Saturday, June 16, 2012

Beria Terakhir dan Fakta Unik Rusia

Suporter Rusia menggelar bendera raksasa di Stadion Nasional Warsawa, Selasa (12/6/2012), jelang laga melawan tuan rumah Polandia.

WARSAWA, KOMPAS.com - Berikut adalah fakta unik dan berita terakhir seputar tim Rusia di Euro 2012.

* Rusia tak terkalahkan dalam 15 pertandingan dengan memenangi delapan laga di antaranya. Kekalahan terakhir diderita saat dilipat Iran 0-1 pada 9 Februari 2011.

* Rusia hanya kebobolan tiga gol dalam 12 partai terakhirnya.

* Roman Shirokov sudah mencetak tiga gol dalam dua laga terakhirnya bersama Rusia.

* Alan Dzagoev --pencetak dua gol ke gawang Republik Ceko-- berangkat ke Euro 2012 dengan performa terburuk sepanjang kariernya di Liga Rusia. Ia hanya mencetak lima gol dalam 31 partai liga CSKA Moskwa.

* Igor Akinfeev tampil saat meladeni Lithuania pada 29 Mei. Itu adalah penampilan perdananya sejak 10 Agustus 2011. Akinfeev harus absen 7,5 bulan akibat cedera lutut.

* Bek Roman Shishkin (cedera perut) dan Vasili Berezutski (cedera pinggang) dicoret dari skuad Euro 2012.

Berita Terakhir dan Fakta Unik Polandia

Suporter Polandia berpose jelang pertandingan tim kesayangannya melawan Rusia di Stadion Nasional Warsawa, Selasa (12/6/2012).

WARSAWA, KOMPAS.com - Berikut adalah berita-berita terakhir timnas Polandia beserta sejumlah fakta uniknya.

* Wojciech Szczesny absen satu partai akibat kartu merahnya saat melawan Yunani, Jumat (8/6/2012). Ia menjadi pemain ke-35 yang dikenaik kartu merah sepanjang sejarah Euro.

* Robert Lewandowski, pencetak gol pertama Euro 2012, sudah mencetak tujuh gol dalam lima penampilannya bersama klub dan timnasnya.

* Polandia mencatatkan rekor nasional tak pernah kebobolan dalam 512 menit sebelum dibobol gelandang Yunani Dimitrios Salpingidis, Jumat (8/6/2012). Catatan itu diawali setelah kebobolan jala Polandia yang dijaga Tamas Priskin ketika negara itu kalah 1-2 dari Hungaria pada 15 November 2012.

* Polandia sudah memenangi lima dari tujuh pertandingan terakhir. Dua lainnya berakhir imbang.

* Partai pembuka Euro 2012 adalah ajang kompetitif pertama Franciszek Smuda sebagai pelatih sebuah timnas. Sejak terpilih menangani Polandia, Smuda hanya menakhodai timnasnya di partai-partai uji coba.

* Lewandowski terpilih sebagai Man of The Match partai pembuka Euro 2012 berkat golnya ke gawang Yunani.

* Damien Perquis keluar dari tim karena tulang sikutnya retak. Ia absen sejak 3 Maret lalu dan baru kembali pada laga melawan Slowakia 26 Mei lalu.

* Lukasz Fabianski dicoret dari timnas Polandia pada 26 Mei lalu karena cedera bahu yang didapat saat latihan. Tempatnya digantikan Grzegorz Sandomierski yang tiba dari berlibur di Tenerife, Spanyol.

* Grzgorz Wojtkowiak akan bergabung dengan klub Bundesliga 2 TSV Muenchen pasca-Euro 2012.

Berita Terakhir dan Fakta Unik Rusia

Suporter Rusia menggelar bendera raksasa di Stadion Nasional Warsawa, Selasa (12/6/2012), jelang laga melawan tuan rumah Polandia.

WARSAWA, KOMPAS.com - Berikut adalah fakta unik dan berita terakhir seputar tim Rusia di Euro 2012.

* Rusia tak terkalahkan dalam 15 pertandingan dengan memenangi delapan laga di antaranya. Kekalahan terakhir diderita saat dilipat Iran 0-1 pada 9 Februari 2011.

* Rusia hanya kebobolan tiga gol dalam 12 partai terakhirnya.

* Roman Shirokov sudah mencetak tiga gol dalam dua laga terakhirnya bersama Rusia.

* Alan Dzagoev --pencetak dua gol ke gawang Republik Ceko-- berangkat ke Euro 2012 dengan performa terburuk sepanjang kariernya di Liga Rusia. Ia hanya mencetak lima gol dalam 31 partai liga CSKA Moskwa.

* Igor Akinfeev tampil saat meladeni Lithuania pada 29 Mei. Itu adalah penampilan perdananya sejak 10 Agustus 2011. Akinfeev harus absen 7,5 bulan akibat cedera lutut.

* Bek Roman Shishkin (cedera perut) dan Vasili Berezutski (cedera pinggang) dicoret dari skuad Euro 2012.

Blanc: Ukraina Bersemangat, Perancis Tetap pada Rencana

Pelatih tim nasional Perancis, Laurent Blanc, saat memberikan keterangan kepada pers, di Donetsk, Selasa (12/6/2012).

DONETSK, KOMPAS.com - Ukraina menjadi satu-satunya yang meraih kemenangan pada laga perdana Grup D Piala Eropa, yaitu 2-1 atas Swedia, 11 Juni kemarin. Dengan begitu, mereka akan memastikan diri masuk perempat final, jika mampu menang pada laga kedua, yaitu melawan Perancis, di Donbass Arena, Jumat (15/6/2012).

Pelatih Perancis, Laurent Blanc, menilai timnya akan menghadapi situasi lebih sulit, mengingat Ukraina berstatus tuan rumah. Meski begitu, Blanc mengaku akan tetap menjalankan program yang sudah disiapkan.

"Orang-orang akan memberikan dukungan lebih besar dibanding sebelumnya kepada Ukraina. Itu akan menjadi pertandingan yang sulit. Itu sudah pasti. Namun, kami akan menyiapkan diri kami dengan cara sesuai yang sudah kami rencanakan," aku Blanc.

Sepasang gol Ukraina ke gawang Swedia, dicetak penyerang Andriy Shevchenko. Dalam perjalanan pulang setelah laga melawan Swedia itu, Shevchenko mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarainya ditabrak mobil dari belakang. Menurut harian Ukraina, Segodnya, Shevchenko tidak mengalami cedera.

Friday, June 15, 2012

Ceko Bidik Polandia

Pelatih Ceko, Michal Bilek.

WROCLAW, KOMPAS.com - Setelah mengempaskan Yunani 2-1, Ceko kini membidik poin penuh saat bertemu dengan tuan rumah, Polandia dalam laga terakhir penyisihan Grup A, Minggu (17/6/2012). Pelatih Ceko, Michal BĂ­lek, mengatakan, tiga poin adalah harga mati bagi Rusia jika ingin lolos ke perempat final.

Dengan kemenangan itu, Ceko bertengger sebagai runner-up sementara dengan tiga poin, kalah satu angka dari Rusia yang berada di posisi puncak. Namun, Polandia, yang berada di posisi tiga dengan dua angka, dapat mengubur impian Ceko jika mampu meraih kemenangan dalam laga nanti.

"Kami senang masih diberikan kesempatan untuk lolos. Kami tahu akan menjadi akhir segalanya jika kami kalah (dari Yunani). Jadi, kami harus berjuang di laga terakhir dan meraih poin dari pertandingan itu," ujar Bilek.

Saat melawan Yunani, Ceko unggul cepat setelah Petr Jiracek dan Vaclav Pilar hanya butuh enam menit awal untuk mengubah skor menjadi 2-0. Akan tetapi, di paruh kedua, blunder kiper Petr Cech, membuat Yunani sukses memperkecil ketertinggalan. Beruntung, meski terus ditekan hingga menit-menit akhir, kemenangan Rusia berskor 2-1 tidak berubah hingga peluit panjang ditiupkan.

"Kami cukup beruntung dapat mencetak dua gol. Di babak pertama, kami tampil cukup baik dengan kombinasi serangan yang berbahaya. Tetapi, babak kedua sedikit sulit ketika Tomas Rosicky tidak bisa bermain. Apalagi, kami kebobolan dengan sangat buruk. Itu memberikan Yunani harapan," kata Bilek.

"Saya mengangkat topi pada untuk penampilan seluruh tim. Mereka bermain sangat baik dan tak satu pun pemain yang bermain tidak memuaskan dalam pertandingan malam ini," tegasnya.

Justin: Belanda Harus Mainkan VdV dan Huntelaar

Justinus Lhaksana berharap Bert van Marwijk dapat memainkan Rafael van der Vaart saat melawan Jerman, Rabu (13/6/2012) malam.

KHARKIV, KOMPAS.com - Belanda akan melakoni laga hidup mati melawan Jerman di Grup B Piala Eropa 2012, Rabu (13/6/2012). Bagi Robin van Persie dan kawan-kawan, gagal menang atas Jerman berarti mereka harus angkat koper dari Ukraina dan Polandia.

"Bisa saja Belanda menang. Namun, beberapa faktor yang harus dipertimbangkan," jelas penanggung jawab timnas futsal Indonesia Justinus Lhaksana kepada Kompas.com, Rabu pagi.

Justin berpendapat, biang hasil buruk pada partai perdana Belanda adalah tumpulnya lini depan. Lini tengah juga kosong saat Denmark melakukan counter attack.

Di lini depan, Justin berharap Pelatih Bert Van Marwijk menurunkan Klaas-Jan Huntelaar sebagai starter bersama Van Persie dan Arjen Robben.

"Van Marwijk harus berani memainkan Huntelaar. Nantinya, Van Persie pindah ke kiri menggantikan Afellay. Soalnya, Van Persie itu shadow striker," ujarnya.

Demi menunjang kinerja penyerang, Justin menilai, Van Marwijk juga harus berani memainkan sekaligus dua gelandang kreatif, yakni Wesley Sneijder dan Rafael van der Vaart.

Tidak hanya itu, Sneijder dan Van der Vaart, lanjut Justin, dapat meredam lini tengah Jerman yang diisi Sami Khedira, Mesut Oezil, dan Bastian Schweinsteiger.

"Jadi Belanda akan unggul di tengah jika memasukkan pemain kreatif. Sementara Mark van Bommel enggak usah membantu serangan seperti saat melawan Denmark. Sebagai gelandang bertahan, dia fokus menahan serangan balik sehingga enggak ketinggalan terus. Nigel de Jong lebih baik dicadangkan," tutur mantan pelatih timnas futsal tersebut.

"Belanda harus berani memainkan satu gelandang bertahan karena mereka harus menekan. Nah, sekarang tinggal Van Marwijk punya nyali atau enggak," lanjutnya.

Justin yang kerap menjadi komentator di sebuah stasiun televisi swasta merupakan pendukung fanatik Belanda. Maklum, Justin pernah tinggal selama 20 tahun di "Negeri Kincir Angin".

Kesempatan Ceko Terbuka

Gelandang Ceko, Vaclav Pilar (kiri) usai mencetak gol kedua ke gawang Yunani dalam lanjutan penyisihan grup A, Senin (12/6/2012).

WROCLAW, KOMPAS.com - Setelah kalah 1-4 dari Rusia, Ceko memulai pertandingan kedua dengan berapi-api. Pada pertandingan melawan Yunani di Stadion Municipal, Wroclaw, Polandia, Selasa (12/6/2012), Ceko menang 2-1. Hasil gemilang itu membuat runner up Piala Eropa 1996 itu membuka kesempatan maju ke delapan besar.

Baru dua menit 17 detik setelah wasit Stephane Lannoy meniup peluit kick off, gelandang tengah Ceko, Thomas Hubschman, menemukan ruang kosong yang ditinggalkan bek Kyriakos Papadopoulos. Umpan terobosan lurus sangat terarah disambut baik oleh Petr Jiracek.

Jose Holebas dan kapten Yunani Giorgos Karagounis berupaya menghadang Jiracek, pemain setinggi 180 cm itu. Namun, mereka kalah langkah. Kiper Kostas Chalkias masih berupaya menepis tendangan keras pemain CfL Wolfsburg, Jerman, berusia 26 tahun itu. Namun, bola tetap masuk ke gawang.

Tertinggal 0-1 membuat Yunani meningkatkan tekanan. Namun, Michal Kadlec, Tomas Sivok, dan David Limbersky yang mengawal pertahanan Ceko bermain apik, menjaga area gawang yang dijaga Petr Cech. Bahkan, bek kanan Theo Gebre Selassie bermain jauh ke depan membantu penyerangan.

Di menit keenam, umpan terobosan Tomas Rosicky yang terarah ke samping kanan gawang bisa ditarik Selassie ke depan gawang. Gelandang Vaclav Pilar sudah menunggu. Meski dihalangi dua pemain belakang Yunani, Kostas Katsouranis dan Vasilis Torosidis, pemain klub Viktoria Plzen itu berhasil menyentuh bola sembari menjatuhkan badan. Gol kembali tercipta.

Unggul dua gol, tempo permainan Ceko tidak kendur. Sorakan pendukung Ceko membuat Stadion Wroclaw terus bergema. Menit ke-18, lagi-lagi Pilar terlepas dari kawalan di dekat kotak penalti, tetapi tendangan menyusur tanahnya masih jauh dari sudut kanan gawang Chalkias.

Tidak berapa lama, Chalkias digantikan oleh Michalis Sifakis karena paha kanannya cedera. Kiper pengganti itu bermain cukup apik. Setidaknya dia dapat menghalangi tendangan keras Rosicky ke sudut kanan gawangnya pada menit ke-28. Bola hanya menghasilkan tendangan pojok.

Peluang emas Yunani akhirnya muncul di menit ke-40 tatkala umpan menyilang Torosisidis dari kanan dapat disambar Fotakis dengan kepalanya. Bola masuk ke gawang Cech. Hanya saja, gol dianulir karena hakim garis mengangkat bendera kuning. Off-side.

Di awal babak kedua, keberuntungan mulai memihak Yunani. Umpan Holebas dari sisi kiri diselesaikan oleh Samaras dengan sebuah tendangan lemah ke arah kotak penalti Ceko.

Cech tampak tidak berupaya keras karena bola tidak mengarah ke gawangnya. Hanya saja, pemain belakang Ceko, Tomas Sivok, ingin menghalau bola. Terjadi miskomunikasi sehingga bola terlepas dari jangkauan Cech.
Theofanis Gekas, pemain klub Hertha Berlin, yang berdiri bebas, dengan mudah menyontek bola ke gawang Cech untuk mengubah kedudukan jadi 2-1.

Setelah gol itu, pemain Yunani semakin bersemangat untuk menyamakan kedudukan. Di lain pihak, posisi lapangan tengah Ceko yang semula dinamis berubah melemah setelah Rosicky keluar lapangan digantikan Daniel Kolar karena cedera.

Persinggungan antarpemain semakin tajam sehingga wasit harus mengeluarkan enam kartu kuning, terbagi rata di dua tim.

Tekanan Yunani semakin gencar mendekati menit-menit akhir, tetapi gagal menghasilkan gol. Serangan balik Ceko kandas.

Pelatih Ceko Michal Bilek mengganti penyerang Milan Baros dengan Thomas Pekhart untuk mempertajam serangan. Namun, penggantian itu tidak banyak mengubah kedudukan.

”Bagi kami, pertandingan sudah buruk sejak awal. Kami tahu mereka akan menekan, kami gagal merespons. Kami berusaha keras menyamakan skor, tetapi gagal,” kata Pelatih Yunani Fernando Santos.

Dipaksa Tampil, Rosicky Dibekap Cedera

Kapten dan gelandang Republik Ceko Tomas Rosicky saat konferensi pers di Stadion Wroclaw, Polandia, Senin (11/6/2012).

WROCLAW, KOMPAS.com - Kemenangan 2-1 Republik Ceko atas Yunani harus dibayar mahal, Selasa atau Rabu (13/6/2012) dinihari WIB. Yup, Kapten Tomas Rosicky berpotensi absen dalam laga selanjutnya.

"Tendon Achilles saya bermasalah dan saya tak tahu apa yang akan terjadi. Saya takut," katanya yang dikutip Sports Illustrated.

Gelandang Arsenal itu memberi tanda rekan-rekannya sesaat sebelum jeda agar tak mengirimkannya umpan lagi.  Ia pun digantikan Daniel Kolar selepas turun minum.

"Dari menit ke-20 saya sudah susah berjalan," katanya.

Di paruh selanjutnya, Yunani berhasil memperkecil ketertinggalan. Ceko pun keteteran.

"Saya tak menyaksikan babak kedua," ujar Rosicky yang langsung ditangani tim medis Ceko begitu keluar dari lapangan.

"Sebuah kehilangan besar jika kami harus bermain tanpa Tomas. Tentu saja ia pemain penting bagi kami dan permainan kami jauh berkurang (di babak kedua)," ucap Vaclav Pilar, pencipta gol kedua Ceko di menit keenam.

Ceko akan menghadapi Polandia dalam pertandingan terakhir Grup A, Sabtu (16/6/2012).

Dzagoev Bawa Rusia Tinggalkan Polandia

Penyerang Rusia, Alan Dzagoev (kedua dari kiri), melihat bola hasil tembakannya melesat masuk gawang Polandia, pada laga kedua Grup A Piala Eropa 2012, di Stadion Nasional Warsawa, Selasa (12/6/2012).

WARSAWA, KOMPAS.com - Penyerang Alan Dzagoev mencetak gol yang membawa Rusia unggul 1-0 atas Polandia, hingga turun minum pertandingan kedua Grup A, di Stadion Nasional Warsawa, Selasa (12/6/2012).

Gol Dzagoev tercipta pada menit ke-37. Dalam kawalan sejumlah pemain lawan di kotak penalti, ia  membelokkan dengan pundak kanannya bola kiriman Andrei Arshavin ke sudut kiri atas gawang.

Rusia bermain agresif dan mendominasi permainan sejak awal. Namun, pada momen-momen krusial, mereka melakukan kesalahan umpan dan koordinasi, sehingga serangan tak tuntas dengan eksekusi akurat.

Pada menit ke-15, misalnya, Roman Shirokov mengirim umpan kepada Alexander Kerzhakov. Namun, Kerzhakov tidak siap, sehingga bola bisa dikuasai Przemyslaw Tyton.

Polandia sendiri bukannya tanpa perlawanan. Sejumlah serangan mereka berakhir dengan eksekusi, yang gagal membuahkan gol karena performa kiper Vyacheslav Malafeev.

Pada menit ketujuh, misalnya, Ludovic Obraniak melepaskan tembakan keras, yang dibendung Malafeev. Pada menit ke-40, giliran Kuba yang melihat bola hasil tembakannya dikandaskan Malafeev.

Menurut catatan UEFA, selama paruh pertama, Rusia menguasai bola sebanyak 57 persen dan melepaskan dua tembakan akurat dari enam usaha. Adapun Polandia menciptakan tiga peluang emas dari lima percobaan.

Susunan pemain
Polandia:
22-Przemyslaw Tyton, 15-Damien Perquis, 13-Marcin Wasilewski, 2-Sebastian Boenisch, 20-Lukasz Piszczek, 5-Dariusz Dudka, 7-Eugen Polanski, 10-Ludovic Obraniak, 16-Jakub "Kuba" Blaszczykowski, 9-Robert Lewandowski, 11-Rafal Murawski

Rusia: 16-Vyacheslav Malafeev, 4-Sergei Ignashevich, 12-Alexei Berezutsky, 5-Yuri Zhirkov, 2-Alexander Anyukov, 7-Igor Denisov, 8-Konstantin Zyryanov, 6-Roman Shirokov, 10-Andrei Arshavin, 11-Alexander Kerzhakov 17-Alan Dzagoev

Wasit: Wolfgang Stark

Legenda Madrid, Pahino, Tutup Usia

Legenda Real Madrid, Pahino.

MADRID, KOMPAS.com - Legenda Real Madrid, Manuel Fernandez Fernandez "Pahino" meninggal dunia pada usia 89 tahun, di Madrid, Selasa (12/6/2012). Melalui situs resminya, Madrid mengucapkan ikut berduka cita kepada keluarga.

Pahino lahir di San Paio de Navia pada 21 Januari 1923. Ia memulai karier di Arenas Alcabre, kemudian bergabung dengan tim yunior Celta Vigo. Pada 1948, ia bergabung dengan Real Madrid dan menjadi pencetak gol terbanyak La Liga 1951-1952 dengan 28 gol.

Pahino bermain untuk Madrid hingga 1953. Selama periode tersebut, ia mencetak 124 gol dalam 144 pertandingan. 

Thursday, June 14, 2012

Antara Maestro, Llama, dan 80 Persen

Pelatih Jerman Joachim Loew memimpin latihan tim di Stadion Metalist, Kharkiv, Selasa (12/6/2012).

KHARKIV, KOMPAS.com - Pertemuan klasik yang sayang untuk dilewatkan. Ukraina beruntung menjadi tuan rumah pertemuan dua raksasa yang memiliki sejarah rivalitas abadi di lapangan hijau.

Final Piala Dunia 1974 mencatatkan dua maestro terbesar sepak bola saat itu. Dua kapten, Franz Beckenbauer memimpin Jerman, dan Johan Cruyff dengan pasukan Total Football-nya. Belanda harus kalah namun mereka membalas 14 tahun kemudian.

Adalah trio Belanda --Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten-- di bawah nakhoda Rinus Michels. "Armada Kincir Angin" membenamkan Jerman di semifinal Euro 1988 dan membawa pulang trofi juara setelah melipat Uni Soviet di bawah komando Pelatih Valeriy Lobanovskyi.

Dua tahun berselang, duel dua negara legendaris itu berlanjut di perdelapan final Piala Dunia 1990. Insiden pada menit ke-22 membuat wasit mencabut kartu merah untuk Rudi Voeller dan Rijkaard. Sebelum keluar lapangan keduanya sempat beradu mulut.

Di pinggir lapangan, Rijkaard sempat mengirimkan ludah kepada Voeller yang dengan terkejut meraba rambut keritingnya. Untungnya, striker yang saat itu bermain untuk AS Roma dapat meredam emosinya dan tak termakan provokasi Rijkaard.

Namun, media Jerman lantas sinis menyebut Rijkaard sebagai Llama, fauna yang punya kebiasaan meludah.

Lima bulan setelahnya, Rijkaard meminta maaf ketika AC Milan bertemu dengan Roma di Serie-A.

"Saat itu saya salah. Tak ada maksud untuk melecehkan. Saya sangat menghormati Rudi Voeller. Setelah beberapa lama saya bertemu lagi dengannya dan meminta maaf. Saya senang ia menerimanya. Saya tak punya prasangka buruk apa pun terhadapnya. Kami bahkan sempat bersama membintangi iklan yang lucu beberapa tahun berselang," ucap Rijkaard.

Ia juga mengaku khilaf karena emosinya tengah meninggi akibat harus berpisah dengan sang istri jelang Piala Dunia 1990.

Rabu malam, Rijkaard dan Voeller tak akan bertemu di lapangan. Maklum saja, keduanya sudah gantung sepatu. Namun, memori panas keduanya telanjur melegenda.

UEFA mencatat Jerman berada di depan Belanda dalam tiga duel terakhir. "Die Mannschaft" menang sekali dan mencatatkan hasil imbang dua kali.

"De Oranje" sendiri mencatatkan kemenangan pamungkas sepuluh tahun lalu. Hebatnya, kemenangan 3-1 itu dicatatkan di depan publik Jerman di Gelsenkirchen.

Sementara, "Tim Panser" membukukan kemenangan terakhir ketiga berlaga uji coba di Hamburg, November 2011. Belanda disikat tiga gol tanpa balas.

Bundestrainer --pelatih Jerman-- Joachim Loew pun tak mau main-main dengan partai malam nanti.

"Partai legendaris sepanjang sejarah turnamen. Itu akan jadi laga menarik dan terbaik dalam 20-30 tahun ini," sebut Loew yang dikutip UEFA.

Ia sempat marah besar dan menghentikan latih tanding ringan di Stadion Metalist, Kharkiv, Selasa (12/6/2012), ketika Mats Hummels mengirimkan umpan yang buruk

"Delapan puluh persen tidak cukup. Kalian tak dapat melakukannya besok (hari ini). Kalau kalian hanya memberikan 800 persen, kita akan mendapatkan masalah. Kalian harus bermain seperti ketika di Hamburg!" ucap Loew keras kepada anak asuhnya.

Loew, seperti dikutip koran Jerman Bild, melihat performa armadanya belum seperti yang dinginkan. Dan ia ingin para pemain itu memberikan permainan seperti saat terakhir menyikat Belanda di Hamburg.

Permainan Jerman ketika melipat Portugal di partai perdana Euro 2012 menurut Loew belum seratus persen seperti yang diinginkannya.

Sementara Bert van Marwijk, pelatih Belanda, mengungkapkan tensi di pemusatan latihannya sedang meninggi menyusul kekalahan 0-1 dari Denmark.

Yang pasti, jika kedua tim legendaris itu bertemu dalam sebuah turnamen besar, pemenangnya akan mencium trofi jawaranya. Paling tidak, hal itu sudah dibuktikan di Piala Dunia 1974, Piala Eropa 1988, dan Piala Dunia 1990.

Advocaat: Gol Kuba Indah

Pelatih tim nasional Rusia, Dick Advocaat, pada pertandingan kedua Grup A Piala Eropa 2012, di Stadion Nasional Warsawa, Selasa (12/6/2012).

WARSAWA, KOMPAS.com - Pelatih Rusia, Dick Advocaat, menilai cukup bagus hasil imbang 1-1 yang diraih timnya saat melawan Polandia, di Stadion Nasional Warsawa, Selasa (12/6/2012), mengingat Polandia berstatus tuan rumah. Ia juga menyebut pencetak gol Polandia, Jakub "Kuba" Blaszczykowski, layak disebut pemain terbaik laga tersebut.

Rusia unggul lebih dulu melalui Alan Dzagoev pada menit ke-37. Di tengah kawalan pemain lawan, ia mengirim umpan Andrei Arshavin masuk sudut kiri atas gawang dengan pundak kanannya.

20 menit kemudian, Kuba membawa Polandia menyamakan kedudukan. Dengan kaki kiri, ia melesatkan bola dari tengah kotak penalti, ke sudut kanan atas gawang.

Menurut catatan UEFA, sepanjang laga Rusia menguasai bola sebanyak 57 persen dan menciptakan tiga peluang emas dari tujuh usaha. Adapun Polandia melepaskan sembilan tembakan akurat dari 15 percobaan. Meski begitu, Advocaat menilai timnya bermain lebih baik dari Polandia.

"Rusia bermain lebih baik dan Igor Denisov bermain sangat baik. Namun, ketika Anda mencetak gol seperti (gol Kuba), Anda pasti adalah pemain yang bagus. Itu gol yang indah. Mungkin, ia adalah pemain terbaik pertandingan tadi, tetapi bagi kami, pemain terbaik adalah Denisov," ujar Advocaat.

"Saya pikir, Rusia bermain lebih baik ketimbang Polandia, hari ini. Namun, tadi itu adalah pertandingan yang sangat bagus dan kami bermain sangat baik. Hasil (1-1) cukup bagus karena (Polandia) didukung 40.000 orang dan itu adalah keuntungan besar."

"Pada laga pertama (melawan Ceko, 8 Juni lalu), kami menang 4-1, tetapi laga (melawan Polandia) ini seperti laga tandang dan Anda hanya mengakui bahwa gol (Kuba) indah."

"Jika objektif, Anda akan mengatakan kedua tim bekerja keras, tetapi penguasaan bola Rusia lebih baik dan menciptakan peluang. Namun, Anda harus memberikan pujian kepada kedua tim untuk cara mereka bermain," tuturnya.

Dengan hasil imbang itu, Rusia menguasai klasemen dengan empat poin, atau unggul satu angka dari pesaing terdekat, Ceko. Pada laga terakhir, sementara Rusia akan bertemu Yunani, Ceko akan bertemu Polandia, 16 Juni mendatang.

Jakub Membuka Peluang Pasukan Smuda

Suporter Polandia berpose jelang pertandingan tim kesayangannya melawan Rusia di Stadion Nasional Warsawa, Selasa (12/6/2012).

WARSAWA, KOMPAS.com - Menerima umpan terobosan Eugen Polanski di sisi kiri pertahanan Rusia, gelandang serang Polandia, Jakub Blaszczykowski, berlari mendekati ujung kiri kotak penalti. Ancang-ancang dua langkah, Jakub dengan kaki kiri, menyepak bola terarah ke sudut kanan gawang dan tak terjangkau kiper Vyacheslav Malafeev.

Peluang pasukan ”Smuda” Polandia terbuka. Gol di menit ke-57 itu menyamakan kedudukan. Polandia-Rusia 1-1 (0-1) dalam laga kedua Grup A di Warsawa, Selasa (12/6/2012).

Gol semata wayang Blaszczykowski itu membuat puluhan ribu pendukung tim tuan rumah yang memenuhi Stadion Nasional bersuka cita. Wajah muram puluhan ribu pendukung tim Putih-Merah yang tampak sepanjang babak pertama, sirna setelah sang kapten melesakkan bola ke gawang Rusia.

Lambaian bendera, syal hingga topi yang melambangkan dukungan para penonton terlihat di seluruh sudut stadion. Blaszczykowski yang lebih banyak bermain sebagai gelandang kanan, langsung diserbu rekan-rekannya seusai mencetak gol.

Hasil seri 1-1 melawan pasukan pelatih Dick Advocaat itu membuat Polandia berada di posisi ketiga klasemen sementara grup A dengan skor dua. Rusia memuncaki klasemen grup A dengan skor empat, hasil sekali menang, sekali seri. Yunani, kampiun Piala Eropa 2004, menduduki posisi buncit klasemen dengan nilai satu, hasil sekali seri dan sekali kalah.

Gol tunggal tim Beruang Merah-Rusia ke gawang Polandia yang dikawal Przemyslaw Tyton diciptakan Alan Dzagoyez pada menit ke-37, hasil tendangan bebas Andrey Arshavin dari sisi kanan wilayah pertahanan Polandia. Gol tersebut membuat Dzagoyez memimpin sebagai pencetak gol terbanyak sementara di perhelatan final Piala Eropa dengan tiga gol dari dua kali bertanding.

Bermain cepat
Hasil mengecewakan pada laga pertama, membuat Smuda sedikit mengubah taktik dengan menempatkan Rafal Murawski sebagai gelandang serang persis dibawah Robert Lewandowski, untuk membantu daya serang Polandia. Terbukti, 30 menit pertama babak, setidaknya tiga peluang emas tercipta meski tidak berbuah gol.

Menit ke-17, Eugen Polanski, menerima umpan terobosan Lewadowski di dalam kotak penalti Rusia dan menjebol gawang Rusia. Namun, gol itu dianulir wasit karena Polanski telah berada dalam posisi offside.

Lewandowski yang diandalkan sebagai penyerang tunggal, tidak mampu berbuat banyak menerobos pertahanan Rusia. Dijaga ketat secara bergantian oleh Igor Denisov dan Alexei Berezutski, penyerang Borussia Dortmund ini tidak mampu menunjukkan tajinya di lini depan Polandia.

Penjagaan yang ketat dan permainan keras lini belakang Rusia membuat Lewandowski sedikit lepas kendali. Penyerang yang telah mengoleksi 13 gol dari 40 kali penampilannya bersama timnas, mendapat kartu kuning pada menit ke-60 setelah bersitegang dengan Denisov.

Rusia sebenarnya bisa menambah gol melalui kaki Dzagoyev ketika menerima umpan mendatar Alexander Kerzhakov di depan kotak penalti Polandia. Tapi, tendangan kaki kirinya masih mampu ditahan oleh Pyton.

Untuk lolos dari grup D, Polandia tinggal menghadapi tim Republik Ceko yang mampu menggilas Yunani pada Minggu (17/6/2012) mendatang. 

Santos: Dua Gol Ceko Terlalu Cepat

Pelatih Yunani Fernando Santos sedang mengawasi latihan tim di Stadion Municipal, Legionowo, Polandia, Minggu (10/6/2012).

WROCLAW, KOMPAS.com - Pelatih Yunani, Fernando Santos mengaku kecewa dengan kekalahan 1-2 timnya atas Ceko dalam laga lanjutan penyisihan Grup A di Stadion Municipal, Senin (12/6/2012). Ia menyesalkan dua gol cepat yang terjadi pada menit-menit awal pertandingan.

Ceko hanya butuh waktu enam menit di awal babak pertama untuk unggul 2-0 dalam laga tersebut. Petr Jiracek mencetak gol pada menit ke-3. Tiga menit berselang giliran Vaclav Pilar yang menorehkan namanya di papan skor.

Pada paruh kedua, permainan Yunani lebih baik. Setelah memperkecil ketertinggalan melalui Theofanis Gekas pada menit ke-53. Meski lebih mendominasi, kampiun Eropa 2004 itu harus rela kalah karena tak mampu menyamakan kedudukan hingga pertandingan berakhir.

"Pertandingan dimulai dengan sangat buruk. Kami tertinggal di awal dan kami tahu itu mungkin akan terjadi. Mereka melihat laga perdana kami dan kami tahu mereka akan keluar menyerang dan mencoba mendominasi," ujar Santos.

"Kami telah mengerahkan segalanya untuk menyamakan kedudukan, sama seperti ketika melawan Polandia. Tapi, hal itu sangat sulit di pertandingan malam ini," katanya lagi.

Dengan kekalahan tersebut, Yunani kini berada di dasar klasemen dengan satu poin. Meski peluang untuk lolos ke babak perempat final kecil, Santos menilai anak asuhnya masih punya kesempatan di laga terakhir melawan Rusia, Minggu (17/6/2012).

"Sekarang kami harus fokus untuk pertandingan selanjutnya. Harapan (lolos) memang kecil, tetapi kami masih mempunyai kesempatan," tegas Santos.

Kuba: Golku Sangat Indah

Gelandang Polandia, Jakub Blaszczykowski, setelah pertandingan Grup A Piala Eropa 2012 melawan Rusia, di Stadion Nasional Warsawa, Selasa (12/6/2012).

WARSAWA, KOMPAS.com - Gelandang Polandia, Jakub "Kuba" Blaszczykowski, menilai sangat indah golnya ke gawang Rusia, yang berujung hasil 1-1, pada pertandingan Grup A Piala Eropa 2012, di Stadion Nasional Warsawa, Selasa (12/6/2012). Menurutnya, hasil itu merupakan modal penting bagi Polandia menghadapi laga terakhir, yaitu melawan Ceko, 16 Juni mendatang.

Polandia tertinggal lebih dulu akibat gol Alan Dzagoev pada menit ke-37. Ia menaklukkan gawang Przemyslaw Tyton dengan memanfaatkan umpan Andrei Arshavin.

Kuba mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-57. Dari tengah kotak penalti, ia melepaskan tendangan kaki kiri, yang membuat bola melesat masuk sudut kanan atas gawang Vyacheslav Malafeev.

Dengan hasil tersebut, Polandia duduk di tempat ketiga dengan dua poin. Mereka kalah satu angka dari Ceko dan dua angka dari Rusia.

"Itu pertandingan yang sangat berat. Rusia menunjukkan bahwa mereka tim kuat. Aku baru saja melihat golku di televisi. Aku pikir, aku mendapat umpan bagus dari Eugen Polanski (Menurut UEFA Ludovic Obraniak ). Aku bergerak maju ke tengah dan menembakkannya ke tiang jauh. Kiper lawan tak punya banyak kesempatan (mengantisipasi). Itu sebuah gol yang sangat indah," ujar Kuba.

"Situasi di grup ini menarik. Bahkan, Rusia tak bisa yakin (masuk perempat final). Semua masih mungkin, tetapi apa yang terjadi malam ini adalah sejarah. Kami fokus pada pertandingan berikut dan kami akan melakukan segalanya untuk mengalahkan Ceko."

"Kami sangat yakin menghadapi laga melawan Ceko. Dengan dukungan dari penonton seperti pada laga tadi, aku yakin kami akan menciptakan sejarah masuk perempat final," tuturnya.

Kota Warsawa Berselimutkan Eforia

WARSAWA, KOMPAS.com - Kota Warsawa, Polandia, dilanda eforia dan pesta pora warganya untuk melampiaskan kegembiraan atas sukses tim Polandia menahan Rusia 1-1 pada laga penyisihan Grup A Piala Eropa 2012 di Stadion Nasional, Warsawa, Selasa (12/6) atau Rabu dini hari WIB. Warga setempat memadati jalan-jalan utama ibu kota Polandia itu dan larut dalam eforia kegembiraan.

Konsentrasi massa terpusat di kawasan zona suporter di kompleks Palace of Culture and Science, yang berdekatan dengan Stasiun Pusat Warsawa. Sepanjang laga berlangsung, trem dan bus kota yang melintasi jalan utama kawasan tersebut ditutup. Hal itu sebagai antisipasi atas berkumpulnya puluhan ribu atau bahkan menembus 100.000-an warga, seperti perkiraan semula.

Polska wigra! Polska wigra! Polska wigra (Polandia menang! Polandia menang! Polandia menang!), demikian antara lain sorak-sorai warga di kawasan itu, seperti koor massal. Mereka meledak dalam ekstase kegembiraan saat tendangan kaki kiri gelandang Jakub Blaszczykowski menjebol gawang Rusia, menit ke-57, yang menyamakan skor 1-1. Polandia kebobolan dulu melalui Alan Dzagoyev, menit ke-37.

Begitu gol Blaszczykowski tercipta, warga seisi kota Warsawa berteriak histeris dan meneriakkan yel-yel kejayaan Polandia. Mereka berjingkrak-jingkrak, berangkulan satu sama lain, melambaikan bendera atau syal putih-merah, sambil terus meneggak bir. Tanah di kawasan zona suporter itu seperti bergetar akibat jingkrak-jingkrak puluhan ribu warga.

Tidak sedikit sepasang muda-mudi melampiaskan kegembiraan dengan saling cium berkali-kali. Kaca salah satu halte dekat kawasan itu tampak pecah berantakan. Serpihan kacanya beramburan di jalanan. Bau bir dan alkohol menguar ke angkasa. Hasil seri itu terasa seperti kemenangan.

Dengan hasil tersebut, Polandia masih berpeluang lolos ke perempat final. Peluang itu mereka dapatkan jika pada laga penyisihan terakhir mereka mengalahkan Ceko , yang pada laga sebelumnya memukul Yunani 2-1 di Wroclaw. Rusia tetap memimpin klasemen Grup A dengan nilai empat, disusul Ceko (tiga poin), lalu Polandia (dua poin), dan Yunani (satu poin).  (Mh Samsul Hadi, dari Warsawa, Polandia)

Wednesday, June 13, 2012

Sepeda, Helm Baja, dan Martabat Jerman-Belanda

Johan Cruyff (kiri) dan Franz Beckenbauer (kanan) di Final Piala Dunia 1974.

"Sepak bola adalah perang," - Rinus Michels.

KOMPAS.com - Ucapan singkat mantan pelatih Belanda, Rinus Michels, itu seakan menggambarkan bahwa sepak bola memang tidak hanya mendatangkan hiburan semata. Terlalu banyak definisi hingga filosofi yang terkadang jauh melewati pola pikir manusia bahwa olahraga itu hanya sebatas permainan biasa di muka bumi ini. Sepak bola bisa menjadi seni, tetapi bisa pula menjadi pertarungan sengit yang berurusan dengan martabat bangsa.

Mau bukti? Lihat saja, perseteruan dua negara adidaya di barat Eropa, yakni Jerman dan Belanda. Bahkan, bagi mereka, sepak bola telah bertransformasi melebihi seni dan permainan olahraga selama 2x45 menit dengan kreativitas tinggi. Sejarah panjang rivalitas yang terus menggelora diantara kedua negara itu, seakan membawa kita seperti menyaksikan tontonan para prajurit perang pada Perang Dunia.

Jika ditarik jauh ke belakang, sejumlah penduduk Belanda, mungkin masih ingat bagaimana kejamnya pimpinan Nazi Jerman, Adolf Hitler membumihanguskan negara mereka dalam pertempuran udara yang lebih dikenal dengan sebutan "Battle of Netherland" pada September 1939. Belum lagi jutaan rakyat Belanda tak berdosa tewas ketika pasukan Schutzstaffel (SS) milik Nazi menduduki negara tersebut pada era 1940-an.

Walhasil, pascapendudukan itu muncullah sentimen Anti-Jerman di kalangan masyarakat Belanda, yang terbangun akibat trauma mendalam kekejaman Nazi pada masa tersebut. Sentimen itu kemudian merambah dalam urusan sepak bola. Pada putaran final Piala Dunia 1974, sejumlah fans Belanda banyak yang memakai kaus bertuliskan "I Want My Bycyle Back" sebagai kata celaan merujuk pada peristiwa itu. Maklum saja, Nazi ketika itu merampas apa saja milik rakyat Belanda, termasuk juga sepeda!

Bahkan, saat menjelang Piala Dunia 2006 silam, kaos oranye dengan slogan provokatif dan replika helm Perang Dunia II laris manis diboyong oleh ribuan suporter Belanda. "Ini sesuatu yang bersifat historis, karena rivalitas selalu terjadi," ucap Florian van Laar, salah satu kreator replika helm tersebut. Karena helm ini pula, asisten pelatih Jerman, Hansi Flick, beberapa waktu lalu mendapat masalah.

Alih-alih berkelakar, Flick justru mendapat masalah besar. Ungkapan bahwa Jerman membutuhkan "helm baja" untuk menahan gempuran pemain lawan, langsung direspons dengan kritik tajam baik oleh masyarakat Belanda maupun publik Jerman sendiri. Ia pun akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Jerman tak mau kalah. Pada laga persabatan 2005 silam, penjual buah di Jerman menyemprot jeruk-jeruk milik mereka dengan cat hitam. Ketika Belanda gagal ke Piala Dunia 2002, fans Jerman pun menulis lagu khusus untuk mencemooh rivalnya tersebut. Paling anyar, terjadi saat publik Bayern Muenchen mencemooh bintangnya sendiri, Arjen Robben pada final Liga Champions musim lalu.

"Beberapa fans kecewa karena Arjen Robben bermain buat Belanda ketimbang berseragam Muenchen," ujar Presiden Bayern, Karl-Heinz Rummingge, yang akhirnya juga meminta maaf atas insiden tersebut.

Warisan "perang"

Sejumlah fakta sejarah itu menunjukan bahwa rivalitas Jerman dan Belanda terukir sejati. Perseteruan di antara mereka seolah jadi warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Bahkan, sebagai dua raksasa yang memiliki kultur sepakbola sangat kental, Jerman dan Belanda tentu saja tak khawatir "perang" di antara mereka akan segera usai.

Sejak Johan Cruyff mengangkat Belanda ke jajaran tim elite dunia pada final Piala Dunia 1974, perseteruan historis Jerman-Belanda mulai memanas. Final ini adalah kali pertama kedua negara tersebut bertemu sejak berakhirnya Perang Dunia II. Jerman yang baru menjadi kampiun Eropa dua tahun sebelumnya, memplokamirkan diri sebagai sang "Uber Alles" (Jerman di atas segalanya).

Faktor tuan rumah, dan ambisi untuk mengawinkan dua gelar sekaligus, yakni Piala Eropa dan Piala Dunia membuat kepercayaan diri Jerman meninggi. Di pihak lain, taktik "Total Football" milik Belanda yang diperkenalkan Rinus Michels, telah menyentak dunia. Belum lagi, aksi Cruyff, Johan Neeskens, hingga Van De Kerkoff bersaudara mampu menjadikan Belanda sebagai raksasa Eropa.

Walhasil, lapangan berubah laiknya medan perang. Total Football yang diperagakan Cruyff dan kawan-kawan nyaris tak memberi kesempatan pemain Jerman untuk menyentuh bola. Mereka pun langsung unggul saat pertandingan baru berjalan dua menit lewat gol Neeskens. Namun, takdir berkata lain. Jerman mampu bangkit, dan membalas lewat gol penalti Paul Breitner (menit ke-23) dan Gerd Muller (43).

"Aku tidak peduli dengan skor. 1-0 aku rasa cukup untuk menghancurkan mereka. Aku benci mereka. Mereka membunuh 80 persen keluargaku. Ayahku, saudara perempuan, dan dua saudara laki-lakiku. Setiap kali aku bertemu Jerman, aku selalu dipenuhi kemarahan," sembur salah satu punggawa Belanda, Wim van Hanegem.

Belanda akhirnya mampu membalaskan sakit hati setelah mengempaskan Jerman 2-1 pada semifinal Piala Eropa 1988. Usai laga, Ronald Koeman, bertukar kaus dengan gelandang Jerman, Olaf Thon. Tapi apa yang dilakukannya kemudian? Kaus itu digunakannya untuk membersihkan bagian pantatnya di hadapan sekitar 60 ribu pendukung Jerman yang memadati Stadion Volksparks, Hamburg.

"Tahun 1988 tidak bisa menghapus kenangan kami tentang 1974. Sakit hati kami masih membekas. Saya mengerti apa yang kulakukan setelah pertandingan itu hanya tindakan impulsif yang akan Anda sesali. Tapi bagi saya, hal itu sudah saya lupakan," ujar Koemand.

Tensi kembali memburuk pada putaran kedua Piala Dunia 1990. Merasa dirinya tak pantas mendapat kartu kuning setelah menjatuhkan Rudi Voeller, gelandang Belanda, Frank Rijkaard kemudian meludahi dan mencekik rambut Voller. Nyaris baku pukul, wasit Juan Loustau akhirnya mengusir kedua bintang papan atas itu. Selesai? Tidak. Saat menuju kamar ganti, perselisihan kembali terjadi. Bahkan, sejumlah media mengabarkan sempat terjadi adu jotos antara kedua pemain tersebut.

"Itu sepenuhnya kesalahan saya dan tak bisa dibenarkan. Saya selalu menghormati Rudi Voller. Tapi saya menjadi emosi ketika mendapat kartu merah," aku Rijkaard terkait insiden tersebut.

Ini sepak bola

Di Piala Eropa 2012 kali ini, kedua kubu kembali bertemu pada laga kedua penyisihan Grup B, Rabu (13/6/2012). Jika merunut sejarah panjang rivalitas itu, Jerman memang masih layak untuk menyebut dirinya sebagai sang "Uber Alles", karena mampu tiga kali merengkuh trofi itu (1972, 1980, dan 1996). Namun, meski kerap disebut sebagai tim terbaik dunia yang tak pernah merebut juara Eropa, Belanda bukanlah tim yang dapat dipandang sebelah mata.

Apalagi dalam laga kali ini, motivasi tinggi tentu telah merasuki benak pemain Belanda, karena kalah di laga perdana melawan Denmark.  Dengan demikian, tiga poin adalah harga mati bagi tim asuhan Bert van Marwijk tersebut.  Bahkan, oleh sejumlah pihak, Belanda dinilai sedikit sial karena delapan peluang emas dari total 23 usaha, bukanlah statistik yang biasa saat melawan "Tim Dinamit".

"Kami harus mengalahkan Jerman. Saya merasa kami tak pantas kalah dari Denmark. Kami memperlihatkan permainan yang lebih baik dan menciptakan banyak peluang. Sekarang, tidak ada ampun lagi, kami akan buktikan dengan mengalahkan Jerman," ucap van Marwijk.

Jerman pun tak kalah percaya diri. Karena, jika mengacu rekor pertemuan kedua tim dalam tujuh laga terakhir di turnamen resmi, Jerman unggul tipis atas Belanda. "Der Panzer" tiga kali sukses menundukkan Belanda (Piala Dunia 1974, 1990 dan  Piala Eropa 1980), sedangkan "De Oranje" mengoleksi dua kemenangan (Piala Eropa 1988, 1992). Sisanya, kedua tim harus berbagi poin.

"Tak peduli apa pun yang terjadi, ini akan menjadi laga yang sangat berat. Para pemain benar-benar menantikan duel klasik seperti ini dan kami bersemangat tentang laga besok. Ini akan menjadi laga sulit buat kami, tapi saya yakin kami bisa meraih hasil baik," kata gelandang Jerman, Bastian Schweinsteiger.

Memang, dewasa ini sudah jarang ditemui pertarungan di dalam maupun luar lapangan seperti puluhan tahun lalu itu. Sepeda dan helm baja mungkin tidak lagi menjadi sebuah provokasi pendukung Belanda untuk pemain maupun suporter Jerman. Akan tetapi, bagi mereka, setiap laga bukan sekadar soal olahraga semata, tapi akan selalu diingat sebagai tonggak sejarah rivalitas sejati martabat bangsa. Itulah sepak bola bagi Jerman dan Belanda.

"Mengapa kami harus merasa berbeda dengan orang Jerman? Keduanya bagaikan Inggris vs Skotlandia, dengan kami sebagai Inggrisnya," - Bert Vogts  (1967-1978)

Kuba Gol, Persaingan Grup A Tetap Terbuka

Kiper Rusia, Vyacheslav Malafeev, gagal menghalau tembakan akurat gelandang Polandia, Jakub Blaszczykowski (tak tampak), pada pertandingan kedua Grup A Piala Eropa 2012, di Stadion Nasional Warsawa, Selasa (12/6/2012).

WARSAWA, KOMPAS.com - Polandia dan Rusia bermain imbang 1-1 pada pertandingan kedua Grup A, di Stadion Nasional Warsawa, Selasa (12/6/2012). Dengan hasil tersebut, Polandia duduk di tempat ketiga dengan dua poin, kalah satu angka dari Ceko di tempat kedua dan dua angka dari Rusia. Semua tim sama-sama masih menyisakan satu pertandingan.

Rusia unggul lebih dulu melalui Alan Dzagoev pada menit ke-37. Dalam kawalan sejumlah pemain lawan di kotak penalti, ia  membelokkan dengan pundak kanannya bola kiriman Andrei Arshavin ke sudut kiri atas gawang.

Pada menit ke-57, Polandia menyamakan kedudukan melalui Jakub "Kuba" Blaszczykowski. Dari tengah kotak penalti, ia melepaskan tendangan kaki kiri, yang membuat bola kiriman Ludovic Obraniak masuk sudut kanan atas gawang Rusia.

Rusia bermain agresif dan mendominasi permainan sejak awal. Namun, pada momen-momen krusial, mereka melakukan kesalahan umpan dan koordinasi, sehingga serangan tak tuntas dengan eksekusi akurat.

Pada menit ke-15, misalnya, Roman Shirokov mengirim umpan kepada Alexander Kerzhakov. Namun, Kerzhakov tidak siap, sehingga bola bisa dikuasai Przemyslaw Tyton.

Polandia sendiri bukannya tanpa perlawanan. Sejumlah serangan mereka berakhir dengan eksekusi, yang gagal membuahkan gol karena performa kiper Vyacheslav Malafeev.

Pada menit ketujuh, misalnya, Ludovic Obraniak melepaskan tembakan keras, yang dibendung Malafeev. Pada menit ke-40, giliran Kuba yang melihat bola hasil tembakannya dikandaskan Malafeev.

Pada awal babak kedua, Polandia mengambil inisiatif menyerang yang berujung tembakan dari Robert Lewandowski dan Damien Perquis. Namun, tak satu pun usaha mereka menyusahkan Malafeev.

Setelah tembakan Lewandowski pada menit ke-50 diantisipasi Malafeev, Rusia membalas dengan tembakan dari Arshavin, yang meleset dari sasaran.

Pada menit ke-68, Dzagoev hampir kembali masuk daftar pencetak gol. Tembakannya kali ini gagal bersarang di gawang lawan karena aksi penyelamatan Tyton. Polandia membalas itu dengan tembakan Eugen Polanski pada menit ke-69, yang kandas di tangan Malafeev.

Setelahnya, kedua kubu mempertahankan intensitas serangan. Namun, hal itu dibarengi dengan perbaikan koordinasi lini belakang, sehingga alur serangan kedua kubu banyak kandas di tengah jalan. Skor 1-1 pun bertahan, sampai peluit berbunyi panjang.

Susunan pemain
Polandia:
22-Przemyslaw Tyton, 15-Damien Perquis, 13-Marcin Wasilewski, 2-Sebastian Boenisch, 20-Lukasz Piszczek, 5-Dariusz Dudka (18-Adrian Mierzejewski 73), 7-Eugen Polanski (6-Adam Matuschyk 85), 10-Ludovic Obraniak (23-Pawel Brozek 90), 16-Jakub "Kuba" Blaszczykowski, 9-Robert Lewandowski, 11-Rafal Murawski

Rusia: 16-Vyacheslav Malafeev, 4-Sergei Ignashevich, 12-Alexei Berezutsky, 5-Yuri Zhirkov, 2-Alexander Anyukov, 7-Igor Denisov, 8-Konstantin Zyryanov, 6-Roman Shirokov, 10-Andrei Arshavin, 11-Alexander Kerzhakov (14-Roman Pavlyuchenko 70), 17-Alan Dzagoev (9-Marat Izmailov  80)

Wasit: Wolfgang Stark

"Beruang Merah" Masih Dibayangi Sejarah Lama

Bek Rusia Sergey Ignashevich (kiri) berjibaku dengan bek Polandia Marcin Wasilewski (kedua dari kanan) dalam pertandingan kedua Grup A di Stadion Nasional Warsawa, Selasa (12/6/2012).

WARSAWA, KOMPAS.com - Dua mimpi buruk Rusia tak juga sirna ketika menghadapi Polandia. Hasil imbang seolah sudah mereka tapaki 46 tahun sebelumnya.

* Rusia/ Uni Soviet tak pernah memulai Piala Dunia atau Piala Eropa dengan dua kemenangan pertama sejak Piala Dunia 1966. Saat itu mereka menang empat laga awal.

* Rusia/ Uni Soviet tak pernah menang atas tuan rumah Piala Dunia atau Piala Eropa. Rekornya: dua kali imbang dan lima kali kalah.

* Sejak penyisihan grup diperkenalkan pada Euro 1984, terdapat sembilan tim yang gagal lolos ke fase selanjutnya meski menang di partai pembuka.

* Sembilan dari 25 gol yang tercipta di Euro 2012 dicetak melalui sundulan. Berapa yang diciptakan dari sepakan luar kotak penalti? Hanya dua, masing-masing kreasi Samir Nasri (Perancis) dan Petr Jiracek (Republik Ceko).

* Rusia mengantongi 10 clean sheet dalam 16 pertandingan terakhirnya. Dalam semua laga itu "Tim Beruang Merah" tak pernah kalah.

* Jakub Blaszczykowski juga mencetak gol ketika Polandia terakhir beruji coba melawan Rusia di Moskwa pada Agustus 2007. Pertandingan berakhir imbang 2-2.

Lawan Swedia, "Tiga Singa" Janji Lebih Garang

Pelatih Inggris, Roy Hodgson (kanan), sedang berdiskusi dengan kapten tim, Steven Gerrard.

DONETSK, KOMPAS.com — Tak maksimal di laga perdana, Inggris berjanji akan tampil lebih garang saat menghadapi Swedia dalam laga lanjutan penyisihan Grup D, Sabtu (16/6/2012). Kapten tim, Steven Gerrard yakin "The Three Lions" mampu meraih poin penuh dalam laga tersebut.

Di partai pembuka Grup D, Inggris hanya bermain imbang dengan Perancis 1-1. Unggul lebih dulu berkat gol Joleon Lescott, Gerrard dan kawan-kawan harus puas berbagi angka setelah Samir Nasri menyamakan kedudukan. Dengan hasil itu, persaingan Grup D semakin seru, karena di partai lainnya Rusia mampu mengalahkan Swedia 2-1.

"Kami harus keluarkan segalanya jika ingin mewujudkan apa yang kami inginkan. Kami akan menganalisis pertandingan (lawan Perancis) untuk mengetahui yang salah dan benar. Hasilnya akan kami praktikkan saat menghadapi Swedia," kata Gerrard.

Gerrard menambahkan, setelah laga melawan Perancis timnya dipenuhi kepercayaan diri tinggi untuk menghadapi lawan-lawan selanjutnya. Apalagi, di atas kertas, tim asuhan Roy Hodgson itu memang memiliki kualitas di atas Swedia maupun Rusia.

"Setelah laga melawan Perancis, kepercayaan diri kami sudah meningkat di kamar ganti plus kebersamaan tinggi dibutuhkan untuk menjalani laga selanjutnya," kata Gerrard.

Kapten Inggris itu juga menaruh rasa hormat yang besar pada calon lawan selanjutnya.

"Swedia adalah lawan yang sulit dan kami sudah lama tidak mengalahkan mereka dengan permainan yang kompetitif. Dengan segala hormat, kami harus menang dalam pertandingan ini," tegasnya.