Showing posts with label Sepak. Show all posts
Showing posts with label Sepak. Show all posts

Thursday, June 7, 2012

Sampai Kapan Darah Basuhi Sepak Bola Indonesia?

Pendukung Persebaya bersama anaknya menghindari paparan gas air mata yang dilepaskan aparat kepolisian seusai laga Liga Primer Indonesia antara Persebaya melawan Persija di Stadion Gelora 10 Nopember Surabaya, Minggu (3/6/2012). Aparat kepolisian terlibat bentrok dengan bonek seusai laga pertandingan yang berakhir imbang 3-3.

TANGIS menyelimuti sepak bola Indonesia. Di tengah karut-marut kompetisi dan perseteruan sejumlah pengurus yang makin mengecewakan, publik pencinta sepak bola Tanah Air kembali harus menyaksikan darah puluhan pemuda tertumpah di lapangan sepak bola. Kegembiraan menyaksikan permainan indah itu, kini seakan telah berubah menjadi olahraga yang amat menakutkan.

Sepak bola sejatinya memang tak bisa lepas dari unsur fanatisme yang terkadang berujung kekerasan maupun perkelahian para pendukung setia sejumlah klubnya. Tidak hanya di Indonesia, untuk level dunia pun sudah banyak bukti nyata yang menggambarkan bahwa olahraga tersebut bukan lagi sekadar pertarungan antara 22 manusia di dalam lapangan.

Masih lekat di benak pencinta bola, insiden berdarah yang terjadi di Liga Mesir, Febuari lalu. Seusai laga antara tuan rumah Al-Masri melawan Al-Ahly itu, 73 jiwa melayang sia-sia di atas rumput Stadion Port Said karena kerusuhan antarsuporter kedua tim. Dengan menggunakan pisau, kayu, dan benda tumpul lainnya, pendukung fanatik Al-Masri secara beringas menganiaya pendukung Al-Ahly di tengah lapangan.

Untuk level lebih tinggi, pertemuan Juventus dan Liverpool di final Liga Champions di Stadion Heysel, Brussels, Belgia, menjadi salah satu sejarah kelam sepak bola. Pertandingan dua raksasa Eropa pada 29 Mei 1985 itu diwarnai insiden tragis. Ejekan suporter kedua tim tersebut membuat emosi pecah hingga membuat pagar yang pemisah kedua suporter roboh. Walhasil, kericuhan terjadi dan 39 suporter tewas akibat peristiwa ini.

Nyawa tak berdosa
Sejumlah contoh itu memang lebih jauh menakutkan jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia. Akan tetapi, segala bentuk tindakan apa pun, sangat disayangkan apabila hingga memakan korban jiwa. Apalagi, selama tiga bulan terakhir, sembilan anak Negeri telah meregang nyawa akibat sepak bola Indonesia.

Pada Jumat (9/3/2012) malam, rombongan suporter Persebaya Surabaya yang hendak menuju Bojonegoro untuk mendukung timnya berlaga melawan Persibo dilempari batu oleh warga saat kereta api barang yang ditumpanginya masuk wilayah Babat, Lamongan. Sontak, kepanikan terjadi. Beberapa suporter yang berusaha menghindar kemudian terjatuh karena tersangkut kabel.

Akibat insiden itu, lima nyawa "Bonek Mania"—sebutan pendukung setia Persebaya—melayang. Sebanyak 18 pendukung lainnya mengalami luka-luka karena terkena lemparan batu dan terjatuh dari atas kereta api yang membawa mereka.

Dua bulan berselang, giliran Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, yang menjadi saksi tiga darah pemuda mengalir di dunia sepak bola Indonesia. Adalah Lazuardi (29), warga Menteng, Jakarta Pusat, yang tewas setelah dianiaya suporter seusai menyaksikan laga klasik antara Persija Jakarta dan Persib Bandung dalam lanjutan ISL. Nyawa dua orang lainnya, Rangga Cipta Nugroho (22) dan Dani Maulana (16), pun turut terenggut dalam insiden itu.

Tak sampai sepekan, Minggu (3/6/2012) malam, seorang "Bonek Mania", Purwo Adi Utomo, juga menjadi korban kejamnya sepak bola Indonesia. Pemuda yang masih berstatus sebagai pelajar kelas III SMK Negeri 5 Surabaya itu tewas terinjak-injak dalam kericuhan antara suporter dan aparat keamanan seusai laga Persebaya melawan Persija Jakarta dalam lanjutan IPL di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambak Sari, Surabaya.

Aparat vs fanatisme
Sejumlah kenyataan menyedihkan tersebut kini terpampang jelas dalam dunia sepak bola Indonesia. Sangat disesalkan, olahraga yang digadang-gadang penuh sportivitas itu harus dirusak oleh sejumlah pendukung maupun segelintir pihak lain yang tidak bertangung jawab. Tak ayal, penyesalan dan kecaman pun datang dari beberapa insiden berdarah tersebut.

"Sepak bola Indonesia ini sudah rusak, jadi jangan ditambahi dengan masalah-masalah seperti ini. Sepak bola seharusnya tidak sampai seperti ini. Sampai kapan lagi sepak bola harus kehilangan nyawa-nyawa yang tidak perlu," sesal kapten Persija, Bambang Pamungkas, menanggapi sejumlah insiden berdarah itu.

Sosiolog Imam B Prasodjo berpendapat, kekerasan yang dilakukan suporter sepak bola merupakan bentuk emosional primitif yang mengarah ke perlakuan hewani. Jika tidak segera diselesaikan, proses kristalisasi sebagai kelompok suporter yang selalu menganggap lawannya adalah musuh, kekerasan itu masih terus terjadi dan bisa mengeras lagi.

"Yang menjadi perekat kelompok suporter adalah rasa kekitaan yang sangat emosional. Akibatnya, orang beranggapan bahwa di luar kelompok saya adalah musuh. Jika dibiarkan, nantinya kelompok ini bisa masuk ke dalam lingkaran budaya kekerasan yang menjadikan mereka bertindak sebagai mesin yang membenci kelompok lain," ujar Imam.

Memang, selain fanatisme sempit di setiap insiden berdarah dalam sepak bola itu memang juga tak bisa dilepaskan dari peran aparat dalam mengamankan sebuah pertandingan. Sebab, tak jarang, mereka pun dinilai bertanggung jawab atas sejumlah insiden itu. Tidak hanya di Indonesia, tragedi Hillsborough antara Liverpool dan Nottingham Forest pada 1989 menjadi kritik keras buat aparat keamanan yang dinilai teledor.

Guru Besar Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, saat dihubungi Kompas.com di Jakarta, Senin (4/6/2012) malam, menilai aparat harus merancang bermacam usaha mencegah konflik di antara para suporter. Ia menilai, prosedur itu harus juga dilaksanakan secara baik ketika mengamankan suatu pertandingan besar yang identik dengan pendukung kesebelasan yang fanatik.

"Polisi pasti memiliki pertimbangan lain, karena tugas polisi adalah menciptakan public order. Memang perlu ada evaluasi kedua belah pihak. Jika polisi salah menerapkan tugasnya, silakan diperiksa. Tetapi, suporter juga harus sadar diri untuk tetap tertib dan tidak membuat masalah. Saya yakin, jika tidak ada hal-hal aneh, insiden itu tidak akan pernah terjadi," ujar Adrianus.

Respons dan tindakan nyata
Terlepas sebab muasal dari insiden berdarah tersebut, hilangnya puluhan nyawa itu telah menambah buruk sejarah kelam sepak bola Indonesia. Belum ada cara, respons, dan tindakan tegas untuk menyelesaikan persoalan itu secara nyata. Memang bukan pekerjaan mudah. Tapi, apakah sebanding jika olahraga favorit jutaan rakyat Indonesia ini terus memakan korban jiwa?

Lihat saja, Pemerintah Mesir langsung menghentikan seluruh kegiatan sepak bolanya akibat insiden berdarah di Port Said. Seluruh tim sepak bola Inggris pun berbesar hati rela menerima hukuman larangan tanding di kompetisi Eropa selama lima tahun dari FIFA atas ulah pendukung Liverpool dalam tragedi Heysel yang terjadi 27 tahun silam. Hasilnya, respons itu pun berbuah nyata, yakni sepak bola mereka dapat berkembang jauh lebih baik.

Bagi suporter, tak berlebihan juga jika mereka mencontoh rivalitas sejumlah klub luar negeri. Lihat saja perseteruan antara Barcelona-Real Madrid ataupun AC Milan-Inter Milan. Alasan kebencian yang mendarah daging dalam benak pendukung keempat tim itu yang berkaitan dengan sejarah panjang perjalanan bangsa mereka, bahkan jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan fanatisme suporter di Indonesia.

Namun, bagi Barcelona, Madrid, Milan, maupun Inter, rivalitas yang mengakibatkan pertumpahan darah adalah warisan kuno yang tak pantas dilakukan di era modern saat ini. Rivalitas dan fanatisme, bagi mereka, telah bertransformasi menjadi pertarungan sehat dan sengit di dalam lapangan. Sepak bola pun akan kembali pada hakikatnya, yakni sebagai permainan indah 22 manusia di atas rumput!

Melihat sejumlah fakta itu, sangat pantas jika pertanyaan besar disematkan kepada para suporter, pengurus, serta penanggung jawab sepak bola Indonesia. Kini, semuanya kembali pada kemauan dan keseriusan mereka membangun olahraga itu tanpa ada lagi ratapan tangis dan air mata, apalagi darah tertumpah. Sangat picik jika olahraga indah itu hanya terus menjadi penyumbang duka puluhan pemuda yang meregang nyawa akibat sepak bola.

Tuesday, October 25, 2011

Inilah Jadwal Pertandingan Sepak Bola SEA Games

SEA Games 2011.

JAKARTA, KOMPAS.com — Walau pesta olahraga SEA Games baru akan dimulai pada 11 November, pertandingan sepak bola akan dimulai lebih cepat, yakni tanggal 3 November. Pertandingan akan digelar di Stadion Gelora Bung Karno dan Stadion Lebak Bulus.

"Tahapan pada pertandingan sepak bola cukup banyak, jadi harus dimulai lebih dulu," kata Kepala Dinas Olah Raga dan Pemuda DKI Jakarta Ratiyono.

Karena jadwalnya lebih awal, para kontingen pun akan datang lebih awal, yakni 29 Oktober ini. Dalam cabang sepak bola akan ada dua grup, yakni Grup A dan Grup B. Grup A diisi oleh Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Kamboja.

Di Grup B, Vietnam, Laos, Brunei, Timor Leste, Filipina, dan Myanmar. Sejauh ini, tempat pertandingan untuk cabang olahraga sepak bola, yaitu di Stadion Gelora Bung Karno dan Lebak Bulus, siap digunakan.

Berikut jadwal pertandingan cabang olahraga sepak bola.

Babak Penyisihan Grup A digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno

Rabu, 19 November 2011, Singapura vs Malaysia (16.00), Indonesia vs Kamboja (19.00)

Jumat, 11 November 2011, Malaysia vs Thailand (16.00), Kamboja vs Singapura (19.00)

Minggu, 13 November 2011, Thailand vs Kamboja (16.00), Singapura vs Indonesia (19.00)

Selasa, 15 November 2011, Malaysia vs Kamboja (16.00), Indonesia vs Thailand (19.00)

Kamis, 17 November 2011, Thailand vs Singapura (16.00), Indonesia vs Malaysia (19.00)


Babak penyisihan Grup B
bertempat di Stadion Lebak Bulus dan Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Kamis, 3 November 2011, Vietnam vs Filipina (16.00), Laos vs Myanmar (19.00) di Gelora Bung Karno.

Sabtu, 5 November 2011, Brunei vs Timor Leste (16.00), Myanmar vs Vietnam (19.00) di Gelora Bung Karno.

Senin, 7 November 2011, Timor Leste vs Filipina (16.00), Laos vs Brunei (19.00) di Stadion Lebak Bulus.

Rabu, 9 November 2011, Myanmar vs Brunei (16.00), Vietnam vs Timor Leste (19.00) di Stadion Lebak Bulus.

Jumat, 11 November 2011, Filipina vs Laos (16.00), Brunei vs Vietnam (19.00) di Stadion Lebak Bulus.

Minggu, 13 November 2011, Filipina vs Myanmar (16.00), Timor Leste vs Laos (19.00) di Stadion Lebak Bulus.

Selasa, 15 November 2011, Myanmar vs Timor Leste (16.00) di Stadion Lebak Bulus.

Kamis, 17 November 2011, Laos vs Vietnam (16.00) di Stadion Lebak Bulus.


Sementara itu, babak lanjutan diselenggarakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno:

Sabtu, 19 November 2011
Pemenang Grup A vs Runner-up Grup B (16.00)
Pemenang Grup B vs Runner-up Grup A (19.00).

Senin, 21 November 2011
Kalah vs kalah (16.00)
Pemenang vs pemenang (19.00).

Sunday, May 1, 2011

Industri Sepak Bola Harga Mati

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOKetua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang juga calon ketua umum PSSI periode 2011-2015, Erwin Aksa, saat diwawancara Kompas.com, Rabu (27/4/2011).

KOMPAS.com — Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa bertekad membangun industri sepak bola Indonesia yang dinamis jika terpilih sebagai ketua umum PSSI 2011-2015. Untuk mencapainya, CEO Bosowa Corporation itu telah memiliki rancangan mengenai kompetisi dan membentuk tim nasional yang kuat.

Erwin sadar akan berhadapan dengan persoalan pelik, seperti berbagai kepentingan di PSSI. Tidak hanya itu, pria kelahiran Ujung Pandang, 7 Februari 1975, itu dituntut bisa menyelesaikan persoalan Liga Primer Indonesia (LPI).

Saat ditemui Kompas.com di kantornya di Wisma Karya, Kuningan, Rabu (27/4/2011), Erwin Aksa mengemukakan pendapatnya soal tantangan tersebut.

Seberapa parah sepak bola Indonesia di mata Anda?
"Sebenarnya tidak parah-parah sekali. Artinya, yang tidak berubah bahwa komitmen semua klub tidak bisa dipegang sehingga mohon maaf masih ada klub-klub tidak memperlihatkan sportivitas yang tinggi."

"Nah, kita mengharapkan adanya perubahan, khususnya pimpinan klub mau berkomitmen. Kalau ingin mengubah sepak bola, kita harus berkomitmen bersama-sama. Hal ini harus dimulai dari atas, kemudian memberi contoh ke bawah. Kita harus memulainya pada kongres besok. Oleh karena itu, kongres harus diisi orang-orang yang memiliki keinginan besar ini."

"Kalau masih ada yang mempertahankan pola-pola yang ada saat ini, mohon maaf, kita tidak bisa merefleksikan kompetisi untuk tim nasional. Makanya, tim nasional dikelola seperti sebuah klub. Ini yang harus kita hindari."

"Kita juga harus memperbaiki karakter dan mental. Kita tahu pemain sepak bola kita seperti selebriti. Ini harus dijaga juga. Bagaimanapun, mental pemain bisa berubah kalau euforia tidak bisa terkendali."

Lalu, bagaimana kepengurusan Anda kelak agar bisa lepas dari kepentingan?   "Kita harus membuat pengelolaan yang lebih profesional. Kita ingin klub-klub itu lepas dari kepentingan sehingga mendapatkan trust dari sponsor dan perusahaan-perusahaan yang ingin memberikan promosinya. Jadi (kepentingan) harus dilepas. Siapa pun pengelolanya, kalau berhasil atau juara, akan mendapatkan pengakuan bahwa orang ini mampu mengelola secara profesional."

Tapi, ada yang menuding Anda kepanjangan tangan rezim Nurdin Halid?
"Saya dibesarkan selalu independen. Dalam kita bersikap hak-hak politik, tentunya kita memiliki hak-hak pribadi. Kita memiliki independensi tinggi dan netralitas tinggi. Saya bersyukur hal itu bisa dipertanggungjawabkan.      

Jika terpilih nanti, Anda dituntut bisa menyelesaikan masalah LPI. Apa solusi yang Anda tawarkan?
"Harus kita gabung. Tidak ada jalan lain. Kita harus mematuhi statuta PSSI yang disahkan oleh FIFA. Kita tidak ingin ada kompetisi di luar PSSI. Kita harus akomodasi mereka. Kita menghargai pengorbanan mereka. Kita menghargai kreativitas mereka. Kita harus gabungkan potensi-potensi ini untuk membangun suatu kompetisi yang sehat."

"Kita tidak ingin ada kepentingan memperbesar, tetapi kita melupakan kualitas. Yang kita kejar adalah kualitas. Penonton pastinya akan menikmati pertandingan bola sehingga banyak penonton di stadion. Banyaknya penonton yang datang ke stadion akan meningkatkan pendapatan klub. Enak ditonton di televisi, iklan pasti datang.

"Kita ingin membangun klub-klub yang profesional. Kita ingin klub-klub besar tetap berada di lima atau enam besar. Kita tidak ingin, misalnya, Persija tahun ini juara, tetapi tahun depan mereka degradasi. Tidak ada konsistensi dalam mengelola klub. Ini yang terjadi sekarang. Ada klub yang sudah konsisten seperti Persipura dan Sriwijaya FC. Kedua klub sudah dikelola secara profesional. Mereka teruji ketahanannya. Klub yang sudah profesional, kita jaga mereka."

"Kita tidak ingin terjadi lagi klub tidak bisa bayar gaji pemain atau klub tidak bisa ikut berkompetisi karena kesulitan pendanaan. Ini tantangan yang paling berat. Bagaimanapun klub profesional landasan bagi tim nasional yang kuat."

Bagaimana pendapat Anda tentang pemain asing?
"Pemain asing dalam starting eleven dari maksimal lima pemain harus dan wajib dikurangi menjadi cukup maksimal tiga pemain saja untuk memberikan kesempatan lebih besar kepada pemain lain, terutama pemain muda. Selain itu, hal ini bisa diambil positifnya bagi setiap tim untuk memiliki pemain asing berkualitas tinggi dari segi harga (untuk ISL). Sedangkan Divisi Utama maksimal dua pemain asing.

Apa pendapat Anda soal pengurangan kuota pemain asing?
"Setuju (kalau tiga pemain asing). Mengapa kita menggunakan lima pemain asing? Dengan menggunakan banyak pemain asing, kesempatan pemain lokal bermain jadi terbatas. Saya setuju pemain asing kita kurangi."

Apa manfaat dari pengurangan kuota pemain asing?
"Kita berharap nanti ada suatu klub diperkuat lima pemain tim nasional. Kayak model Spanyol. Real Madrid itu formatnya tim nasional. Barcelona, Villarreal, dan sebagainya. Itu, kan, miniatur tim nasional. Itu yang harus kita buat."

"Sebagaimana pemain Persija, Sriwijaya, dan Persipura, memiliki minimal lima pemain tim nasional. Kalau itu bisa terjadi, tim nasional kita akan lebih kuat. Tim nasional itu waktu latihannya pendek. Jadi, kalau mereka sudah berkelompok dalam suatu klub berbulan-bulan, mereka memiliki kebiasaan yang sama. Misalnya, Persipura memiliki lima pemain tim nasional. Lima pemain ini dibawa ke tim nasional. Kan, ini sudah membawa suatu kekompakan yang teruji. Kita tinggal tambal saja kekurangannya."

"Hal ini yang harus kita buat. Kita tidak ingin di dalam tim nasional, ada satu pemain dari klub ini, ada satu dari klub lain. Hal ini membuat pelatih tim nasional kita seperti menjahit barang yang baru lagi. Padahal, kalau pelatih mengumpulkan tiga pemain dari klub A, lima pemain dari klub B, dan empat dari klub C, cukup memudahkan. Tinggal pelatih memilih starting eleven dan strateginya. Jangan lagi mengajarkan teknik-teknik bermain bola. Teknik-teknik bermain bola, kan, sudah diajarkan di klub dan akademi."

Tentang Badan Tim Nasional (BTN) tengah gencar-gencarnya dengan program naturalisasi?
"Kalau itu alasannya kurang pemain dan warga Indonesia keturunan, saya kira bisa dipertimbangkan. Dengan catatan, warga Indonesia keturunan. Artinya, kalau ada keturunan Indonesia, bisa dipertimbangkan kalau memang kita butuhkan. Namun, lagi-lagi saya katakan, peran pemain lokal harus diperbanyak."

Anda menargetkan berapa tahun semua ini terlaksana?
"Harus segera. Tidak bisa terlalu lama. Satu atau dua tahun harus bisa terbentuk ini semua. Selama ini sudah ada proses dengan adanya PT Liga Indonesia dan masing-masing klub menjadi PT. Sekarang ini, proses tersebut harus dipercepat. Diperkuat manajemennya dengan membuat pelatihan-pelatihan mengelola franchise."

"Pasalnya, klub tidak hanya mengelola timnya, tetapi juga mengelola franchise-nya. Bagaimana mereka bisa menjual baju di toko dan misalnya nama besar Persipura menjadi branding merek sepatu atau yang lainnya."

"Anggaplah Real Madrid, dengan adanya logo tersebut, nilai suatu produk akan naik. Itu harus diciptakan semua. Oleh karena itu, profesional dari suatu klub bukan hanya mengelola klub, tetapi juga perusahaan. Memang ini tidak mudah. Namun, langkah-langkah ini harus dijalankan. Kita juga meminta pengertian pelaku-pelaku bola bahwa ini dilakukan untuk menyelamatkan industri sepak bola ke depan."

"Saya ingin orang-orang yang sudah punya pengalaman dalam mengelola kompetisi ini harus bergabung menjadi satu, memikirkan bagaimana kita menjadikan industri sepak bola yang baik."

Tuesday, February 1, 2011

Leo Jadikan Inter Bukan Tim Sepak Bola

Pelatih Inter Milan, Leonardo.

MILAN, KOMPAS.com - Legenda Inter Milan, Luis Suarez, menilai manajer Leonardo telah menjadikan mantan klubnya lebih dari sekadar tim sepak bola dan mengaku yakin, Leonardo akan membawa Inter menjuarai scudetto musim ini.

"Inter memasuki periode sulit di awal musim karena cedera dan performa buruk. Namun, mereka kini bermain dan pemain yang cedera sudah bugar lagi. Skuad mereka adalah yang terkuat dan paling kompetitif," ujar Suarez.

"Mereka lebih dari sekadar tim dan mereka berkorban di lapangan. Ada perbedaan besar dibanding awal musim ini. Inter akan meraih gelar," tambahnya.

Leonardo melatih Inter pada 24 Desember lalu menggantikan Rafael Benitez, yang didatangkan dari Liverpool akhir musim lalu. Bersama Leonardo, Inter telah melewati empat laga Serie-A dan meraih 12 poin. Bandingkan dengan era Benitez, di mana Inter hanya mengetam enam kemenangan, lima hasil imbang, dan empat kali kalah.

Inter kini duduk di posisi keempat dengan 35 poin, atau kalah enam angka dari AC Milan di puncak klasemen. Mengingat Milan masih akan bertemu Milan dan memiliki satu laga tunda, meraih scudetto bukanlah target muluk. (GL)

Tuesday, January 18, 2011

Bencana Sepak Bola Nasional

Sejumlah suporter berdemo terkait kepemimpinan Nurdin Halid yang dianggap gagal memimpin PSSI, di halaman depan kantor PSSI, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (7/12/2010). KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI

Oleh Anton Sanjoyo

KOMPAS.com — Seperti Tragedi Heysel pada Mei 1985, kira-kira begitulah wajah sepak bola nasional kita saat ini. Di Stadion Heysel, Brussels, Belgia, pesta sepak bola final Piala Champions berubah menjadi bencana saat 39 penonton tewas, 32 di antaranya pendukung Juventus, setelah bentrok dengan pendukung Liverpool. Kebanyakan pendukung Juventus tewas setelah tembok pembatas roboh menimpa mereka selepas aksi agresif hooligan Liverpool yang memang terkenal sangat beringas.

Kini ”bencana” yang sama menerpa persepakbolaan nasional Indonesia. Saat bangsa ini dilanda euforia sepak bola berkat penampilan elok tim ”Garuda Merah-Putih” pada Piala AFF, kegembiraan itu dirampas oleh arogansi dan politisasi para pengurus sepak bola. Tragedi belum juga usai karena selepas turnamen, momentum hebat euforia sepak bola nasional kembali terbuang percuma saat Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menghabiskan energinya untuk berseteru dengan pengelola Liga Primer Indonesia (LPI). Sepertinya, insan-insan sepak bola yang gagah mengaku sebagai pembina kembali melakukan kebodohan yang sama, seperti ketika kita kehilangan momentum besar kebangkitan sepak bola pada Piala Asia 2007.

Sungguh tidak dapat diterima, justru pengurus sepak bola nasionallah yang membuat penampilan hebat Firman Utina dan kawan-kawan menjadi antiklimaks dan tumbang oleh keperkasaan Malaysia yang pernah ditekuk 1-5 pada babak penyisihan grup. Dukungan menggebu penonton yang sebenarnya telah teraniaya oleh buruknya administrasi distribusi tiket, seperti disia-siakan oleh ambisi para politikus di PSSI yang mendompleng kehebatan pasukan ”Garuda”. Tim asuhan Alfred Riedl ini dimobilisasi sowan ke rumah Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, kemudian diboyong ke sebuah pondok pesantren yang sungguh membuat persiapan Riedl menjadi berantakan.

Riedl, yang sejatinya pelatih bertangan dingin, yang mampu menyulap tim ”Garuda” menjadi sebuah skuad yang penuh gairah dan disiplin, sempat mengungkapkan kekesalannya itu kepada media saat jumpa pers di Bukit Jalil, Malaysia. ”Federasi (PSSI) mengganggu persiapan tim saya dengan hal-hal yang tidak penting dan tak berkaitan dengan sepak bola,” ujar pelatih asal Austria itu.

Keluhan Riedl tersebut sangat dimengerti mengingat pelatih yang pernah menangani Vietnam dan Laos itu memang sangat disiplin, keras, bahkan cenderung kaku. Ketua Umum PSSI Nurdin Halid pun mengaku pernah ”diusir” Riedl dalam sebuah pertemuan teknis menjelang Piala AFF. Riedl pun pernah berseteru dengan manajer timnas, Andi Darussalam Tabussala, karena masalah tertib organisasi. Sayangnya, sepulang dari Bukit Jalil, Riedl tiba-tiba meralat ucapannya.

Inilah bencana pertama bagi persepakbolaan nasional. Kekuatan utama Riedl adalah pada disiplin dan ”kekakuannya” menjaga Firman dan kawan-kawan. Pada suatu titik, Riedl rupanya sudah tidak tahan menahan beragam kepentingan politik yang diboncengkan kepada timnya. Ia mulai menyerah saat Firman cs dibawa ke rumah keluarga Bakrie. Selanjutnya, kita semua tahu, tim ”Garuda” gagal meraih impian lama merebut gelar juara.

Namun, bukan kegagalan meraih juara yang benar sebuah bencana. Tragedi sesungguhnya adalah perubahan sikap Riedl. Ralatnya terhadap ucapannya sendiri di Bukit Jalil menunjukkan, ia menyerah kepada politisi PSSI. Jika ia menyerah, artinya ia membuka pintu selebar-lebarnya pada intervensi-intervensi selanjutnya. Jika benar ini terjadi—dan semoga saja tidak—tidak ada lagi yang bisa kita harapkan dari mantan ujung tombak timnas Austria itu.

Tak lama setelah bencana Riedl, sepak bola Indonesia kembali mengalami masa-masa kelam akibat perseteruan antara PSSI dan pengelola LPI. Sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap kinerja PSSI—yang selama delapan tahun masa kepengurusan Nurdin Halid tidak menghasilkan prestasi di tingkat internasional—kompetisi yang digagas oleh pengusaha Arifin Panigoro seharusnya disikapi wajar-wajar saja, tanpa perlu memberi muatan-muatan politik, apalagi syak wasangka picik.

Sebagai kompetisi yang dicita-citakan menjadi profesional dan bersih, seharusnya LPI diberi kesempatan untuk membuktikan dirinya tanpa harus diganggu, apalagi diancam-ancam. Sikap PSSI yang berkeras dengan menyatakan LPI sebagai kompetisi ilegal dan harus dilarang justru semakin menunjukkan arogansi organisasi olahraga tertua di Indonesia tersebut.

Jika PSSI bertindak lebih arif dengan memberikan ruang kepada LPI untuk duduk bersama demi kebangkitan sepak bola nasional, tampaknya kita bisa menghindarkan diri dari lanjutan bencana sepak bola. Kalaupun PSSI tidak sepakat, tidak perlu pula membuang energinya dengan sikap konfrontatif yang akan merugikan sepak bola itu sendiri.

Jauh lebih bermanfaat jika PSSI justru menyalurkan energinya untuk membenahi mutu kompetisi Liga Super Indonesia yang meski sudah teratur dan makin besar kapitalisasinya, belum juga menghasilkan tim nasional yang berprestasi. Mutu kompetisi, antara lain, bisa diangkat dengan menaikkan mutu pelatih dan wasit. Jika PSSI benar-benar mau bekerja keras, kita tidak lagi bicara pada level Asia Tenggara atau Piala AFF yang masih berada di ”tingkat kecamatan” dalam tata pergaulan sepak bola internasional. Dengan jutaan bakat yang tersebar di seluruh Nusantara, Indonesia seharusnya sudah berbicara di tingkat elite Asia dan lawan-lawan kita bukan lagi Malaysia atau Thailand, melainkan Jepang, Korea Selatan, atau Australia.

Syaratnya, PSSI harus mulai bertindak menggulirkan kompetisi berjenjang dan benar-benar bekerja untuk pembinaan usia dini. Bakat-bakat istimewa yang dipunyai Okto Maniani, Yongki Ariwibowo, atau Arif Suyono seharusnya sudah berada di tingkat elite Asia, bukan klub lokal, jika mereka terbina dalam kompetisi bermutu sejak berusia 10-12 tahun.

Bola kini berada di tangan para petinggi PSSI, apakah akan memilih terus berkonfrontasi atau mengambil langkah bijak menyelesaikan baik-baik masalahnya dengan LPI. Jika langkah pertama yang dipilih, bersiaplah menghadapi bencana sepak bola nasional. Terserah.

Tuesday, January 11, 2011

Suporter Sepak Bola Semakin Dewasa

Suporter cilik tampak antusias mendukung timnas Indonesia sebelum partai final leg kedua Piala AFF 2010 antara timnas Indonesia melawan Malaysia, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Rabu (29/12/2010).

JAKARTA, KOMPAS.com - Selain menghadirkan atmosfer spektakuler di dalam stadion sepanjang turnamen, kedewasaan suporter menerima kegagalan tim nasional Indonesia dalam meraih gelar Piala AFF 2010 pantas mendapat apresiasi tinggi. Namun, kedewasaan itu tidak diikuti PSSI yang justru bersikap kekanak-kanakan dan gagal melayani gairah meluap para suporter.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di Jakarta, Kamis (30/12/2010), mengucapkan terima kasih kepada suporter yang telah bersikap sportif dan tidak menciptakan kerusuhan. Suporter Indonesia dinilai sebagai masyarakat yang telah dewasa dan mampu menjaga keamanan dan ketertiban Ibu Kota.

”Alhamdulillah semua berlangsung aman. Semua ini terwujud atas niat baik warga Jakarta dan Indonesia untuk mendukung olahraga di Indonesia tumbuh dan berkembang dengan baik. Sikap ini patut diapresiasi dan bisa jadi contoh di kemudian hari,” kata Fauzi Bowo.

Masyarakat menunjukkan kedewasaannya dengan bersikap tertib sejak penyisihan sampai final. Sikap sportif dan dewasa semacam ini diharapkan dapat terus dipertahankan oleh suporter Indonesia saat mendukung tim nasional atau klub kesayangan mereka dalam berbagai ajang pertandingan.

Sikap kekanak-kanakan justru ditunjukkan pengurus PSSI, contohnya dengan pernyataan menjelang laga pertama bahwa Indonesia bakal walk out jika ada gangguan sinar laser. Akhirnya dalam ”15 menit yang kacau”, diawali terhentinya laga akibat protes gangguan laser, tim Merah-Putih kebobolan tiga gol di Kuala Lumpur. Pelatih Alfred Riedl menyebut momen itu sebagai kunci kegagalan menjadi juara, meski menang 2-1 di Jakarta.

Menurut sosiolog Universitas Indonesia, Tamrin Amal Tomagola, ada sejumlah faktor yang menyebabkan suporter begitu tertib meski harus kembali menelan kekecewaan seusai laga final. ”Pendukung Indonesia menyadari apa yang dilakukan penonton Malaysia adalah salah dan hal itu tidak pantas ditiru dan dibalas,” kata Tamrin.

Lebih lanjut, suporter juga realistis, sangat berat untuk mengatasi ketinggalan 3-0. ”Suporter melihat sendiri pemain telah bekerja keras di lapangan dan menerima kegagalan itu karena tahu tidak ada yang salah dengan tim nasional Indonesia. Suporter menyadari masalah sesungguhnya justru ada di PSSI dan Nurdin Halid,” papar Tamrin.

Sepanjang turnamen, teriakan ”Nurdin turun, Nurdin turun!” terus menggema di Gelora Bung Karno, bahkan sekalipun Indonesia menang. Desakan agar Nurdin Halid mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI juga menggema hebat di situs jaringan sosial Facebook dan microblogging Twitter.

Tamrin menambahkan, gairah luar biasa suporter itu harus ditangkap sebagai momentum kebangkitan sepak bola Indonesia yang selama ini terpuruk. ”Harus ada rancangan, stimulans, perencanaan untuk membangkitkan persepakbolaan. Sepak bola harus jadi gerakan yang luas, diawali dengan reformasi di PSSI yang jadi akar permasalahan sepak bola di Indonesia,” ujar Tamrin. (ECA/RAY)

Tuesday, December 28, 2010

Sepak Bola Bukan Ilmu Eksak

KOMPAS.COM/LAKSONO HARI WIWOHOKetua Umum PSSI Nurdin Halid.

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum PSSI Nurdin Halid meminta tim nasional Indonesia untuk melupakan kemenangan besar atas Malaysia pada babak penyisihan lalu. "Harimau Malaya" yang akan ditantang pasukan "Merah Putih" di pertandingan final leg pertama Piala AFF 2010, kata Nurdin, bukan tim enteng lagi.

Firman Utina dan kawan-kawan memang pernah mempermalukan tim besutan K Rajagopal itu dengan skor telak 5-1 pada babak penyisihan Grup A. Kekalahan itu tidak lantas menjatuhkan mental Malaysia. Mereka bangkit dan secara mengejutkan lolos ke babak final setelah menyingkirkan juara bertahan Vietnam dengan skor agregat 2-0.

Nurdin menilai Malaysia bukan tim yang mudah dikalahkan. Jadi, ia meminta tim besutan Alfred Riedl itu untuk tidak tampil terlalu percaya diri pada pertandingan nanti.

"Insya Allah (menang). Saya berdoa kita bisa juara," kata Nurdin kepada wartawan di kantor PSSI, Rabu (22/12/2010) malam.

"Namun, jangan dilihat ukuran kemenangan 5-1. Sepak bola bukan ilmu eksak. Yang paling penting adalah menarik ditonton dan memenangi pertandingan," lanjutnya.

Monday, December 20, 2010

Ical: Sepak Bola Persatukan Indonesia

KOMPAS IMAGES/Roderick Adrian MozesRibuan suporter berkumpul di depan layar lebar yang disediakan panitia untuk menonton putaran kedua laga semifinal Piala AFF 2010 Indonesia lawan Filipina di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (19/12/2010). Meskipun telah memilik tiket nonton pertandingan, sejumlah suporter tidak bisa masuk karena kapasitas stadion yang tidak mencukupi.

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie memuji penampilan tim sepak bola nasional Indonesia pada Piala AFF 2010. Keberhasilan Firman Utina dkk telah membangkitkan rasa kebanggaan dan persatuan bangsa Indonesia.

Ical, demikian sapaan Aburizal Bakrie, menyampaikan hal tersebut saat menyambut kedatangan rombongan timnas dan PSSI di kediamannya di Jalan Ki Mangun Sarkoro Nomor 42, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (20/12/2010).

Ditemani istrinya, Tatiek Bakrie, Ical datang sekitar pukul 11.00, sementara para pemain sudah hadir 45 menit sebelumnya. "Maaf jika saya terlambat karena ada keperluan lain," kata tuan rumah.

Setelah bersalaman dan bertegur sapa dengan pemain dan ofisial tim, Ical dan keluarga besarnya memberikan keterangan pers di salah satu sudut rumahnya yang berdekatan dengan taman dan kolam renang yang dilengkapi air mancur.

Di hadapan hadirin dan para jurnalis, Ical mengungkapkan kebanggaannya terhadap perjuangan timnas hingga masuk ke babak final. Ia juga memberikan apresiasi kepada para suporter yang memberikan dukungan penuh kepada tim "Merah Putih" dan ini telah membuat masyarakat Indonesia bersatu.

"Saya ucapkan terima kasih, yang pertama tentu kepada pelatih (Alfred Riedl). Yang kedua, kepada pemain; dan ketiga, tentu kepada pengurus PSSI," kata Ical.

"Ini bukti bahwa rasa nasionalisme kita masih ada. Timnas telah membangkitkan lagi rasa kebanggaan masyarakat sebagai bangsa Indonesia. Sepak bola berkat timnas telah mempersatukan bangsa Indonesia," ungkapnya.

Sementara itu, kapten timnas Bambang Pamungkas menyampaikan rasa terima kasihnya kepada keluarga Bakrie karena telah memberikan dukungan penuh kepada timnas. Ia juga mengharapkan dukungan masyarakat agar tim "Garuda" memenangi partai final lawan Malaysia.

Tim "Garuda" dijadwalkan berangkat ke Malaysia pada 24 Desember. Laga pertama partai final akan digelar di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, pada 26 Desember. Adapun leg kedua akan berlangsung di Gelora Bung Karno pada 29 Desember.