Wednesday, December 22, 2010

Pengorbanan Natal Okto Demi "Garuda"

JAKARTA, KOMPAS.com - Oktovianus Maniani mengorbankan momen penting bersama keluarga demi membela tim nasional (timnas) Indonesia. Pemain asal Papua ini rela tidak merayakan hari raya Natal bersama keluarga tercintanya di Jayapura.

"Saat Natal nanti saya ada di Malaysia. Memang ada perasaan lain tidak merayakan Natal bersama keluarga di Papua, tapi ini kewajiban yang harus saya penuhi," kata Okto kepada Tribun di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (20/12/2010).

Menurut Okto, Natal adalah momen spesial bagi mayoritas pemain asal Papua. Inilah saat yang terpenting untuk bisa berkumpul bareng keluarga dengan pulang ke kampung halaman.

"Sama seperti mayoritas pemain muslim saat lebaran Idul Fitri yang pulang mudik, kami juga orang Papua ingin pulang kampung saat Natal tiba. Tapi, saya pikir keluarga saya sangat mengerti dengan kewajiban saya," ujar Okto yang sudah punya tiga anak ini.

Sebagai gantinya, pemain yang baru berusia 20 tahun ini berencana mendatangkan istrinya ke Jakarta hari ini. "Istri saya akan datang ke sini besok (hari ini). Kalau tidak ada halangan, anak-anak saya juga akan ikut," katanya.

Okto juga menceritakan kondisi keluarganya selama ditinggal di Jakarta untuk memperkuat "Merah Putih". "Mereka selalu nonton bareng di rumah kami yang sederhana saat timnas main. Saya senang dan termotivasi dengan mereka," tuturnya.

Dalam skuad timnas Piala AFF 2010, Okto adalah satu-satunya pemain asal Papua. Saat ditemui di Hotel Sultan, Okto mendapatkan dukungan dari seniornya di Persipura Jayapura, Jack Komboy, yang kini sudah pensiun dari bermain bola dan menjadi anggota DPRD Kota Jayapura.

"Saya berharap Okto tidak terlalu bangga dengan apa yang dicapainya saat ini. Ia harus memegang filosofi seperti padi, yang makin berisi makin menunduk. Okto harus meningkatkan kemampuannya," pesan Komboy.

Editor: Hery Prasetyo   |   Loading...

Sampdoria: Cassano Hampir ke Milan

Penyerang Sampdoria, Antonio Cassano.

GENOA, KOMPAS.com - Sampdoria mengumumkan, hampir mencapai kesepakatan dengan AC Milan soal penjualan penyerang Antonio Cassano. Menurut mereka, hanya ada beberapa urusan kecil yang perlu diselesaikan untuk merealisasikan transfer.

"Kami semua bekerja keras menyelesaikan kesepakatan ini sejak beberapa waktu lalu dan kami hampir mencapai kesimpulan. Yang harus Anda lakukan adalah mendengarkan rumor yang berputar," ujar Direktur Olahraga Sampdoria, Doriano Toni.

Sesuai pemberitaan di Italia, masalah terbesar transfer Cassano adalah soal perjanjian antara Sampdoria dan mantan klub Cassano, Real Madrid, yaitu bahwa Sampdoria harus membayar lima juta euro kepada Madrid, jika menjual Cassano.

Cassano sendiri dijual menyusul perseteruannya dengan Presiden Sampdoria, Riccardo Garrone, Oktober silam. Akibat itu, jatah main Cassano dibekukan. Belum lama ini, Sampdoria mencoba memutus kerja sama dengan Cassano melalui pengadilan, tetapi ditolak. (FBI)

TKI, "Serbu" Bukit Jalil!

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOSuporter tim nasional Indonesia penuh semangat memberi dukungan selama Piala AFF 2010. Pada partai final pertama di Malaysia, 26 Desember, Indonesia berharap "serbuan" TKI untuk mendukung perjuangan mengalahkan tuan rumah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, yang jumlahnya sekitar tiga juta, bakal menjadi pasukan pendukung garis depan saat timnas Indonesia melawan Malaysia di partai pertama final Piala AFF 2010, 26 Desember nanti. Kehadiran dan dukungan mereka akan sangat berharga. Maka, para TKI pun diimbau menyerbu Stadion Bukit Jalil.

Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie memohon para TKI di Malaysia untuk memerahkan Stadion Bukit Jalil. "Ada tiga juta TKI di Malaysia, kita harapkan mereka bisa memerahkan stadion saat Indonesia berhadapan tuan rumah Malaysia pada leg pertama babak final AFF Suzuki Cup ini," ujar Aburizal Bakrie di Jakarta, Senin (20/12/2010).

Hal sama juga disampaikan pelatih Indonesia, Alfred Riedl. Dukungan buat Indonesia memang sangat diperlukan, karena ini partai yang sangat menentukan. Bukan saja menentukan kemenangan dan gelar juara, tapi kepercayaan diri serta harga diri bangsa.

"Separuh saja stadion dipenuhi oleh warga negara Indonesia di sana, itu sudah sangat bagus dan kami kembali mendapatkan dukungan yang besar. Kita harapkan setengah stadion bisa diisi oleh pendukung Merah Putih," ujar Alfred Riedl saat rombongan Timnas diundang Aburizal Bakrie.

Kemudian, Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, juga mengharap hal sama.

"Kita harapkan saudara-saudara kita, para TKI, bisa menjadi suporter untuk memberikan semangat kepada tim nasional sepak bola Indonesia yang akan berlaga pada final Piala AFF Suzuki 2010," kata Anas di Jakarta, Senin (20/12/2010).

PSSI tentu tak ketinggalan. Bahkan, PSSI meminta pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia untuk mengerahkan TKI untuk mendukung timnas "Merah Putih" pada final Piala AFF 2010 di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, Minggu (26/12).

Ketua Umum PSSI Nurdin Halid di Jakarta, Senin, mengatakan, guna melancarkan permintaan itu pihaknya mengirim Sekjen PSSI Nugraha Besoes untuk mengurus segala sesuatunya termasuk bertemu dengan pihak LOC Malaysia.

"Besok, Selasa (21/12/2010), tim yang dipimpin Pak Sekjen akan berangkat. Selain meminta kepada KBRI mengerahkan TKI, tim juga akan melihat langsung kesiapan pendukung timnas mulai dari hotel, transportasi, hingga lokasi latihan," katanya.

Menurut dia, persiapan menjelang pertandingan sangat diperlukan. Apalagi pertandingan pertama akan dilakukan di kandang lawan yang juga memiliki fanatisme suporter yang kuat.

Ia menjelaskan, khusus untuk pertemuan dengan pihak LOC Malaysia, tim akan meminta kemudahan bagi suporter asal Indonesia yang akan melihat langsung di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur terutama dalam hal pembelian tiket.

Selain itu, PSSI juga meminta kepada LOC Malaysia untuk memberikan jaminan keamanan seperti yang dilakukan oleh pihak LOC Indonesia saat Malaysia menjalani pertandingan babak penyisihan Piala AFF 2010 lalu.

Sebenarnya, tanpa diminta pun mereka akan "menyerbu" Bukit Jalil. Itu sudah mereka buktikan ketika Indonesia menghadapi Malaysia di leg kedua semifinal Piala AFF 2004 (dulu masih bernama Piala Tiger). Bahkan, mereka rela diserang fisik oleh suporter Malaysia di stadion. Hasilnya, Indonesia menang 4-1 dan lolos ke final, meski akhirnya kalah dari Singapura.

Akan lebih baik jika tidak hanya meminta TKI, tapi juga memfasilitasi mereka secara serius, juga menjaga keamanan mereka. Sebab, mereka sudah berjuang keras di negeri orang meningkatkan devisa negara serta kesejahteraan keluarganya dan kadang mendapat siksaan. Seringgit sangat berarti bagi mereka, karena dicari dengan keringat dan bahkan darah.

Maka, semoga rencana PSSI dan KBRI dalam memobilisasi TKI benar-benar memudahkan mereka. Syukur-syukur mereka tanpa mengeluarkan sepeser pun uang. Sebab, pertandingan ini tak ubahnya perjuangan yang hasilnya sangat menentukan perasaan hati seluruh bangsa.

Tapi, terlepas dari itu, para TKI adalah pejuang yang sebenarnya. Mereka bukan mengejar citra, tapi hakekat perjuangan. Mentalitas dan semangat mereka sudah terbukti. Daya tahan mereka juga tak perlu dipertanyakan. Nasionalisme mereka juga oke punya.

Sehingga, sudah hampir pasti ribuan TKI akan berduyun-duyun menyerbu Bukit Jalil buat membantu perjuangan Firman Utina dkk. Seperti pada Piala Tiger 2004, mereka telah menunjukkan militansi sebagai pemain ke-12 "Garuda".

Bonus Rp 2,5 M Disimpan di Kardus

Foto kardus berisi uang bonus Rp 2,5 miliar yang diberikan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid kepada Tim Nasional usai mengalahkan Filipina dalam laga semifinal, Minggu (19/12/2010). Foto ini diunggah presenter TV Tina Talisa di layanan mikrobloging Twitter.

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum PSSI Nurdin Halid membenarkan bahwa bonus sebesar Rp 2,5 miliar untuk timnas Indonesia ia serahkan dalam kardus minuman gelas. Masih ada bonus lain yang akan diberikan untuk timnas jika berhasil menjuarai Piala AFF 2010.

Beberapa jam setelah timnas Indonesia menekuk Filipina dalam duel semifinal leg kedua, Minggu (19/12/2010), Nurdin langsung menemui Firman Utina dkk di Hotel Sultan, Jakarta Pusat. Kepada mereka, Nurdin menyerahkan hadiah uang dari PSSI yang dimasukkan dalam kardus kemasan minuman gelas dan diterima langsung oleh kapten tim Bambang Pamungkas.

Nurdin juga menambahkan bonus Rp 500 juta dari kocek pribadinya sehingga total bonus yang diterima tim "Garuda" saat itu mencapai Rp 3 miliar. "Kami bertekad, sebelum tetesan keringat pemain berhenti mengucur, kami serahkan bonus itu. Dalam kardus itu ada sejumlah uang Rp 2,5 miliar. Total sudah diberikan Rp 3 miliar itu," kata Nurdin di sela-sela acara ramah-tamah antara keluarga Aburizal Bakrie dan timnas di kediaman Aburizal, Senin (20/12/2010) pagi.

Nurdin menegaskan, jika Indonesia berhasil menjadi kampiun pada turnamen tersebut, maka PSSI kembali akan menggelontorkan uang sebesar Rp 3 miliar sebagai bonus. Kementerian Pemuda dan Olahraga juga akan menyediakan insentif khusus sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan timnas.

"Nanti tanggal 29 malam, kami berikan Rp 3 miliar itu. Ini belum termasuk hadiah dari sponsor. Kami berharap hal ini dapat merangsang pihak-pihak lain untuk melakukan hal serupa," tambah Nurdin.

Sebelumnya, presenter TV Tina Talisa menulis dalam akun Twitternya soal uang bonus Rp 2,5 miliar yang ditaruh di dalam kardus. "Kardus apakah di dpn Irfan Bachdim, BP dan Firman Utina? Ini uang tunai 2,5 M bonus. Serius banget! Gw seumur2 baru kali ini liat uang 2,5 M di depan mata...:D," tulis Tina.

Cewek "Nonton" Bola Itu Keren

KOMPAS IMAGES/Roderick Adrian Mozes KOMPAS IMAGES/Roderick Adrian Mozes KOMPAS IMAGES/Roderick Adrian Mozes KOMPAS IMAGES/Roderick Adrian MozesSuporter wanita menunggu di depan pintu masuk Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, jelang laga semifinal AFF Suzuki Cup antara Indonesia dengan Filipina, Minggu (19/12/2010).Suporter wanita melukis bendera Indonesia sembari menunggu di depan pintu masuk Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, jelang laga semifinal AFF Suzuki Cup antara Indonesia dengan Filipina, Minggu (19/12/2010). KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Suporter wanita menunggu di depan pintu masuk Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, jelang laga semifinal AFF Suzuki Cup antara Indonesia dengan Filipina, Minggu (19/12/2010).

JAKARTA, KOMPAS.com — Siapa bilang, sepak bola hanya milik kaum lelaki. Sepak bola kini menjadi milik siapa saja. Dukungan untuk Firman Utina dan kawan-kawan datang juga dari suporter wanita yang tidak kalah heboh dari suporter laki-laki.

"Saya dengan teman-teman berangkat dari Cikarang jam 12 siang dan nyampe di stadion jam setengah tiga sore," kata Angel Ginting (17), saat ditemui di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (19/12/2010).

Bagi Angel dan teman-temannya, tidak masalah menonton sepak bola berdesak-desakan dengan suporter pria. Menurutnya, nonton bola adalah salah satu bentuk emansipasi wanita.

"Tapi, kami lagi mengusahakan mendapatkan tiket nih, semoga saja bisa masuk. Kalau enggak bisa, nanti kami nonton di layar lebar saja," kata Angel yang baru kali ini menonton langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Seperti tidak mau kalah, sejumlah suporter wanita melengkapi dirinya dengan aksesori tim nasional "Merah Putih", bahkan mereka menempelkan stiker merah putih di kedua pipi mereka. Bahkan ada yang melukis wajahnya dengan warna merah putih untuk memberikan dukungan kepada Indonesia.

"Baru kali ini kita menonton pertandingan langsung, biasanya di televisi. Soalnya saya melihat timnas Indonesia sedang bangkit dan ini layak diperjuangkan," Kata Rinjani (18) yang datang menonton bersama teman-teman kuliahnya.

Sama seperti Rinjani, Jeanice mengakui ketika melihat kebangkitan "Pasukan Garuda", dia merasa Indonesia memiliki peluang dan harus didukung. "Dulu sih capek juga melihat Indonesia yang miskin prestasi, tapi pas lihat mereka yang sekarang, aku berpikir Indonesia tidak seburuk itu dan masih ada yang kita banggain," kata Jeanice.

Rinjani dan Jeanice sengaja memilih tribune atas untuk menonton penampilan Firman Utina dan kawan-kawan. Menurut mereka, menonton di tribune atas lebih terasa suasana dukungannya untuk Indonesia. Ketika ditanyakan masalah keamanan diri, mereka percaya bahwa suporter Indonesia baik-baik dan untuk lebih aman lagi, mereka mengajak dua teman cowok untuk menemani mereka.

Perjuangan untuk mendapatkan tiket pun dijalani oleh suporter wanita. Seperti dialami Pauline, yang harus mengantre selama tiga jam lebih untuk bisa mendapatkan tiket tribune atas. "Pas saya dapat tiket, itu serasa berhasil lolos dari neraka. Bayangin aja panas terus hujan lagi. Saya baru dapat tiket pas jam tujuh malam," kata Pauline yang menganggap cewek yang nonton bola itu keren.

Perjuangan para suporter wanita ini pun tidak sia-sia. Mereka disuguhkan dengan permainan timnas yang agresif dan berhasil memetik kemenangan atas Filipina 1-0 dalam putaran kedua semifinal Piala AFF 2010 dan akan menghadapi Malaysia di final pada 26 Desember dan 29 Desember mendatang.

Siapa Bilang SBY Bawa Sial?

Menko Kesra, Agung Laksono.

JAKARTA, KOMPAS.com Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengaku gembira atas torehan kesuksesan yang diukir pemain tim nasional Indonesia di laga Piala AFF 2010. Ia pun membantah apabila Presiden SBY dianggap membawa sial tim besutan Alfred Riedl tersebut.

"Tidak begitu terkejut dengan kemenangan Indonesia, jadi ini wajarlah. Suatu kebanggaan rakyat Indonesia," ucap Agung, Minggu (19/12/2010), di Hotel Sultan Jakarta.

Ia juga membantah anggapan publik yang menyatakan bahwa jika Presiden SBY menonton langsung pertandingan Indonesia, maka hal itu justru membawa sial. "Kata siapa Presiden bawa sial? Buktinya ini sudah dua kali menang," ucapnya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta istri dan jajaran kabinet Indonesia Bersatu II memang dua kali menyaksikan semifinal Piala AFF 2010 lawan Filipina. Kedua pertandingan itu dimenangkan Indonesia, 1-0.

Tuesday, December 21, 2010

Gonzales: Malaysia Enggak Sebagus Thailand

JAKARTA, KOMPAS.COM — Striker Cristian Gonzales yakin tim nasional Indonesia dapat mengalahkan Malaysia pada final Piala AFF 2010. Menurutnya, Malaysia tak setangguh Thailand.

Di turnamen ini Indonesia menjadi satu-satunya tim yang selalu menang dalam pertandingan yang dimainkannya. Malaysia dan Thailand sama-sama pernah ditekuk tim "Garuda" di babak penyisihan Grup A. Malaysia dihajar 5-1, sementara Thailand disikat 2-1 dalam laga ketat di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, beberapa pekan lalu.

"Kami pasti berusaha untuk menang. Malaysia tak sebagus Thailand," kata pemain berjuluk "El Loco" itu di sela-sela acara ramah-tamah bersama keluarga Bakrie di Jalan Ki Mangun Sarkoro, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (20/12/2010) pagi.

Gonzales, yang mencetak dua gol ke gawang Filipina di semifinal, berperan penting dalam laga versus Malaysia dan Thailand. Pemain kelahiran Uruguay itu mencetak satu gol ketika melawan Malaysia dan mengawali terjadinya penalti pertama saat melawan Thailand. Dengan tiga gol, namanya tercantum dalam daftar pencetak gol terbanyak di turnamen ini.

Penulis: Laksono Hari Wiwoho   |   Editor: Hery Prasetyo   |   Loading...