Bakrie, dan George Toisutta untuk dicalonkan pada Kongres PSSI yang mengagendakan pemilihan ketua dan wakil ketua serta anggota Komite Eksekutif (Exco) periode 2011-2015.

Hal itu merupakan hasil pertemuan Ketua Umum KONI Rita Subowo dengan Presiden FIFA Joseph "Sepp" Blatter di Zurich, Swiss, Selasa (8/3/2011). Rita menjelaskan, Blatter melarang Nurdin maju karena statusnya yang merupakan mantan narapidana yang dinilai melanggar Statuta FIFA. Tidak hanya itu, Blatter juga menolak ketiga calon yang digugurkan oleh Komite Banding untuk dicalonkan pada kongres pemilihan pengurus baru PSSI.

"Kalau Pak Nurdin karena statuta dan yang tiga (calon lain) karena hasil Komite Banding. Kalau melanggar, PSSI dapat serious suspension," kata Rita, lewat pesan singkat kepada Kompas.com, Rabu (9/3/2011) dini hari WIB.

Bulan lalu, Komite Pemilihan mengumumkan hasil verifikasi mereka atas calon ketua umum PSSI periode 2011-2015. Dalam proses verifikasi itu, Komite Pemilihan meloloskan Nurdin dan Nirwan sebagai calon ketua umum baru serta menggugurkan Arifin dan Toisutta.

Tidak terima dengan hasil itu, Arifin dan Toisutta mengajukan banding. Namun, Komite Banding tidak mengabulkan banding kedua bakal calon pimpinan PSSI tersebut. Pada waktu bersamaan, Komite Banding juga menolak hasil verifikasi terhadap Nurdin dan Nirwan sehingga keduanya pun gugur dari pencalonan.

Karena tidak ada calon yang bisa dipilih, PSSI menunda penyelenggaraan kongres yang seyogianya diselenggarakan di Bali pada 26 Maret. FIFA kemudian meminta PSSI untuk membentuk Komite Pemilihan pada 26 Maret. Atas perintah FIFA pula, Kongres Pemilihan harus sudah digelar sebelum 30 April.