Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Thursday, June 7, 2012

Sampai Kapan Darah Basuhi Sepak Bola Indonesia?

Pendukung Persebaya bersama anaknya menghindari paparan gas air mata yang dilepaskan aparat kepolisian seusai laga Liga Primer Indonesia antara Persebaya melawan Persija di Stadion Gelora 10 Nopember Surabaya, Minggu (3/6/2012). Aparat kepolisian terlibat bentrok dengan bonek seusai laga pertandingan yang berakhir imbang 3-3.

TANGIS menyelimuti sepak bola Indonesia. Di tengah karut-marut kompetisi dan perseteruan sejumlah pengurus yang makin mengecewakan, publik pencinta sepak bola Tanah Air kembali harus menyaksikan darah puluhan pemuda tertumpah di lapangan sepak bola. Kegembiraan menyaksikan permainan indah itu, kini seakan telah berubah menjadi olahraga yang amat menakutkan.

Sepak bola sejatinya memang tak bisa lepas dari unsur fanatisme yang terkadang berujung kekerasan maupun perkelahian para pendukung setia sejumlah klubnya. Tidak hanya di Indonesia, untuk level dunia pun sudah banyak bukti nyata yang menggambarkan bahwa olahraga tersebut bukan lagi sekadar pertarungan antara 22 manusia di dalam lapangan.

Masih lekat di benak pencinta bola, insiden berdarah yang terjadi di Liga Mesir, Febuari lalu. Seusai laga antara tuan rumah Al-Masri melawan Al-Ahly itu, 73 jiwa melayang sia-sia di atas rumput Stadion Port Said karena kerusuhan antarsuporter kedua tim. Dengan menggunakan pisau, kayu, dan benda tumpul lainnya, pendukung fanatik Al-Masri secara beringas menganiaya pendukung Al-Ahly di tengah lapangan.

Untuk level lebih tinggi, pertemuan Juventus dan Liverpool di final Liga Champions di Stadion Heysel, Brussels, Belgia, menjadi salah satu sejarah kelam sepak bola. Pertandingan dua raksasa Eropa pada 29 Mei 1985 itu diwarnai insiden tragis. Ejekan suporter kedua tim tersebut membuat emosi pecah hingga membuat pagar yang pemisah kedua suporter roboh. Walhasil, kericuhan terjadi dan 39 suporter tewas akibat peristiwa ini.

Nyawa tak berdosa
Sejumlah contoh itu memang lebih jauh menakutkan jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia. Akan tetapi, segala bentuk tindakan apa pun, sangat disayangkan apabila hingga memakan korban jiwa. Apalagi, selama tiga bulan terakhir, sembilan anak Negeri telah meregang nyawa akibat sepak bola Indonesia.

Pada Jumat (9/3/2012) malam, rombongan suporter Persebaya Surabaya yang hendak menuju Bojonegoro untuk mendukung timnya berlaga melawan Persibo dilempari batu oleh warga saat kereta api barang yang ditumpanginya masuk wilayah Babat, Lamongan. Sontak, kepanikan terjadi. Beberapa suporter yang berusaha menghindar kemudian terjatuh karena tersangkut kabel.

Akibat insiden itu, lima nyawa "Bonek Mania"—sebutan pendukung setia Persebaya—melayang. Sebanyak 18 pendukung lainnya mengalami luka-luka karena terkena lemparan batu dan terjatuh dari atas kereta api yang membawa mereka.

Dua bulan berselang, giliran Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, yang menjadi saksi tiga darah pemuda mengalir di dunia sepak bola Indonesia. Adalah Lazuardi (29), warga Menteng, Jakarta Pusat, yang tewas setelah dianiaya suporter seusai menyaksikan laga klasik antara Persija Jakarta dan Persib Bandung dalam lanjutan ISL. Nyawa dua orang lainnya, Rangga Cipta Nugroho (22) dan Dani Maulana (16), pun turut terenggut dalam insiden itu.

Tak sampai sepekan, Minggu (3/6/2012) malam, seorang "Bonek Mania", Purwo Adi Utomo, juga menjadi korban kejamnya sepak bola Indonesia. Pemuda yang masih berstatus sebagai pelajar kelas III SMK Negeri 5 Surabaya itu tewas terinjak-injak dalam kericuhan antara suporter dan aparat keamanan seusai laga Persebaya melawan Persija Jakarta dalam lanjutan IPL di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambak Sari, Surabaya.

Aparat vs fanatisme
Sejumlah kenyataan menyedihkan tersebut kini terpampang jelas dalam dunia sepak bola Indonesia. Sangat disesalkan, olahraga yang digadang-gadang penuh sportivitas itu harus dirusak oleh sejumlah pendukung maupun segelintir pihak lain yang tidak bertangung jawab. Tak ayal, penyesalan dan kecaman pun datang dari beberapa insiden berdarah tersebut.

"Sepak bola Indonesia ini sudah rusak, jadi jangan ditambahi dengan masalah-masalah seperti ini. Sepak bola seharusnya tidak sampai seperti ini. Sampai kapan lagi sepak bola harus kehilangan nyawa-nyawa yang tidak perlu," sesal kapten Persija, Bambang Pamungkas, menanggapi sejumlah insiden berdarah itu.

Sosiolog Imam B Prasodjo berpendapat, kekerasan yang dilakukan suporter sepak bola merupakan bentuk emosional primitif yang mengarah ke perlakuan hewani. Jika tidak segera diselesaikan, proses kristalisasi sebagai kelompok suporter yang selalu menganggap lawannya adalah musuh, kekerasan itu masih terus terjadi dan bisa mengeras lagi.

"Yang menjadi perekat kelompok suporter adalah rasa kekitaan yang sangat emosional. Akibatnya, orang beranggapan bahwa di luar kelompok saya adalah musuh. Jika dibiarkan, nantinya kelompok ini bisa masuk ke dalam lingkaran budaya kekerasan yang menjadikan mereka bertindak sebagai mesin yang membenci kelompok lain," ujar Imam.

Memang, selain fanatisme sempit di setiap insiden berdarah dalam sepak bola itu memang juga tak bisa dilepaskan dari peran aparat dalam mengamankan sebuah pertandingan. Sebab, tak jarang, mereka pun dinilai bertanggung jawab atas sejumlah insiden itu. Tidak hanya di Indonesia, tragedi Hillsborough antara Liverpool dan Nottingham Forest pada 1989 menjadi kritik keras buat aparat keamanan yang dinilai teledor.

Guru Besar Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, saat dihubungi Kompas.com di Jakarta, Senin (4/6/2012) malam, menilai aparat harus merancang bermacam usaha mencegah konflik di antara para suporter. Ia menilai, prosedur itu harus juga dilaksanakan secara baik ketika mengamankan suatu pertandingan besar yang identik dengan pendukung kesebelasan yang fanatik.

"Polisi pasti memiliki pertimbangan lain, karena tugas polisi adalah menciptakan public order. Memang perlu ada evaluasi kedua belah pihak. Jika polisi salah menerapkan tugasnya, silakan diperiksa. Tetapi, suporter juga harus sadar diri untuk tetap tertib dan tidak membuat masalah. Saya yakin, jika tidak ada hal-hal aneh, insiden itu tidak akan pernah terjadi," ujar Adrianus.

Respons dan tindakan nyata
Terlepas sebab muasal dari insiden berdarah tersebut, hilangnya puluhan nyawa itu telah menambah buruk sejarah kelam sepak bola Indonesia. Belum ada cara, respons, dan tindakan tegas untuk menyelesaikan persoalan itu secara nyata. Memang bukan pekerjaan mudah. Tapi, apakah sebanding jika olahraga favorit jutaan rakyat Indonesia ini terus memakan korban jiwa?

Lihat saja, Pemerintah Mesir langsung menghentikan seluruh kegiatan sepak bolanya akibat insiden berdarah di Port Said. Seluruh tim sepak bola Inggris pun berbesar hati rela menerima hukuman larangan tanding di kompetisi Eropa selama lima tahun dari FIFA atas ulah pendukung Liverpool dalam tragedi Heysel yang terjadi 27 tahun silam. Hasilnya, respons itu pun berbuah nyata, yakni sepak bola mereka dapat berkembang jauh lebih baik.

Bagi suporter, tak berlebihan juga jika mereka mencontoh rivalitas sejumlah klub luar negeri. Lihat saja perseteruan antara Barcelona-Real Madrid ataupun AC Milan-Inter Milan. Alasan kebencian yang mendarah daging dalam benak pendukung keempat tim itu yang berkaitan dengan sejarah panjang perjalanan bangsa mereka, bahkan jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan fanatisme suporter di Indonesia.

Namun, bagi Barcelona, Madrid, Milan, maupun Inter, rivalitas yang mengakibatkan pertumpahan darah adalah warisan kuno yang tak pantas dilakukan di era modern saat ini. Rivalitas dan fanatisme, bagi mereka, telah bertransformasi menjadi pertarungan sehat dan sengit di dalam lapangan. Sepak bola pun akan kembali pada hakikatnya, yakni sebagai permainan indah 22 manusia di atas rumput!

Melihat sejumlah fakta itu, sangat pantas jika pertanyaan besar disematkan kepada para suporter, pengurus, serta penanggung jawab sepak bola Indonesia. Kini, semuanya kembali pada kemauan dan keseriusan mereka membangun olahraga itu tanpa ada lagi ratapan tangis dan air mata, apalagi darah tertumpah. Sangat picik jika olahraga indah itu hanya terus menjadi penyumbang duka puluhan pemuda yang meregang nyawa akibat sepak bola.

Thursday, November 24, 2011

Sementara Indonesia Unggul 2-1 atas Thailand

Striker timnas Indonesia, Titus Bonai (Tibo).

JAKARTA, KOMPAS.com -  Tim Nasional Indonesia U-23 untuk sementara unggul 2-1 atas Thailand hingga menit 70 babak kedua lanjutan penyisihan Grup A cabang sepak bola SEA Games XXVI, Minggu (13/11/2011) malam.

Gol pertama Indonesia dicetak oleh Titus Bonai pada babak pertama. Kedua tim tampil memeragakan permainan cepat. Namun, malapateka menimpa Thailand. Tim besutan Prapol Pongpanich itu harus bermain sepeluh pemain setelah Theeraton Bunmathan mendaptkan akumulasi kartu kuning pada menit ke-13. Pemain bernomor punggung 15 tersebut diganjar kartu kuning kedua akibat menjatuhkan Andik Vermansyah saat melakukan penetrasi di sayap kanan. Indonesia yang unggul jumlah pemain semakin terlihat mendominasi permainan.

Bek Diego Michiels yang rajin melakukan pentrasi dari sayap kanan nyaris membobol gawang Thailand. Sayang tembakan Diego masih bisa digagalkan oleh kiper Thailand, Ukrit Wongmeema pada menit ke-16.

Meskipun demikian, Indonesia tidak dibiarkan leluasa bermain. Beberapa kali serangan yang dilancarkan Egi Melgiansyah dan kawan-kawan berhasil dipatahkan barisan pertahanan Thailand.

Indonesia tak menyerah begitu saja. Mereka terus menjaga intensitas serangannya. Akhirnya, perjuangan keras Indonesia membuahkan hasil berkat gol yang diciptakan Titus Bonai pada menit ke-33. Gol tersebut berawal dari umpan silang Hasim Kipuw setelah melakukan pentrasi di sektor kanan. Umpan tersebut langsung disambut Tibo dengan sundulan dan gol.

Gol tersebut membuat Indonesia semakin menggila. Dengan permainan cepat dan impan satu-dua, Indonesia terus melancarkan serangan ke jantung pertahanan Thailand. Serangan Indonesia nyaris membuahkan hasil pada menit ke-39.

Setelah menguasai bola, Tibo mengirimkan umpan terobosan kepada Andik. Melihat kiper Thailand maju, Andik langsung mengangkat bola. Sayang bola justru melayang di atas mistar Thailand. Tidak ingin kehilangan momen, Indonesia terus membombardir pertahanan Thailand. Akan tetapi, tidak ada gol tambahan hingga turun minum.

Pada awal babak kedua, meski Indonesia langsung menggebrak, justru Thailand yang berhasil memetik gol lewat tendangan pinalti, setelah Abdurrahman  mengganjal penyerang Gajah putih di kotak pinalti Indonesia. Kapten kesebelasan Thailand Ronnachai Rangsiyo berhasil mengeksekusi dengan mengecoh Kurnia Mega, 1-1.

Untungnya tidak lama kemudian, Patrich Wanggai berhasil membawa Indonesia kembali unggul 2-1 melalui sundulan setelah terjadi kemelut di depan gawang Thailand.

Singkirkan Thailand, Indonesia Lolos ke Semifinal

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOPemain Indonesia, Partich Wanggai (kanan) berebut bola dengan pemain Thailand, Komkrit Cumsokcheak pada laga penyisihan Grup A cabang sepak bola SEA Games XXVI/2011 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (13/11/2011). Indonesia menang dengan skor 3-1.

JAKARTA, KOMPAS.com - Tim nasional Indonesia U-23 berhasil lolos ke semifinal setelah membungkam Thailand 3-1, Minggu (13/11/2011). Tambahan tiga poin membuat Indonesia kembali mengoleksi sembilan poin, sekaligus menyingkirkan tim sepak bola Thailand dari SEA Games.

Sebetulnya, kedua tim tampil memeragakan permainan cepat. Namun, malapateka menimpa Thailand. Tim besutan Prapol Pongpanich itu harus bermain sepeluh pemain setelah Theeraton Bunmathan mendaptkan akumulasi kartu kuning pada menit ke-13. Pemain bernomor punggung 15 tersebut diganjar kartu kuning kedua akibat menjatuhkan Andik Vermansyah saat melakukan penetrasi di sayap kanan.

Indonesia yang unggul jumlah pemain semakin terlihat mendominasi permainan. Bek Diego Michiels yang rajin melakukan pentrasi dari sayap kanan nyaris membobol gawang Thailand. Sayang tembakan Diego masih bisa digagalkan oleh kiper Thailand, Ukrit Wongmeema pada menit ke-16.

Meskipun demikian, Indonesia tidak dibiarkan leluasa bermain. Beberapa kali serangan yang dilancarkan Egi Melgiansyah dan kawan-kawan berhasil dipatahkan barisan pertahanan Thailand. Indonesia tak menyerah begitu saja. Mereka terus menjaga intensitas serangannya.

Akhirnya, perjuangan keras Indonesia membuahkan hasil berkat gol yang diciptakan Titus Bonai pada menit ke-33. Gol tersebut berawal dari umpan silang Hasim Kipuw setelah melakukan pentrasi di sektor kanan. Umpan tersebut langsung disambut Tibo dengan sundulan dan gol. Gol tersebut membuat Indonesia semakin menggila.

Dengan permainan cepat dan umpan satu-dua, Indonesia terus melancarkan serangan ke jantung pertahanan Thailand. Serangan Indonesia nyaris membuahkan hasil pada menit ke-39. Setelah menguasai bola, Tibo mengirimkan umpan terobosan kepada Andik. Melihat kiper Thailand maju, Andik langsung mengangkat bola. Sayang bola justru melayang di atas mistar Thailand.

Tidak ingin kehilangan momen, Indonesia terus membombardir pertahanan Thailand. Akan tetapi, tidak ada gol tambahan hingga turun minum.

Di awal babak kedua, Indonesia diganjar hukuman penalti setelah Abdurahman menjatuhkan Sarach Yooyen. Ronnachai Rangsiyo yang tampil sebagai eksekutor sukses menjaringkan bola pada menit ke-51. Kedudukan pun menjadi imbang 1-1. Namun hasil imbang tersebut hanya bertahan 12 menit. Indonesia kembali unggul 2-1 berkat gol yang diciptakan Patrich Wanggai memanfaatkan sepak pojok.

Indonesia pun semakin di atas angin, setelah  Thailand harus bermain sembilan pemain karena Ekkasit Chaobut mendapatkan akumulasi kartu kuning pada menit ke-65. Chaobut diganjar kartu kuning kedua akibat melanggar Andik.

Indonesia pun mampu memaksimalkanya. Ferdinand Sinaga berhasil mencetak gol di masa injury time. Berawal dari serangan balik, Wanggai mengirimkan umpan silang. Ferdinand menyambut umpan tersebut dan gol. Gol itu pun mengunci kemenangan Indonesia 3-1.

Susunan Pemain

Indonesia: 1- Kurnia Meiga; 13-Gunawan Dwi Cahyo, 28-Abdul Rahman, 15-Hasim Kipuw, 24-Diego Michiels; 8-Egi Melgiansyah, 26-Hendro Siswanto (Mahardiga Lasut 56); 21-Andik Vermansyah (Lucas Mandowen 87), 10-Octovianus Maniani (Ferdinand Sinaga 80), 27-Patrich Wanggai; 25-Titus Bonai

Thailand: 18-Ukrit Cumsokcheak; 3-Seeket Madputeh, 8-Sarach Yooyen, 9-Ronnachai Rangsiyo, 11- Isarapong Lilakorn, 12-Kroekrit Thawikan, 14-Natarid Thammroddodpon, 15- Theeraton Bunmathan, 16-Sutjarit Jantakol, 17-Pokklaw A-Nan, 20-Komkrit Cumsokcheak

Bungkam Thailand, Indonesia Lolos ke Semifinal

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOPemain Indonesia, Partich Wanggai (kanan) berebut bola dengan pemain Thailand, Komkrit Cumsokcheak pada laga penyisihan Grup A cabang sepak bola SEA Games XXVI/2011 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (13/11/2011). Indonesia menang dengan skor 3-1.

JAKARTA, KOMPAS.com - Tim nasional Indonesia U-23 berhasil lolos ke semifinal setelah membungkam Thailand 3-1, Minggu (13/11/2011). Tambahan tiga poin membuat Indonesia kembali mengoleksi sembilan poin, sekaligus menyingkirkan tim sepak bola Thailand dari SEA Games.

Sebetulnya, kedua tim tampil memeragakan permainan cepat. Namun, malapateka menimpa Thailand. Tim besutan Prapol Pongpanich itu harus bermain sepeluh pemain setelah Theeraton Bunmathan mendaptkan akumulasi kartu kuning pada menit ke-13. Pemain bernomor punggung 15 tersebut diganjar kartu kuning kedua akibat menjatuhkan Andik Vermansyah saat melakukan penetrasi di sayap kanan.

Indonesia yang unggul jumlah pemain semakin terlihat mendominasi permainan. Bek Diego Michiels yang rajin melakukan pentrasi dari sayap kanan nyaris membobol gawang Thailand. Sayang tembakan Diego masih bisa digagalkan oleh kiper Thailand, Ukrit Wongmeema pada menit ke-16.

Meskipun demikian, Indonesia tidak dibiarkan leluasa bermain. Beberapa kali serangan yang dilancarkan Egi Melgiansyah dan kawan-kawan berhasil dipatahkan barisan pertahanan Thailand. Indonesia tak menyerah begitu saja. Mereka terus menjaga intensitas serangannya.

Akhirnya, perjuangan keras Indonesia membuahkan hasil berkat gol yang diciptakan Titus Bonai pada menit ke-33. Gol tersebut berawal dari umpan silang Hasim Kipuw setelah melakukan pentrasi di sektor kanan. Umpan tersebut langsung disambut Tibo dengan sundulan dan gol. Gol tersebut membuat Indonesia semakin menggila.

Dengan permainan cepat dan umpan satu-dua, Indonesia terus melancarkan serangan ke jantung pertahanan Thailand. Serangan Indonesia nyaris membuahkan hasil pada menit ke-39. Setelah menguasai bola, Tibo mengirimkan umpan terobosan kepada Andik. Melihat kiper Thailand maju, Andik langsung mengangkat bola. Sayang bola justru melayang di atas mistar Thailand.

Tidak ingin kehilangan momen, Indonesia terus membombardir pertahanan Thailand. Akan tetapi, tidak ada gol tambahan hingga turun minum.

Di awal babak kedua, Indonesia diganjar hukuman penalti setelah Abdurahman menjatuhkan Sarach Yooyen. Ronnachai Rangsiyo yang tampil sebagai eksekutor sukses menjaringkan bola pada menit ke-51. Kedudukan pun menjadi imbang 1-1. Namun hasil imbang tersebut hanya bertahan 12 menit. Indonesia kembali unggul 2-1 berkat gol yang diciptakan Patrich Wanggai memanfaatkan sepak pojok.

Indonesia pun semakin di atas angin, setelah  Thailand harus bermain sembilan pemain karena Ekkasit Chaobut mendapatkan akumulasi kartu kuning pada menit ke-65. Chaobut diganjar kartu kuning kedua akibat melanggar Andik.

Indonesia pun mampu memaksimalkanya. Ferdinand Sinaga berhasil mencetak gol di masa injury time. Berawal dari serangan balik, Wanggai mengirimkan umpan silang. Ferdinand menyambut umpan tersebut dan gol. Gol itu pun mengunci kemenangan Indonesia 3-1.

Susunan Pemain

Indonesia: 1- Kurnia Meiga; 13-Gunawan Dwi Cahyo, 28-Abdul Rahman, 15-Hasim Kipuw, 24-Diego Michiels; 8-Egi Melgiansyah, 26-Hendro Siswanto (Mahardiga Lasut 56); 21-Andik Vermansyah (Lucas Mandowen 87), 10-Octovianus Maniani (Ferdinand Sinaga 80), 27-Patrich Wanggai; 25-Titus Bonai

Thailand: 18-Ukrit Cumsokcheak; 3-Seeket Madputeh, 8-Sarach Yooyen, 9-Ronnachai Rangsiyo, 11- Isarapong Lilakorn, 12-Kroekrit Thawikan, 14-Natarid Thammroddodpon, 15- Theeraton Bunmathan, 16-Sutjarit Jantakol, 17-Pokklaw A-Nan, 20-Komkrit Cumsokcheak

Wednesday, November 23, 2011

RD Targetkan Indonesia Juara Grup

Penjaga gawang Thailand, Ukrit Wongmeena, hanya bisa melihat gawangnya dijebol striker Indonesia, Ferdinan Sinaga. Ini adalah gol yang membuat Indonesia unggul 3-1 atas Thailand, dalam pertandingan penyisihan Grup A SEA Games XXVI 2011, Minggu (13/11/11).

JAKARTA, KOMPAS.com - Meskipun telah memastikan lolos ke babak semifinal cabang sepak bola SEA Games XXVI, Pelatih Rahmad Darmawan (RD) menginginkan tim nasional Indonesia U-23 tampil sebagai juara grup. Oleh karena itu, RD tetap mengusung kemenangan saat melawan Malaysia pada pertandingan terakhir babak penyisihan Grup A, Kamis (17/11/2011) nanti.

"Kita tetap mengincar juara grup karena lawan yang akan dihadapi akan lebih mudah," kata RD.

Saat ini, Indonesia berada di puncak klasemen dengan mengoleksi sembilan poin setelah sukses membungkam Thailand 3-1. Indonesia yang otomatis lolos ke semifinal hanya unggul dua angka dari Malaysia di tempat kedua.

Laga terakhir antara Indonesia melawan Malaysia merupakan penentuan siapa yang akan menjadi juara grup. RD mengaku akan melakukan rotasi pemain saat melawan Malaysia nanti.

"Tujuannya memberi recovery pada pemain dan juga meberikan kesempatan kepada pemain untuk bermain termasuk melawan Malaysia. Mungkin akan banyak rotasi saat lawan Malaysia. Kita melawan Malaysia tanggal 17. Sementara semifinal tanggal 19. Kita hanya memiliki jeda hanya satu hari. Kita harus berhitung di semifinal. Tapi tetap kita tidak mau kalah (lawan Malaysia). Kita ingin menang," bebernya.

Jika Indonesia menjadi juara grup, maka Indonesia akan berhadapan dengan runner-up Grup B.

Tuesday, November 22, 2011

Indonesia Belum Sempurna

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESPelatih Timnas U-23, Rahmad Darmawan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik kemenangan luar biasa yang diraih tim nasional Indonesia U-23 atas Thailand 3-1, Minggu (13/11/2011), Egi Melgiansyah dan kawan-kawan belum sempurna.

"Kita kurang dalam transisi bertahan ke menyerang," kata RD. Selain itu, RD juga menilai timnya kerap melakukan umpan-umpan panjang. Padahal, RD mengaku telah menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain sabar dengan umpan satu-dua.

"Anak-anak coba melakukan dominasi permainan. Kebersamaan tim dalam melakukan serangan beberapa kali tidak jalan. Kita terpaksa melakukan long passing yang saya tidak inginkan. Tapi itu justru menjadi stimulan dengan kecepatan yang justru menguntungkan kita," beber RD.

Oleh karena itu, RD menyatakan akan membenahi permainan timnya dalam menghadapi pertandingan penyisihan terakhir melawan Malaysia, Kamis (17/11/2011). "Saya katakan sabar bermain bola dari bawah. Jujur, saya harus tanamkan kepercayaan diri pemain. Ada waktu untuk memperbaiki," tegasnya.

Wanggai Pentingkan Kemenangan Indonesia

Striker timnas U-23 Indonesia, Patrich Wanggai.

JAKARTA, KOMPAS.com - Bomber tim nasional Indonesia U-23, Patrich Wanggai, belum berpikir untuk menjadi pencetak gol terbanyak di SEA Games XXVI. Penyerang asal Papua itu hanya ingin mempersembahkan kemenangan bagi Indonesia.

Striker Persidafon Dafonsoro itu mencetak satu gol lagi saat Indonesia membungkam Thailand 3-1. Tambahan satu gol tersebut membuat Wanggai sementara menjadi pencetak gol terbanyak di timnas dengan empat gol.

"Itu nantilah (soal top skorer). Yang penting kita menang. Masalah siapa yang cetak gol, itu 'kan buat Indonesia juga," kata Wanggai usai pertandingan.

Wanggai pun mempersembahkan golnya tersebut bagi kakaknya yang menikah di Nabire pada hari ini. "Buat kakak saya yang menikah hari ini di Nabire, gol itu sebagai permintaan maaf karena saya tak bisa datang," ujar Wanggai.

Pada pertandingan itu, Wanggai kembali diduetkan dengan Titus Bonai. Duet pemain asal Papua itu semakin padu setelah beberapa kali merepotkan barisan pertahanan Thailand. "Mungkin karena kita sama-sama berasal dari Papua. Jadi, sudah kenal karakter satu sama lain," ungkapnya.

Monday, November 21, 2011

Kamboja Akui Indonesia Lebih Unggul

Pemain Timnas Indonesia, Okto Maniani (nomor 10), berusaha melewati pemain belakang Kamboja pada pertandingan penyisihan SEA Games XXVI di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Senin (7/11/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com — Kekalahan telak di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, membuat Pelatih Kamboja Lee Tae-hoon mengakui keunggulan kualitas pemain tuan rumah, Indonesia. Pelajaran 6-0 dalam laga SEA Games XXVI/2011 cabang sepak bola, kemarin, akan menjadi bahan perbaikan timnya ke depan.

"Ini pertandingan pertama kami dan tadi adalah pertandingan yang berat. Saya akui, skill pemain Indonesia memang di atas pemain Kamboja. Apalagi, mayoritas pemain kami masih kurang pengalaman," katanya dalam keterangan pers usai pertandingan, kemarin.

Pelatih asal Korea itu mengatakan, dirinya tidak akan terlalu mempermasalahkan kekalahan besar timnya. Pasalnya, menurut Lee, anak-anak asuhannya sudah bermain dengan maksimal sepanjang pertandingan.

"Tim telah berusaha dengan keras, tapi hasilnya kurang bagus. Yang jelas, pemain muda kami terus mengalami peningkatan. Pemain Kamboja belum matang, masih sangat muda karena rata-rata diambil di U-19 dan U-20," ungkapnya.

Lee menilai duel dengan Indonesia akan memberi pelajaran baru bagi anak-anak asuhnya. Dia akan fokus memberikan latihan kepada para pemain muda ini dan optimistis mereka dapat menunjukkan prestasi di kemudian hari.

Saturday, November 19, 2011

Andik: Gol Ini untuk Indonesia

Penyerang Timnas Indonesia U-23 Andik Vermansyah sebelum diwawancarai Kompas.com, di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (5/11/2011). KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI

JAKARTA, KOMPAS.com Penyerang Timnas U-23 Indonesia, Andik Vermansyah, mendedikasikan gol yang diciptakannya ke gawang Kamboja bagi masyarakat Indonesia. Andik yang baru masuk dengan menggantikan Ferdinand Sinaga pada babak kedua, tepatnya pada menit ke-61, langsung menunjukkan kemampuannya.

Penyerang Persebaya 1927 itu tampil sangat impresif dengan mencetak gol kelima untuk Indonesia pada menit ke-80. Dia juga memberikan umpan cantik bagi Ramdhani Lestaluhu untuk membukukan gol, empat menit kemudian. Keunggulan Indonesia 4-0 di babak pertama diperbesar dengan dua gol atas peran Andik sehingga Indonesia menang 6-0 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (7/11/2011) malam.

"Aku senang mencetak gol pertama untuk Indonesia. Aku persembahkan gol untuk masyarakat Indonesia," katanya seusai pertandingan.

Meski menang dengan skor besar, Andik mengingatkan diri untuk tidak langsung berpuas diri. Apalagi, tiga lawan segrup yang belum dihadapi, Thailand, Malaysia, dan Singapura, terhitung sebagai tim yang berat di Asia Tenggara.

"Kami harus lebih menjaga kekompakan tim di dalam dan di luar lapangan. Kami juga tak boleh puas dengan hasil ini," ungkapnya.

Andik juga bertekad untuk berlatih lebih baik lagi untuk pertandingan-pertandingan ke depan. Pada pertandingan hari Jumat (11/11/2011), Indonesia akan berhadapan dengan negara tetangga, Singapura, yang ditahan 0-0 oleh Malaysia dalam pertandingan sebelum Indonesia versus Kamboja, Senin kemarin.

"Di pertandingan selanjutnya, kami akan lawan Singapura. Mereka lawan yang cukup bagus, salah satu pesaing kuat. Postur mereka juga bagus," tandasnya.

Monday, October 31, 2011

Dua Anak Indonesia Masuk Seleksi Akademi Arsenal

Pemain Tunas Garuda, Rangga, Fahmi, dan Dani berfoto sebelum bertanding di London, Inggris, Jumat (28/10/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com Dua anak Indonesia yang berangkat untuk mengikuti pelatihan di Arsenal berhasil menarik perhatian tim pelatih Akademi Arsenal. Rangga Pratama dan Nazarul Fahmi dipanggil secara khusus oleh pihak Akademi Arsenal untuk tinggal selama dua hingga enam bulan dan menjalani serangkaian seleksi lanjutan penerimaan di Akademi Arsenal.

"Kami ditelepon pihak manajemen Akademi Arsenal ketika di bandara yang meminta Rangga dan Fahmi untuk kembali ke Akademi guna menjalani seleksi lanjutan," ujar tim ofisial Tunas Garuda, Nina Reganata, dalam rilisnya di Jakarta, kemarin.

Rangga adalah peserta tim seleksi Tunas Garuda yang mewakili Kota Palembang, sementara Fahmi adalah peserta yang mewakili Kota Medan. Kedua pesepak bola muda ini berpeluang besar masuk ke tim inti Arsenal yunior karena mampu tampil gemilang saat ekshibisi yang dilakukan oleh Arsenal Development melawan Wycombe dan Brighton.

Rangga terpilih menjadi kiper utama selama tiga babak dan baru digantikan pada babak keempat ketika melawan Wycombe. Dia nyaris tak banyak bekerja keras pada dua babak pertandingan. Ia baru mendapatkan tantangan pada babak ketiga. Satu gol bersarang, tetapi ia mampu melakukan tiga penyelamatan gemilang.

"Rangga luar biasa. Soal gol, semua kiper pasti akan mengalaminya. Namun, ia sangat berani di pertandingan ini," kata Luthfi Ahmad, staf pelatih Tunas Garuda yang ikut mendampingi mereka.

Sementara itu, Fahmi yang baru bermain pada babak ketiga ketika melawan Brighton tampil gemilang dalam laga di Stadion The Grove, Burnham, Jumat (28/10/2011) sore waktu setempat. Fahmi berhasil menunjukkan performa terbaiknya. Melalui umpan-umpannya, permainan Arsenal Development menjadi menarik dan tidak monoton lagi.

PT Liga Indonesia Tunda Laporan ke PSSI

JAKARTA, KOMPAS.com Rencana PT Liga Indonesia untuk melaporkan hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) pada Kamis lalu kepada PSSI gagal dilakukan hari ini, Senin (31/10/2011). Menurut Presiden Direktur PT Liga Indonesia Syahril Taher, pihaknya masih harus menunggu penandatanganan kontrak komersial kompetisi Liga Super Indonesia musim 2011/2012 dengan pihak ANTV.

Berdasarkan informasi yang diterima, pihak PT Liga Indonesia baru akan melakukan penandatanganan kontrak nanti malam. Seperti diketahui sebelumnya, ANTV merupakan stasiun TV swasta yang terpilih sebagai pemegang hak komersial kompetisi. Mereka berhak menyiarkan pertandingan liga yang akan dimulai pada 1 Desember nanti setelah membayar kontrak senilai Rp 130 miliar selama satu musim.

"Kami masih mau melakukan penandatanganan kontrak dengan ANTV. Jadi, tidak mungkin hari ini (melaporkan ke PSSI). Kemungkinan besar besok (Selasa)," katanya saat dihubungi wartawan, Senin (31/10/2011).

Adapun hasil lain yang diputuskan dalam RUPS tersebut adalah pengesahan struktur kepengurusan baru PT Liga Indonesia. Para peserta yang hadir sepakat menunjuk Ketua Umum Persiba Balikpapan Syahril Taher sebagai Direktur Utama PT Liga Indonesia dan Presiden Direktur Persisama Samarinda Harbiansyah Hanafiah sebagai Komisaris Utama.

Peserta RUPS juga sepakat soal pembagian saham PT Liga. Sesuai amanat Kongres PSSI di Bali, 99 persen saham PT Liga kini dikuasai oleh klub Liga Super Indonesia (ISL) dan sisanya menjadi milik PSSI.

Thursday, October 27, 2011

PSSI Cabut Kewenangan PT Liga Indonesia

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESKetua Umum PSSI Djohar Arifin Husin.

JAKARTA, KOMPAS.com — PSSI mencabut semua kewenangan PT Liga Indonesia secara resmi. Surat keputusan per tanggal 22 Agustus itu ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin.

"PSSI mencabut delegasi penyelenggaraan kompetisi sepak bola profesional dari PT Liga Indonesia, dan menyatakan PT Liga Indonesia sudah tidak memiliki kewenangan apa pun yang berkaitan dengan penyelenggaraan kompetisi profesional di bawah yurisdiksi PSSI," demikian salah satu butir keputusan tertulis.

Namun, PSSI juga tetap akan meminta pertanggungjawaban PT Liga Indonesia untuk menyelamatkan aset dan kepentingan PSSI di dalam PT Liga Indonesia. Hal ini, seperti tertulis, dilakukan PSSI dalam kapasitas sebagai pemegang saham mayoritas.

PSSI merasa berhak mencabut kewenangan PT Liga Indonesia berdasarkan sejumlah pertimbangan. Pertimbangan yang disandingkan dengan dasar Pasal 79 Statuta PSSI, antara lain, telah terpilihnya pengurus baru PSSI berdasarkan Kongres Luar Biasa PSSI Tahun 2011, posisi PT Liga Indonesia yang masih dalam pemeriksaan audit laporan keuangan oleh PSSI, serta tenggat waktu dari AFC untuk penyelenggaraan kompetisi profesional yang mendesak PSSI untuk segera membentuk badan hukum baru sebagai penyelenggara kompetisi tersebut.

Menurut surat keputusan itu, tenggat waktu dari AFC tersebut akhirnya mendesak PSSI untuk mencabut delegasi penyelenggaraan kompetisi profesional dari PT Liga Indonesia. Sementara itu, PT Liga Indonesia sendiri sudah menyiapkan jadwal kompetisi atas permintaan 14 klub yang menolak mengikuti Indonesia Premier League 2011-2012.

Kick-off sudah direncanakan akan dilakukan 1 Desember antara Persipura dan Arema. PT Liga Indonesia menjalankan amanah tersebut karena merasa pemilik saham terbesar adalah klub.

PSSI Cabut Kewenangan PT Liga Indonesia

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESKetua Umum PSSI Djohar Arifin Husin.

JAKARTA, KOMPAS.com — PSSI mencabut semua kewenangan PT Liga Indonesia secara resmi. Surat keputusan per tanggal 22 Agustus itu ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin.

"PSSI mencabut delegasi penyelenggaraan kompetisi sepak bola profesional dari PT Liga Indonesia, dan menyatakan PT Liga Indonesia sudah tidak memiliki kewenangan apa pun yang berkaitan dengan penyelenggaraan kompetisi profesional di bawah yurisdiksi PSSI," demikian salah satu butir keputusan tertulis.

Namun, PSSI juga tetap akan meminta pertanggungjawaban PT Liga Indonesia untuk menyelamatkan aset dan kepentingan PSSI di dalam PT Liga Indonesia. Hal ini, seperti tertulis, dilakukan PSSI dalam kapasitas sebagai pemegang saham mayoritas.

PSSI merasa berhak mencabut kewenangan PT Liga Indonesia berdasarkan sejumlah pertimbangan. Pertimbangan yang disandingkan dengan dasar Pasal 79 Statuta PSSI, antara lain, telah terpilihnya pengurus baru PSSI berdasarkan Kongres Luar Biasa PSSI Tahun 2011, posisi PT Liga Indonesia yang masih dalam pemeriksaan audit laporan keuangan oleh PSSI, serta tenggat waktu dari AFC untuk penyelenggaraan kompetisi profesional yang mendesak PSSI untuk segera membentuk badan hukum baru sebagai penyelenggara kompetisi tersebut.

Menurut surat keputusan itu, tenggat waktu dari AFC tersebut akhirnya mendesak PSSI untuk mencabut delegasi penyelenggaraan kompetisi profesional dari PT Liga Indonesia. Sementara itu, PT Liga Indonesia sendiri sudah menyiapkan jadwal kompetisi atas permintaan 14 klub yang menolak mengikuti Indonesia Premier League 2011-2012.

Kick-off sudah direncanakan akan dilakukan 1 Desember antara Persipura dan Arema. PT Liga Indonesia menjalankan amanah tersebut karena merasa pemilik saham terbesar adalah klub.

Monday, April 4, 2011

Toisutta Bertekad Bawa Indonesia Jadi "Macan Asia"

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal George Toisutta menyatakan siap dicalonkan menjadi Ketua Umum PSSI periode 2011-2015. Ia juga bertekad akan membawa Indonesia kembali menjadi "Macan Asia".

"Kita harus siap, apalagi ini tuntutan masyarakat agar sepak bola bagus. Satu hal, Presiden (SBY) telah berbicara bahwa lima tahun ke depan kita harus menjadi Macan Asia," jelas Toisutta kepada wartawan di Gedung DPR, Senin (4/4/2011).

"Sebagai anggota militer, itu perintah. Makanya, ada perintah itu, kami mengambil langkah dengan mengadakan sepak bola angkatan darat, angkatan laut melakukan penataran-penataran wasit, dan membangun SSB. Itu langkah yang diambil," lanjutnya.

Toisutta mengaku belum mengetahui besaran dukungan yang diberikan pemilik suara kepada dirinya, begitu juga dengan strategi agar Toisutta terpilih. "Enggak ada strategi. Saya belum tanya. Tapi, saya hitung jari tangan sama jari kaki (jumlah pendukungnya), tidak bisa," selorohnya.

Meski begitu, Toisutta bersama Arifin Panigoro, Nirwan Bakrie, dan Nurdin Halid, yang ditolak oleh Komite Banding PSSI pada 28 Februari 2011 lalu, sudah dilarang oleh FIFA untuk masuk sebagai kandidat Ketua Umum PSSI.

Wednesday, March 2, 2011

Bepe: Kurniawan Striker Terbaik Indonesia

Jonathan Pandapotan/Kompas.comMantan striker tim nasional Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, yang kini resmi membela Tangerang Wolves.

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah sebelumnya Kurniawan Dwi Yulianto yang memuji Bambang Pamungkas, kini giliran Bepe yang balik memuji Kurniawan atau "Si Kurus". Menurut Bepe, Kurniawan adalah striker terbaik Indonesia sepanjang masa.

Sudah menjadi rahasia umum kalau masyarakat Indonesia selalu bertanya-tanya siapa yang lebih hebat antara Bepe dan Kurniawan. Keduanya kerap diperbandingkan, baik dari segi prestasi maupun torehan gol di timnas. Ini karena kedua pemain itu merupakan ikon sepak bola Indonesia pada eranya masing-masing.

Dari sisi produktivitas gol, berdasarkan data Wikipedia, Bepe masih lebih baik dengan torehan 38 gol sepanjang kariernya di timnas. Adapun Kurniawan telah melesatkan 31 gol. Namun, dalam hal rata-rata gol, "Si Kurus" berada di posisi terdepan. Torehan 31 gol ia ciptakan dalam 60 pertandingan, sementara Bepe menjaringkan 38 gol dari 85 penampilan.

Sebelumnya, Kurniawan memuji Bepe sebagai pemain hebat yang layak dijadikan panutan. "Saya respek sekali ke dia karena dia itu pemain besar. Dia juga mampu me-manage dirinya menjadi bintang dan itu yang harus dilakukan pemain kita. Kita juga harus berkaca ke dia," tutur Kurniawan kepada Kompas.com, Kamis (17/2/2011).

Kini, giliran Bepe yang balik memuji Kurniawan melalui akun twitter resminya. "Kurniawan D.J adalah striker terbaik Indonesia sepanjang masa," tulis Bepe dalam akun twitter-nya @bepe20.

Dari segi prestasi di level klub, keduanya seimbang. Baik Bepe maupun Kurniawan telah mengantar klub mereka masing-masing menjadi juara. Bepe membawa Persija Jakarta juara pada tahun 2001 dan Selangor FC pada tahun 2005. Sementara "Si Kurus" membawa PSM Makassar juara pada musim 2000, dan Persebaya Surabaya pada tahun 2004.

Monday, January 10, 2011

Safee dan Rafiq Berminat Main di Indonesia

Striker Malaysia Mochamad Safee menerima penghargaan pencetak gol terbanyak selama Piala AFF 2010.

JAKARTA, KOMPAS.com — Ujung tombak kesebelasan Malaysia yang menjadi pencetak gol terbanyak di ajang AFF 2010, Safee Sali, mengaku sangat berminat untuk merumput di Liga Indonesia. Bukan hanya dia, kapten Malaysia, Mohammad Safiq Rahim, pun mempunyai keinginan yang sama.

Safiq Rahim mengatakan, jika memang ada kesempatan merumput di Liga Indonesia, dia sangat berterima kasih. "Saya ingin mencoba peruntungan yang baik bagi diri saya dengan meramaikan kompetisi di Liga Indonesia," ungkap Mohammad Safiq Rahim.

Mohammad Safiq Rahim mengaku belum tahu klub mana yang ingin dia bela. Namun menurut pelatih Malaysia, Rajagobal, anak asuhnya itu sangat ingin bermain untuk Sriwijaya FC.

Sebelumnya, Safee menyatakan bahwa dia sangat ingin bergabung dengan klub Indonesia karena merasa bahwa kompetisi di Indonesia bagus dan salah satu yang terbaik dan teramai di ASEAN. Menurut kabar terbaru, PSPS Pekanbaru menyatakan minatnya untuk merekrut Safee. (Tribunnews.com/AKC)

Tuesday, January 4, 2011

Indonesia Perlu Belajar

Pemain timnas Malaysia, Safiq Bin Rahim, mengangkat kedua tangannya ke arah penonton di samping pemain timnas Indonesia, Arif Suyono, yang berjalan lemah usai pertandingan dalam laga pertama babak final Piala Suzuki AFF 2010 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/12/2010). Indonesia kalah 0-3.

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Kekalahan 0-3 (0-0) dari Malaysia menegaskan bahwa Indonesia masih perlu belajar. Paling tidak Indonesia menjadikan kekalahan itu untuk melakukan langkah terobosan signifikan menghadapi pertemuan final kedua Piala Suzuki AFF di Jakarta, 29 Desember.

Pelatih Indonesia Alfred Riedl menilai kekalahan itu lebih disebabkan pemain kehilangan konsentrasi di saat-saat kritis. ”Mengapa mereka kehilangan konsentrasi seperti itu, saya tidak tahu,” ujar Riedl dalam jumpa pers seusai pertandingan yang juga diikuti wartawan Kompas, Agung Setyohadi, di Kuala Lumpur, Malaysia.

Riedl belum bisa memastikan apakah penghentian pertandingan selama lima menit akibat laser ikut membuat konsentrasi pemain buyar. Namun, seberapa buruk akibatnya terhadap konsentrasi pemain, Riedl belum bisa memastikannya. Markus dua kali memprotes wasit karena sorot laser mengenai wajah dan matanya. ”Laser memang sesuatu yang buruk, semoga tidak ada lagi seperti itu,” ujar Riedl.

Riedl menegaskan, kekalahan ini juga membuatnya bingung. Pada babak pertama, kedua tim bermain imbang dalam menciptakan peluang gol maupun penguasaan bola. Bahkan, pada awal babak kedua Indonesia memiliki dua peluang bagus mencetak gol. ”Tetapi setelah kebobolan satu gol, para pemain tuan rumah menjadi lebih percaya diri dan pemain bertahan kami seperti kebingungan,” ujar Riedl.

Mengenai gangguan publisitas terhadap para pemain tim nasional dalam beberapa hari terakhir, Riedl menilai itu sangat mengganggu. ”Bukan hanya media, tetapi juga federasi (PSSI) dan masyarakat. Sebenarnya itu tidak perlu. Terlalu berlebihan. Apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di Jakarta sangat buruk,” ujar Riedl.

Pelatih Malaysia Krisnashamy Rajagobal menilai gol pertama mendongkrak semangat pemainnya. Hal ini sama dengan kejadian di Indonesia saat timnya dikalahkan Indonesia.

Ia juga mengakui Indonesia bermain sangat bagus pada babak pertama sampai terjadinya gol. Para pemain Indonesia, seperti Oktovianus Maniani, Cristian Gonzales, dan Yongki Aribowo, membuat para pemain kerepotan menjaganya.

Pada final kedua nanti, Rajagobal mengaku tidak akan menerapkan pola bertahan. Modal keunggulan 3-0 belum menjadi jaminan Malaysia akan memenangi Piala AFF 2010. Ia akan memainkan strategi sesuai dengan kondisi di lapangan. ”Saya tegaskan kepada para pemain bahwa perjuangan belum selesai. Mereka harus berkonsentrasi selama 90 menit di Indonesia,” ujar Rajagobal.

Riedl menilai, untuk menang 4-0 pada laga final kedua supaya menjadi juara bukan perkara mudah dan membutuhkan kerja keras. Namun, masih ada peluang meskipun tipis. Ia berharap laga kandang memberikan peluang yang bagus. ”Tentu saya akan berbicara dengan para pemain untuk membahas apa yang terjadi. Saya juga akan melakukan sesuatu untuk mengangkat mental pemain. Namun, pemain sendirilah yang harus memperbaiki diri,” ujar Riedl.

Pertandingan ketat dengan tempo tinggi di babak pertama sempat menggugah emosi sekitar 88.000 suporter kedua tim yang memadati Stadion Bukit Jalil. Di akhir babak pertama, pengawas pertandingan mengumumkan agar suporter tidak mengarahkan sinar laser kepada pemain. Kejadian sorotan menggunakan sinar laser ini sempat dikeluhkan kiper Markus Haris Maulana hingga menunda eksekusi tendangan sudut. Selama pertandingan, polisi juga berpatroli keliling di lintasan di luar stadion mengawasi tribune suporter.

Namun, setelah Indonesia tertinggal 0-3, suporter yang memadati tribune biru mulai meninggalkan arena. Dukungan untuk tim nasional pun mulai hilang, tidak ada lagi teriakan ”Indonesia, Indonesia”.

Dukung tim nasional

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta masyarakat Indonesia tidak berkecil hati dan tetap mendukung tim nasional Indonesia dengan cara sportif. Kekalahan 0-3 dari Malaysia diharapkan Presiden tetap menjadi kemenangan yang tertunda bagi Indonesia.

Presiden menyampaikan hal itu seusai menonton pertandingan final Piala Suzuki AFF bersama klub sepak bola Cikeas Junior dan wartawan di kediaman pribadinya di Puri Cikeas Indah, Bogor, Minggu (26/12/2010) malam. ”Tidak perlu kecil hati, jangan salah-menyalahkan, pasti timnas kita juga ingin berbuat yang terbaik,” ujar Presiden.

”Kalau jadi suporter, jangan ikut seperti Malaysia, mengganggu temannya. Kita tunjukkan kita menjadi bangsa yang sportif,” ujar Presiden.

Pada waktu istirahat setelah babak pertama pertandingan, Presiden mengatakan, ia telah menelepon Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng yang menonton di Stadion Bukit Jalil. Presiden meminta Menpora memprotes adanya penonton Malaysia yang memainkan sinar laser dan mengganggu konsentrasi pemain Indonesia.

Di Cikeas, selain rombongan anggota klub Cikeas Junior, antara lain tampak pula Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, dan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto.

Presiden menonton pertandingan ini melalui layar lebar yang dipasang di pendopo samping kediaman Presiden di Cikeas.

Suasana stadion

Suasana damai di Stadion Bukit Jalil, sebelum pertandingan digelar, juga cukup kondusif. Di jalan yang mengelilingi stadion, suporter berjalan-jalan menghabiskan waktu. Saat kelompok merah bertemu kelompok kuning, tidak ada ketegangan. Mereka juga bisa duduk bersama di satu bangku meja di warung-warung makan. Suasana ini tidak seperti yang ada di forum-forum dunia maya. ”Kami tidak mau gaduh, kami mau sukan. Semoga tidak ada gaduhlah. Penyokong Indonesia mantaplah,” ujar seorang suporter Malaysia, Jamel bin Madrasiq.

Semangat tidak mau gaduh itu pula yang mendorong kedua kelompok suporter dari Indonesia dan Malaysia berfoto bersama. Bahkan, bule-bule yang datang ke sekitar stadion dengan nyaman berfoto bersama para suporter. ”Di sini suasananya lebih nyaman (dibandingkan di Gelora Bung Karno). Kami sekeluarga bisa berjalan santai dulu,” ujar Andi, yang bersama keluarganya berjalan santai di sekitar stadion sambil menggendong putranya yang berusia dua tahun.

Kemeriahan di stadion ini juga berkat antusiasme para tenaga kerja Indonesia yang berada di Kuala Lumpur. Sulaiman sudah sejak pukul 11.00 berada di stadion. Tenaga kerja asal Lombok ini datang bersama 30 temannya asal Bali dan Nusa Tenggara Barat. (DAY)

Monday, January 3, 2011

Bachdim: Jangan Menyerah, Indonesia!

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Pemain Timnas Indonesia, Irfan Bachdim.

JAKARTA, KOMPAS.com — Striker tim nasional Indonesia, Irfan Bachdim, percaya bahwa timnya pasti bisa membalikkan keadaan melawan Malaysia pada leg kedua final Piala AFF, Rabu (29/12/2010). Bachdim yakin, "Garuda" dapat bangkit dan mempermalukan Malaysia.

Tim "Merah Puitih" secara menyakitkan dibekuk 0-3 oleh tuan rumah Malaysia, Minggu (26/12/2010). Pertandingan berjalan kontroversial karena adanya intimidasi dari suporter tuan rumah melalui sinar laser. Akibat sinar laser tersebut, Indonesia kehilangan konsentrasi dan dibobol tiga gol pada waktu yang berdekatan.

Kendati demikian, Bachdim meminta timnya tak perlu mencari alasan-alasan karena kalah. Baginya yang terpenting saat ini adalah "Garuda" bisa bangkit dan menyelesaikan misi mereka untuk membalas dendam.

"Tidak bisa tidur usai kekalahan ini!" tulis Bachdim melalui akun Twitter resminya.

"Tapi dagu tetap terangkat, kami bisa melakukannya di Jakarta! Tak mau beralasan omong kosong dengan laser-laser. Kami harus bisa melakukannya lebih baik lagi ketimbang semalam!!"

Bachdim tak banyak memberi kontribusi saat tim melawan Malaysia. Pelatih Alfred Riedl baru memasukkannya pada menit ke-65 setelah Indonesia tertinggal dua gol.

Masuknya Bachdim bersama Arif Suyono sebenarnya mampu memberikan gairah baru pada serangan "Garuda". Sayang, waktu yang sedikit tak memberi mereka kesempatan untuk mengeluarkan potensi maksimal.

"Seorang pemenang tidak pernah menyerah!!!" tuntas "bomber" 22 tahun tersebut.

Tim "Merah Putih" wajib menang dengan selisih empat gol jika ingin membalikkan keadaan sekaligus memenangkan Piala AFF 2010.

Saturday, January 1, 2011

Striker "Pembunuh" Indonesia Ingin Main di ISL

Striker Malaysia, Mohd Safee Bin Mohd Sali (kiri) berebut bola dengan pemain Vietnam, Le Phouc Tu, pada leg 1 semifinal Piala AFF 2010, Rabu (15/12/10). Safee borong gol Malaysia, yang menang 2-0.

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com — Striker Malaysia, Safee Sali, berkeinginan memperkuat salah satu klub di Indonesia. "Kemungkinan memperkuat klub di Indonesia tentu ada," katanya di Stadion Bukit Jalil, Minggu (26/12/2010), seusai tim nasional Malaysia mengalahkan Indonesia 3-0.

Dua gol dalam laga final pertama Piala AFF ini dicetak Safee. Dengan demikian, ia menempati daftar pertama sementara pencetak gol terbanyak di turnamen.

Pemain penyerang kelahiran 29 Januari 1984 ini mengaku, ia kini tetap fokus pada turnamen tersebut. "Kami fokus menyelesaikan tugas ini. Target merebut kemenangan," katanya setelah disinggung apakah dia akan bermain di Liga Indonesia (ISL).

Bagi pemain Selangor FC ini, kemenangan tentu menjadi target selanjutnya di Jakarta. Safee ini memiliki teknik permainan agresif. Partai final kedua akan berlangsung di Jakarta, 29 Desember mendatang.

Thursday, December 23, 2010

Gagal di AFF, Singapura Salahkan Indonesia

Para pemain Singapura tertunduk lesu setelah kalah dari Vietnam di penyisihan Grup B Piala AFF 2010 dan terpaksa tersingkir.

SINGAPURA, KOMPAS.com - Media Singapura, The New Paper, mengambil kesimpulan Indonesia Super League (ISL) telah merampas peluang timnas mereka menjuarai Piala AFF 2010.

The New Paper menghimpun sejumlah pendapat dari beberapa pengamat sepak bola di negara kepulauan itu. Kesimpulannya, para pemain yang merumput di Indonesia cenderung tidak tampil kompetitif saat bergabung di timnas.

Delapan pemain timnas Singapura mencari nafkah di Indonesia, Mereka adalah Noh Alam Shah, Muhammad Ridhuan, Baihakki Khaizan, dan Mustafic Fahrudin yang menjalani musim kedua. Sedangkan empat pemain lain menyusul, yaitu Precious Emuejeraye, Shahril Ishak, Khairul Amri, dan Agu Casmir.

Bekas pelatih Tanjong Pagar, Tohari Paijan yang mengaku mengikuti perkembangan ISL itu berpendapat, karena kompetisi negara tetangga mereka (Indonesia) itu tidak dikelola secara profesional.

"Terkadang jadwal pertandingan dibatalkan dan tim tidak mengetahui kapan pertandingan berikutnya, jadi bagaimana pemain bisa berlatih dengan benar?" ujar Paijan.

Salah satu contoh adalah sayap Muhammad Ridhuan yang bermain untuk Arema Indonesia. Ridhuan mencetak lima gol dalam delapan pertandingan bersama klubnya, tetapi melempem ketika tampil di Piala AFF. Pemain berusia 26 tahun itu dianggap terlalu lelah mengikuti turnamen sekelas Piala AFF. Tidak hanya Ridhuan, Baihakki, Emuejeraye, Casmir, Amri, serta Alam Shah dianggap tidak tampil memuaskan.

Alasan kedua, karena para pemain Singapura lebih memilih klub ketimbang timnas. Hal ini berdasarkan pendapat Kadir Yahaya, yang pernah menjadi asisten pelatih Pelita Jaya.

"Para pemain takut cedera karena kalau kembali ke klub dengan kondisi cedera, manajemen klub tak segan memulangkan pemain asing," tukasnya.

"Di ISL Anda dapat merekrut dan memecat pemain asing di tengah musim dan ini bisnis yang bergeliat di sana. Banyak agen pemain menanti kesempatan menawarkan pemain asing ke klub-klub."

Alasan terakhir, akibat bermain di Indonesia membuat para pemain Singapura besar kepala dan merasa sudah jadi bintang.

"Tentu saya ingin bermain lebih lama. Sehabis latihan segalanya bersih karena saya tidak menenteng sepatu atau pakaian kotor. Saya dikerumuni fans dan benar-benar seperti pesepakbola profesional betulan. Siapa yang tidak mau seperti ini?" ujar Baihakki suatu ketika.

Alam Shah mau menghabiskan 15 menit berfoto bersama fans, sedangkan Ridhuan dikenal sebagai R6 selayaknya Cristiano Ronaldo dengan sebutan terkenalnya, CR7.

"Mereka baru bermain di Indonesia, tapi sudah merasa bermain untuk Barcelona," ujar sumber The New Paper.

Sumber lain mengatakan, "Setelah meraih status bintang, mereka pikir mereka pemain besar dan tidak perlu bekerja keras dalam pertandingan."

"Ketika Fandi Ahmad bergabung dengan FC Groningen, ada dampak positif bagi timnas karena dia menjadi pemain yang lebih baik. Saya kira ini tidak terjadi pada mereka yang merumput di Indonesia."

Berkebalikan dari ucapan pelatih Raddy Avramovic yang mendukung hijrahnya pemain Singapura ke Indonesia, The New Paper menyimpulkan, "hal terakhir yang diperlukan sepakbola Singapura adalah pemain lain yang bergabung ke ISL."