Showing posts with label Bukan. Show all posts
Showing posts with label Bukan. Show all posts

Tuesday, December 13, 2011

Kuasa Hukum: Titi-Ovy Cerai Bukan Karena Masalah Penghasilan

TANGERANG, KOMPAS.com -- Titi DJ dan Ovy "/rif" sudah resmi bercerai. Sebelum ini tersiar kabar, mereka bercerai karena masalah penghasilan Ovy di bawah pendapatan Titi. Hal itu dibantah mentah-mentah oleh dua kuasa hukum Titi, Fathoni dan Damayanti Singgih.

"Perceraian itu prisnsipnya ada ketidakcocokan. Pernikahan tidak cocok, makanya berpisah. Daripada menimbulkan hal-hal tidak baik, mereka cerai, enggak mengajukan dalil karena faktor ekonomi," kata Fathoni ketika diwawancara usai sidang perceraian Titi dan Ovy di Pengadilan Agama (PA) Tigaraksa, Tangerang (Banten), Senin (12/12/2011).

Titi dan Ovy, yang baru empat tahun berumah tangga, berpisah sejak Mei 2011 karena ketidakharmonisan hubungan mereka. Hal itu diakui oleh saksi yang hadir dalam sidang, yakni manajer dan saudara kandung Titi. "Saksi bicarakan apa yang mereka lihat soal hubungan mereka berdua. Pertengkaran, mereka tidak lihat. Rumah tangga tidak cocok lagi sejak Mei. Sudah berpisah dan sendiri-sendiri dari bulan Mei," terang Damayanti.

Putusan cerai itu dijatuhkan secara verstek, karena, baik Titi, yang menggugat, maupun Ovy, yang tergugat, tidak pernah hadir dalam sidang dan kedua pihak tersebut sudah sepakat untuk bercerai.

Dalam sidang, terang Damayanti lagi, tak ada masalah perebutan hak asuh anak, karena sang vokalis memang tidak dikaruniai anak dari gitaris itu. "Putusannya hanya untuk cerai saja, tidak ada tuntutan lain. Jadi, cerai, enggak ada soal hak asuh anak," ujar Damayanti.

Blues Bukan Cuma untuk Orang Tua

KOMPAS IMAGES/ BANAR FIL ARDHIGitaris dan vokalis Gugun, bersama grup Gugun Blues Shelter-nya, merupakan salah satu penampil muda dalam Jakarta Blues Festival (JBF) 2010 yang akan manggung lagi pada JBF 2011.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Siapa bilang musik blues hanya untuk orang tua? Frans S Sunito (61) mematahkan kesan keliru tersebut.

"Kita punya banyak acara blues, termasuk di kampus-kampus. Yang main anak-anak muda," kata Sunito dalam konferensi pers Djarum Super Jakarta International Blues Festival 2011, Selasa minggu lalu (6/12/2012).

Frans, Direktur Utama Jasa Marga, adalah penikmat dan juga pemain blues lewat harmonikanya. Bersama rekannya di Asosiasi Blues Indonesia (Inablues), ia menyediakan waktu untuk menyebar "virus" blues, antara lain lewat festival blues. Tahun ini festival yang digelar pada 17 Desember mendatang menghadirkan John Mayall, legenda blues asal Inggris. "Semua pemain blues di Indonesia pasti tahu John Mayall," ujar Frans.

Persoalannya, tidak semua anak muda yang bakal menonton Jakarta InternationalBlues Festival mengenal John Mayall. Kepadanya ditanyakan, mengapa tidak menghadirkan bintang blues muda yang populer di kalangan anak muda sekarang?

Sambil tersenyum Frans menjawab, "Kan, selain John Mayall ada musisi lain yang muda." Ia menambahkan, pihaknya ingin tetap idealis menyajikan blues yang benar. Karena itu, musisi blues yang melegenda jadi pilihan utama. "Usulnya bagus. Bintang muda blues mesti dihadirkan, tetapi yang tua juga diberi tempat," kata Frans. (BSW)

Friday, October 28, 2011

Ranieri Fokus Atalanta, Bukan Juve

Pelatih Inter Milan, Claudio Ranieri.

MILAN, KOMPAS.com Pelatih Inter Milan, Claudio Ranieri, mengungkapkan bahwa fokus utama timnya saat ini adalah laga melawan Atalanta, Rabu (26/10/2011), bukan pertandingan melawan Juventus di akhir pekan nanti.

"Pertandingan yang paling penting selalu laga yang terdekat. Saya selalu memikirkan pertandingan yang akan kami mainkan selanjutnya," jelas Ranieri kepada wartawan.

Ranieri beralasan, Atalanta merupakan tim yang kuat dan harus dihadapi dengan fokus penuh. Untuk itu, ia tak mau memecah fokus timnya dengan laga melawan Juventus.

"Bermain melawan Atalanta di kandangnya sangat sulit bagi semua tim. Mereka memulai kompetisi dengan sangat baik. Mereka bisa saja menduduki posisi kedua klasemen jika tak mendapat pengurangan enam poin," kata Ranieri.

"Mereka punya pemain berkualitas seperti (Maxi) Moralez dan (German) Denis. Mereka bermain sangat kompak dan cepat, dan dengan pergerakan yang bagus," lanjutnya.

Meski mengakui Atalanta tim yang sulit dihadapi, Ranieri menilai timnya akan tampil sebagai pemenang dalam laga ini. "Kami tim yang padu dan kami akan pergi ke sana untuk memetik poin penuh dan memperpanjang rekor tak terkalahkan kami," ujarnya.

Tuesday, October 25, 2011

Ranieri Fokus ke Atalanta, Bukan Juve

Pelatih Inter Milan, Claudio Ranieri.

MILAN, KOMPAS.com Pelatih Inter Milan, Claudio Ranieri, mengungkapkan bahwa fokus utama timnya saat ini adalah laga melawan Atalanta, Rabu (26/10/2011), bukan pertandingan melawan Juventus di akhir pekan nanti.

"Pertandingan yang paling penting selalu laga yang terdekat. Saya selalu memikirkan pertandingan yang akan kami mainkan selanjutnya," jelas Ranieri kepada wartawan.

Ranieri beralasan, Atalanta merupakan tim yang kuat dan harus dihadapi dengan fokus penuh. Untuk itu, ia tak mau memecah fokus timnya dengan laga melawan Juventus.

"Bermain melawan Atalanta di kandangnya sangat sulit bagi semua tim. Mereka memulai kompetisi dengan sangat baik. Mereka bisa saja menduduki posisi kedua klasemen jika tak mendapat pengurangan enam poin," kata Ranieri.

"Mereka punya pemain berkualitas seperti (Maxi) Moralez dan (German) Denis. Mereka bermain sangat kompak dan cepat, dan dengan pergerakan yang bagus," lanjutnya.

Meski mengakui Atalanta tim yang sulit dihadapi, Ranieri menilai timnya akan tampil sebagai pemenang dalam laga ini. "Kami tim yang padu dan kami akan pergi ke sana untuk memetik poin penuh dan memperpanjang rekor tak terkalahkan kami," ujarnya.

Sunday, October 23, 2011

Empat Besar Bukan Satu-satunya Prioritas Liverpool

Skipper Liverpool, Steven Gerrard (kiri) melakukan tendangan bebas yang akhirnya berbuah gol ke gawang Manchester United saat kedua tim bermain imbang 1-1, Sabtu (15/10/2011).

LIVERPOOL, KOMPAS.com — Skipper Liverpool, Steven Gerrard, mengakui, timnya membidik posisi empat besar di klasemen akhir Premier League musim ini. Namun, katanya, itu bukan satu-satunya tujuan dari Liverpool musim ini.

"Kembali ke posisi empat besar adalah sebuah prioritas, tapi aku tak akan berkata itu satu-satunya prioritas kami," ujar Gerrard kepada LFC Magazine.

Gerrard kemudian mengatakan, dirinya ingin kembali merasakan megahnya kompetisi Liga Champions sebelum akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu. Ia berhasrat untuk kembali mengulang malam terindahnya saat bermain di kancah tertinggi antarklub Eropa tersebut.

"Membawa kemeriahan kompetisi Eropa ke Anfield adalah hal yang kami inginkan. Sangat sulit untuk menonton televisi pada hari Selasa atau Rabu malam dan tahu kami tak terlibat (di Liga Champions). Semua orang di sini akan bekerja keras untuk mendapatkan kesempatan itu lagi dan semakin cepat akan semakin baik," tutur Gerrard.

"Di saat yang sama aku juga berpikir soal trofi dan melihat Piala FA dan Piala Liga juga sangat penting. Karena kami hanya terlibat dalam tiga kompetisi dan kami harus fokus ke semuanya. Tak ada kompetisi Eropa jadi Anda bisa lebih fokus ke Piala Liga," lanjutnya.

Ia menambahkan, "Kami tak pernah tampil bagus di kompetisi domestik sejak tahun 2006. Ini waktunya kami memberikan fans sedikit kegairahan lagi. Mereka berhak untuk itu dan tak ada hal yang lebih baik selain tampil di Wembley (Final Piala Liga). Ini akan sangat fantastis bagi semua orang."

Liverpool sendiri akan melawat ke Stoke pada hari Rabu (26/10/2011) untuk menjalani babak keempat Piala Liga.

Tuesday, April 19, 2011

Mourinho: Sayalah Pelatih Madrid, Bukan Di Stefano

VALENCIA, KOMPAS.com - Pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, membalas kiritik yang dilontarkan Alfredo Di Stefano setelah Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan hanya bermain imbang 1-1 melawan Barcelona dalam lanjutan Liga BBVA, Sabtu (16/4/2011). Mourinho menegaskan, sebagai pelatih dirinya memiliki kewenangan penuh menerapkan taktik bagi timnya, bukan orang lain.

Pada duel itu, Mourinho memainkan bek Pepe sebagai gelandang dalam apitan Xabi Alonso dan Sami Khedira. Dengan taktik itu, Madrid mampu mematahkan serangan-serangan Barcelona dan menciptakan sejumlah peluang gol. 

Namun di mata, Di Stefano hal tersebut bukan sebuah keberhasilan. Ia mengibaratkan Barcelona singa dan Madrid tikus. memang tampil bertahan pada laga tersebut.

Dalam jumpa pers menjelang final Copa del Rey, melawan Barcelona, Rabu (20/4/2011), Mourinho membalas kritik Di Stefano itu. "Dia (Di Stefano) memang salah satu tokoh yang sangat penting dalam sejarah klub Real Madrid dan saya bukan siapa-siapa. Namun, saya pelatih Madrid dan pelatih adalah pemegang keputusan soal taktik," tegas pelatih asal Portugal itu.

"Saya pelatihnya. Apa yang kalian inginkkan? Ya inilah saya. Keputusan ada di tangan saya," sambungnya. (RTR)

Tuesday, March 29, 2011

Abi: LPI Bukan Alat Menjatuhkan Nurdin

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOJuru bicara Liga Primer Indonesia, Abi Hasantoso berpose usai sesi wawancara di Jakarta, Senin (28/3/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com — Bergulirnya Liga Primer Indonesia (LPI) sejak 8 Januari silam menuai pro dan kontra di dalam persepakbolaan Tanah Air. Banyak yang mengecam, tetapi tidak sedikit pula yang menilai LPI bak oase atas keringnya prestasi sepak bola Indonesia.

Yang paling menentang bergulirnya liga bentukan Arifin Panigoro tersebut adalah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Mereka naik pitam setelah empat klub Liga Super Indonesia (LSI), yakni Persema Malang, Persibo Brojonegoro, PSM Makassar, dan Persebaya Surabaya, memilih bergabung dengan 15 klub baru yang ada di LPI.

Ketua Umum PSSI Nurdin Halid bersikukuh tidak mengakui tanpa pernah berkomunikasi lebih dulu dengan LPI. Mereka lebih sibuk melakukan upaya-upaya agar bisa menghentikan LPI daripada mencari solusi damai. Semua elemen yang terlibat dalam LPI seperti pemain, pelatih, wasit, dan lain-lain akhirnya dijatuhi hukuman oleh Komisi Disiplin PSSI.

Bahkan, pemain-pemain bertalenta yang berlaga di LPI, seperti Irfam Bachdim, Kim Jeffery Kurniawan, atau Andik Vermansyah, dilarang membela tim nasional. Terbentuknya LPI yang berdekatan dengan pemilihan kepengurusan baru PSSI sempat memunculkan spekulasi bahwa LPI hanya alat kepentingan Arifin Panigoro untuk duduk sebagai ketua umum dibandingkan tujuan mulia memperbaiki sistem persepakbolaan Tanah Air.

Apalagi, beberapa waktu lalu, Arifin bersama George Toisutta sudah terang-terangan menyatakan maju dalam kongres pemilihan ketua umum dan wakil ketua umum PSSI yang digelar 29 April mendatang. Lalu, apakah tujuan sebenarnya LPI dan apakah terkait untuk memuluskan langkah Arifin menuju posisi puncak di PSSI?

Saat ditemui di sebuah perkantoran, juru bicara LPI, Abi Hasantoso, berkesempatan menjawab hal itu kepada reporter Kompas.com, Ferril Dennys Sitorus, dan sejumlah pertanyaan pembaca. Berikut wawancaranya.

Mengapa menggunakan nama Liga Primer Indonesia? Apakah terinspirasi dari nama English Premiere League atau memang ingin menirunya (adjieh_rijal@yahoo.com)?

"Dulu ada sekitar 20 nama sebelum akhirnya memilih LPI. Akhirnya, kita memilih Liga Primer Indonesia dengan kata primer yang berbahasa Indonesia. Tentu saja rujukan kita salah satunya Liga Inggris. Kedua, kami merasa primer itu sesuatu yang baru sehingga kita populerkan. Dulu kita belajar ekonomi, ada kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Primer itu kata dari Indonesia walaupun kata serapan dari bahasa Inggris. Yang akhirnya pakai kata primer bagus juga ya, walaupun ada konotasi ke Liga Inggris. Ini sebuah strategi marketing kita juga supaya setiap orang gampang mengingat."

Bagaimana sebetulnya konsep LPI?

"Sebetulnya begini. Segala sesuatu harus ada yang berani mulai. Apalagi, kami mengambil langkah reformasi dan revolusi ketika kami mendapatkan amanat Kongres Sepakbola Nasional (KSN) di Malang. Setelah kami kaji, ada empat pilar untuk memperbaiki sepak bola di Tanah Air."

"Pertama adalah kompetisi yang kredibel. Kedua, pembinaan usia dini. Ketiga, Penerapan aplikasi sport science kepada sepak bola. Keempat, adalah pembenahan organisasi. Jadi kita mendahulukan pilar pertama karena sepak bola permainan yang berada di lapangan hijau. Namun, yang lebih penting, kita bisa menggelar kompetisinya lebih dulu dengan kompetisi yang kredibel dan menjunjung sportivitas."

"Selama ini, kompetisi yang ada sudah kehilangan kredibilitas. Cara meningkatkan kredibilitas, pertama, kita menggunakan pemain-pemain yang berkualitas. Makanya, di LPI ada marquee player, key player, dan idol player. Marquee player seperti Lee Hendrie (Bandung FC) dan Amaral (PSM Makassar). Pemain-pemain yang pernah membela negaranya. Ada key player, pemain-pemain yang punya nama besar dan skill bagus seperti Amancio Fortes (Semarang United). Dia adalah lulusan akademi Manchester United. Ada juga pemain lain seperti pemain asal Australia, Andrew Barisic, yang memperkuat Persebaya 1927 atau Emanuel De Porras yang membela Jakarta 1928."

"Ada juga idol player seperti Irfan Bachdim, Kim Jeffery Kurniawan, Andik Vermansyah, dan Rendi Irawan. Mereka adalah pemain-pemain muda yang bisa menginspirasi anak-anak untuk bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Ini salah satu yang ingin kami tingkatkan agar kualitas kompetisi menjadi kredibel. Selain pemain-peman tadi, kami juga menggunakan wasit asing. Kami ketahui, hampir seluruh wasit di Indonesia pernah bermasalah ketika di kompetisi-kompetisi lain."

"Ini yang kami yakini bahwa dengan adanya wasit asing menjunjung sportivitas dan fair play, kami terdorong lebih cepat. Meski begitu, kami juga yakin banyak wasit-wasit lokal yang bisa dipercaya. Bahkan, wasit-wasit yang dalam tanda kutip dibuang oleh PSSI, kami rangkul lagi dengan memberikan pelatihan di Bandung dan Magelang, saat ini menunjukkan performa yang bagus juga seperti halnya wasit-wasit asing."

Kenapa LPI tidak memperbaiki infrastruktur lapangan sepak bola lebih dulu? Sayang, pemainnya bagus-bagus, sedangkan beberapa kali tayangan di televisi saya melihat kondisi lapangan sangat memprihatinkan sehingga permainan tidak berkembang (z3tr33_tjhia78@yahoo.com)

"Jadi, betul kompetisi dulu yang kita mulai, walaupun harus diakui bahwa lapangan dan infrastruktur yang bagus memang juga harus disiapkan. Saat ini, kita juga sedang mencoba bekerja sama dengan pemerintah daerah yang sudah memiliki lapangan. Contohnya, kita ingin bekerja sama dengan Pemerintah Kota Malang, Surabaya, dan Makassar, dan pemerintah kota di 19 klub LPI."

Kerja sama konkretnya seperti apa?

"Kami akan mencoba memperbaiki fasilitas, terutama lapangan, yang kita anggap masih belum baik. Contohnya, nanti kita akan bekerja sama dengan pengelola Stadion Siliwangi di Bandung untuk memperbaiki lapangan dan area penonton. Jadi, itu contoh konkretnya. Kami yakin, klub-klub LPI bisa memiliki stadion-stadion sendiri nantinya. Tapi, akan mubazir kalau ada stadion bagus di beberapa kota, katakanlah di Malang, sayang sekali tidak dimanfaatkan. Oleh karena itu, kita akan mencari pola bentuk kerja sama dengan pemerintah kota di mana klub LPI itu berada untuk memanfaatkan dan memaksimalkan penggunaan stadion dengan meningkatkan kualitas lapangan dan infrastruktur yang ada."

Bagaimana cara LPI menjaring penonton karena selama ini ISL yang selalu menjadi perhatian penikmat sepak bola di Tanah Air?

"Tentu saja ini tantangan. Contoh, dengan empat klub yang pernah bermain di kompetisi lain, tidak ada masalah seperti Persebaya 1927, Persibo Brojonegoro, PSM Makassar, dan Persema Malang. Hampir setiap pertandingan mereka selalu penuh (penonton). Namun, jangan disangka, dari 15 klub baru itu, tiga di antaranya sudah memiliki penonton fanatik. Contohnya, Manado United, Solo FC, dan Bali de Vata. Ternyata tidak kita sangka-sangka, penontonnya seperti empat klub tadi."

"Kami juga masih memiliki pekerjaan rumah untuk membantu dan mengembangkan 12 klub lain yang masih belum mendapatkan dukungan dari masyarakat. Itu pekerjaan rumah besar kami. Namun, kami yakin, dengan kompetisi bersih dan menarik ini, lama-kelamaan penonton akan datang ke stadion."

"Kami enggak bisa menggratiskan pertandingan karena LPI industri. Dari penontonlah kami bisa hidup. Enggak apa-apa ini proses alami, tetapi sudah ada terobosan yang dilakukan. Contohnya Persema Malang. Untuk menambah penontonnya, mereka bikin cheer leaders, atau kemarin ada disc jockey. Itu tantangan klub bagaimana stadion bisa menarik."

"Di Bojonegoro, walaupun penonton sudah penuh, mereka berusaha mempertahankan itu. Contohnya, mereka bikin doorprize motor. Mulai kemarin, pertandingan kandang Persibo akan menyediakan doorprize motor. Bayangin, harga motor Rp 13-Rp 15 juta, tetapi itu dikompensasi dengan penonton yang datang. Berarti, bahwa sebagian uang yang dibelanjakan penonton kembali ke mereka lagi. Bahkan, ada keuntungannya, misalnya, dapat motor itu mereka bisa foto bareng dengan pemain."

"Ada contoh lagi dari Solo FC. Dari penjualan tiket, Rp 500 dikembalikan lagi kepada penonton. Sebanyak Rp 200 diberikan kepada SSB. Misalnya, penonton jumlahnya 20.000. Dari harga tiket diambil Rp 500. Artinya, Rp 10 juta diberikan kepada masyarakat. Jadi, SSB mendapatkan dana Rp 4 juta dan PMI Kota Solo mendapatkan jumlah yang sama. Sisanya, diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu."

"Klub-klub LPI juga datang ke SSB untuk mengampanyekan permainan sepak bola sejak muda. Beberapa klub sudah jalan, seperti Persibo, Bandung FC, dan Persema. Itu juga yang harus digalakkan untuk semua peserta LPI. LPI juga melakukan pembinaan usia muda, yaitu memutar roda kompetisi U-15 dan U-21. Kami mendahulukan U-21. Rencananya, kompetisi ini digelar Mei atau Juni, ketika putaran pertama akan berakhir."

Bagaimana dengan anggapan bahwa klub yang ada di LPI merupakan klub karbitan?

"Bukan karbitan. Kita membentuk klub baru. Justru baru lebih bagus. Jadi dasarnya benar. Dasar pendiriannya dan dasar keuangannya benar."

Jadi lebih baik menciptakan klub baru daripada memperbaiki klub yang sudah ada?

"Iya betul. Karena tidak banyak masalahnya."

Target apa saja yang dilakukan LPI dari musim ke musim (darsopn@yahoo.co.id)?

"Targetnya mungkin stadion bisa penuh karena sepak bola lebih asyik dengan penonton."

Apa LPI ini hanya sebuah usaha sementara untuk memperbaiki sistem persepakbolaan Tanah Air dan menjatuhkan rezim Nurdin Halid (spider.one13@gmail.com)?

"Tidak. Pak Arifin tidak mau jadi ketum PSSI. Saat ini dia diminta oleh klub atau pemilik suara. Kalau Pak Arifin tidak pernah mau. Saya pernah mengikuti dia rapat pada 2007 lalu. Waktu itu masih ada almarhum Ronny Pattinasarani. Pak Arifin didatangi oleh sejumlah orang untuk menjadi ketua umum bersaing dengan salah satu kandidat lain untuk menggantikan Nurdin yang saat itu dipenjara."

"Pak Arifin enggak mau karena money politic. Kata mereka, Pak Arifin tinggal nambah Rp 10 miliar sehingga jadi ketua umum. Tapi, Pak Arifin enggak mau. Akhirnya lahirlah Liga Medco. Bung Ronny bilang ke Pak Arifin bahwa kita bisa memajukan sepak bola dengan pembinaan usai dini. Oleh karena itu, terbentuklah Liga Medco di bawah usia 15 tahun. Pemain-pemain yang ada di Uruguay itu sebagian besar berasal dari Liga Medco."

Selain membicarakan soal konsep LPI, Abi juga akan membeberkan target besar LPI. Simak hasil wawancaranya dengan Kompas.com pada tulisan berikutnya. 

Tuesday, March 8, 2011

FIFA Minta LPI Dirangkul, Bukan Dihentikan

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden FIFA Joseph "Sepp" Blatter ternyata meminta PSSI untuk merangkul Liga Primer Indonesia (LPI), bukan menghentikan liga yang digagas Arifin Panigoro tersebut. FIFA akan menjatuhkan sanksi jika PSSI tidak mematuhinya.

Sebelumnya, anggota Komite Etik FIFA, Suryadharma "Dali" Tahir, yang melakukan pertemuan dengan Sekjen FIFA Jerome Valcke, di Zurich, Swiss, Senin (7/3/2011), mengatakan, PSSI harus menghentikan LPI yang dinilai ilegal. Proses penghentian LPI, kata Dali, berada di tangan pemerintah karena pemerintahlah yang memberikan izin pertandingan.

"Jika tidak dihentikan, konsekuensinya kita akan mendapatkan suspensi dari FIFA," kata Dali, saat dihubungi wartawan, Selasa (8/3/2011) malam.

Ketika Kompas.com mengonfirmasi hal ini kepada Duta Besar RI di Swiss, Joko Susilo, yang baru saja bertemu dengan Blatter di markas FIFA, Selasa (8/3/2011) waktu setempat, FIFA ternyata meminta PSSI untuk merangkul LPI.

"Tentang LPI, jika tidak bisa membereskan dengan merangkul LPI, PSSI akan kena sanksi," kata Joko.

FIFA, ujar Joko, memberikan kesempatan kepada PSSI untuk menyelesaikan masalah terkait dengan LPI sebelum Kongres Pemilihan Ketua Umum PSSI periode 2011-2015. "Ya, sebelum kongres, makanya semua pihak harus duduk bersama," tutur Joko.

Seperti yang diketahui, hasil dari pertemuan itu, Blatter juga melarang Nurdin Halid maju pada Kongres PSSI yang mengagendakan pemilihan ketua dan wakil ketua serta anggota Komite Eksekutif (Exco) periode 2011-2015 karena statusnya mantan narapidana yang dinilai bertentangan dengan Statuta FIFA.

Penulis: Ferril Dennys   |   Editor: Hery Prasetyo   |   Loading...

Monday, March 7, 2011

Pato: Milan Pikirkan Juve, Bukan "Scudetto"

Penyerang AC Milan, Alexandre Pato.

MILAN, KOMPAS.com — Penyerang AC Milan, Alexandre Pato, mengatakan, timnya tak memikirkan scudetto, tetapi pertandingan terdekat, yaitu melawan Juventus dalam Serie-A di Turin, Sabtu (5/3/2011).

Hal tersebut disampaikan Pato seusai timnya menang 3-0 atas Napoli dalam lanjutan Serie-A, Senin (28/2/2011). Pato sendiri menyumbang satu gol dan satu assist.

Berkat hal itu, Milan menguasai klasemen dengan 58 poin atau unggul lima angka dari pesaing terdekat, Inter Milan. Adapun Juventus berada di posisi ketujuh dengan 41 poin.

"Kami tak berpikir soal scudetto. Kami fokus pada pertandingan kami berikutnya, yaitu melawan Juventus," ujar Pato.

"Aku suka melawan Juventus. Ada pemain-pemain hebat di sana. Mereka bukan rekan tim, mereka saudaraku," tambahnya. (FBI)

Thursday, February 24, 2011

Ancelotti: Chelsea Kalah Bukan karena "Berlian"

Penyerang Chelsea, Fernando Torres, dan manajer Carlo Ancelotti.

LONDON, KOMPAS.com — Manajer Chelsea Carlo Ancelotti menilai timnya kalah 0-1 dari Liverpool bukan karena menggunakan pola 4-1-2-1-2 (berlian), melainkan karena lawan bermain lebih baik pada duel Premier League, Minggu (6/2/2011).

Pola itu juga digunakan Chelsea saat melawan Sunderland, Selasa (1/2/2011), yang berakhir 4-2 untuk Chelsea. Menurut Ancelotti, Chelsea juga bermain seperti itu saat melawan Liverpool.

Menurut Ancelotti, dibandingkan dengan saat melawan Sunderland, Chelsea bermain kurang cepat saat menghadapi Liverpool. Itu membuat lawan punya cukup waktu untuk menutup ruang dan dengan demikian mempersulit Chelsea mengakhiri serangan dengan eksekusi sempurna.

"Kami bermain fantastis dengan bentuk permainan seperti saat di Sunderland dan kami ingin mengulangnya. Liverpool mengubah bentuk permainan mereka," ujar Ancelotti.

"Mereka sangat kuat dalam hal bertahan dan memberikan tekanan besar saat di wilayah pertahanan mereka. Kami tak menemukan solusi yang tepat. Saya pikir, imbang adalah hasil yang ideal karena kami tak banyak terancam. Namun, inilah sepak bola," katanya.

"Liverpool bermain dengan baik hari ini, dengan kekuatan, kekuatan, dan sikap fantastis. Masalahnya bukan karena pemain ini. Mereka punya kualitas tinggi. Saya harus mencoba memainkan mereka bersama dan saya akan melakukan segalanya untuk itu. Mereka memiliki kualitas bagus. Bentuk permainan mereka juga bagus. Jelas kami bisa bermain lebih baik sebagai tim, tidak hanya di lini serang. Namun, ketika Anda tak bermain  dengan cepat dari belakang, Anda kesulitan menemukan ruang di depan," tuturnya. (CHE)

Sunday, February 20, 2011

Asal Bukan Nurdin, Semua Calon Layak Didukung

Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI George Toisutta (kanan) berbincang dengan wartawan seusai menyampaikan keterangan pers di Markas Besar TNI Angkatan Darat, Jakarta, Rabu (2/2). Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan kesiapannya untuk dicalonkan menjadi ketua umum PSSI.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat sepak bola, Ari Junaedi, mengungkapkan, niat Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal George Toisutta maju dalam bursa pemilihan Ketua Umum PSSI periode 2011-2015 layak mendapatkan dukungan karena sosok baru sangat dinantikan publik sepak bola Indonesia.

"Kalau ada orang yang berani mendeklarasikan secara terbuka menjadi pengganti Nurdin, itu baru sosok yang layak mendapat dukungan. Apalagi masyarakat pencinta bola sudah bertekad ABN alias Asal Bukan Nurdin. Jadi momentumnya Toisutta sangat tepat," kata Ari yang juga pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) kepada Kompas.com, Kamis (3/2/2011).  Dikatakan Ari, majunya Toisutta sebagai calon ketua umum PSSI merupakan bentuk perlawanan atas arogansi dan otoriter kepengurusan PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid-Nugraha Besoes.

Lebih lanjut, Ari mengaku yakin, latar belakang Toisutta yang berasal dari kalangan militer tidak akan menjadi ganjalan dalam menggalang dukungan. "Tidaklah elok melarang militer masuk ke dunia olahraga asalkan punya niatan dan tekad memajukan prestasi sepak bola yang terpuruk," tegasnya. 

Meskipun begitu, Ari Junaedi—yang juga berprofesi sebagai pengajar di Universitas Dipongoro, Universitas Soetomo, dan Universitas Mercu Buana itu—meminta Toisutta lebih bekerja keras untuk menggalang dukungan.

"Hanya saja, Toisutta mulai dari sekarang harus bisa merangkul 50 persen plus 1  pemilik hak suara di Kongres Pemilihan Ketua Umum PSSI, 19 Maret mendatang di Kepulauan Bintan," katanya.

Bentuk dukungan kepada Toisutta sudah mulai terlihat. Dalam deklarasi yang digelar Rabu lalu, Toisutta mendapatkan dukungan dari 18 pengurus provinsi, pengurus klub, dan pejabat PSSI yang menandatangani manifesto dukungan. Toisutta sendiri sudah secara resmi didaftarkan ke PSSI untuk maju menjadi calon ketua umum organisasi sepak bola Tanah Air itu.

Sunday, February 13, 2011

Cesc: Aku Bukan "Diver"

Gelandang Arsenal, Cesc Fabregas.

LONDON, KOMPAS.com — Kapten Arsenal, Cesc Fabregas, menolak jika dirinya dikatakan sebagai pemain yang suka melakukan diving. Ini merupakan komentar balasan atas pernyataan Pelatih Wigan Athletic, Roberto Martinez, yang menuduh dirinya suka bermain curang.

Martinez menganggap kekalahan yang diderita timnya kala takluk 0-3 dari Arsenal, akhir pekan lalu, disebabkan "kepintaran" Fabregas berakting. Akibat diving Fabregas, menurut Martinez, timnya tak hanya menerima hukuman penalti, tetapi juga kartu merah untuk Gary Caldwell.

"Cesc datang dari budaya yang berbeda. Anda tak curang. Tapi, apa namanya jika Anda mendapat keuntungan dari keputusan dari wasit karena Anda pintar. Anda pun mendapatkan sesuatu untuk tim anda," kecam Martinez kepada Fabregas.

Mantan pemain Barcelona Junior ini pun membalas, "Aku mendengar komentar Martinez bahwa aku melakukan apa pun untuk mendapatkan penalti. Aku tak tahu kenapa dia berkata demikian. Dia orang Catalan dan kami pernah makan malam bersama di Kedutaan Besar Spanyol. Jadi, aku terkejut karena dia pernah berkata bahwa dia sangat mengenalku. Untuk kasus ini, seharusnya ia tahu bahwa aku bukanlah tipe pemain yang suka melakukan diving." (F365)

Tuesday, February 1, 2011

Leo Jadikan Inter Bukan Tim Sepak Bola

Pelatih Inter Milan, Leonardo.

MILAN, KOMPAS.com - Legenda Inter Milan, Luis Suarez, menilai manajer Leonardo telah menjadikan mantan klubnya lebih dari sekadar tim sepak bola dan mengaku yakin, Leonardo akan membawa Inter menjuarai scudetto musim ini.

"Inter memasuki periode sulit di awal musim karena cedera dan performa buruk. Namun, mereka kini bermain dan pemain yang cedera sudah bugar lagi. Skuad mereka adalah yang terkuat dan paling kompetitif," ujar Suarez.

"Mereka lebih dari sekadar tim dan mereka berkorban di lapangan. Ada perbedaan besar dibanding awal musim ini. Inter akan meraih gelar," tambahnya.

Leonardo melatih Inter pada 24 Desember lalu menggantikan Rafael Benitez, yang didatangkan dari Liverpool akhir musim lalu. Bersama Leonardo, Inter telah melewati empat laga Serie-A dan meraih 12 poin. Bandingkan dengan era Benitez, di mana Inter hanya mengetam enam kemenangan, lima hasil imbang, dan empat kali kalah.

Inter kini duduk di posisi keempat dengan 35 poin, atau kalah enam angka dari AC Milan di puncak klasemen. Mengingat Milan masih akan bertemu Milan dan memiliki satu laga tunda, meraih scudetto bukanlah target muluk. (GL)

Sunday, January 23, 2011

Pato: Aku Bukan Pengkhianat seperti Leonardo

striker AC Milan, Alexandre Pato (kiri) dan Leonardo saat ia masih melatih Milan.

MILAN, KOMPAS.com — Striker AC Milan, Alexandre Pato, berjanji tidak akan pernah mengikuti jejak pelatih Leonardo yang kini membelot ke Inter Milan.

Seperti diketahui, Pato kabarnya berang dengan keputusan Leonardo yang memilih untuk bergabung dengan Inter. Pato menilai, Leonardo adalah bagian dari Milan. Maka, tidak pantas jika ia membelot ke Inter.

"Aku tahu keputusannya (Leonardo, Red). Melatih Inter adalah tuntutan profesi. Ia telah mengambil keputusan itu dan aku pikir kami harus menghormatinya," ujar Pato kepada Sky Sport Italia.

"Apakah aku akan mengikuti langkahnya ke Inter? Tidak, tidak akan pernah. Yang kuinginkan hanyalah bermain bagi Milan. Aku hanya ingin memenangkan gelar juara dengan mengenakan kaus Milan. Aku akan terus mengenakannya sepanjang klub masih memerlukanku," tegasnya.

Pato menambahkan, "Inter adalah tim kuat yang telah memenangi berbagai gelar juara musim lalu. Tapi, seperti yang telah kukatakan berulang kali, kami hanya fokus pada target kami. Aku sangat yakin kami akan meraih gelar juara."

Setelah puas mengomentari Leonardo, Pato kini memuji pelatihnya, Massimilano Allegri. Menurutnya, Allegri adalah pelatih yang jenius dan akan membawa Milan meraih banyak gelar.

"Allegri layak melatih tim sebesar Milan. Ia tahu bagaimana memberi motivasi kepada pemain. Aku dan para pemain Milan lainnya bangga dapat dilatih olehnya," pujinya.

Monday, January 17, 2011

Cassano-Balotelli Bukan Jaminan Kesuksesan

Legenda sepak bola Italia, Roberto Baggio.

ROMA, KOMPAS.com Legenda sepak bola Italia yang kini menjadi pejabat di FIGC, Roberto Baggio, menilai kehadiran Antonio Cassano dan Mario Balotelli dalam skuad "Gli Azzurri" belum tentu memberikan hasil seperti yang diharapkan. Menurutnya, kedua pemain itu memiliki bakat alami luar biasa, tetapi masih perlu diasah untuk menampilkan kualitas terbaiknya.

Sebelumnya, Pelatih Italia, Cesare Prandelli, mengatakan bahwa ia ingin timnya dibangun dengan kombinasi duo Balotelli dan Cassano. Baggio menilai hal seperti itu bisa menjadi bumerang karena Gli Azzurri akan terlalu bergantung pada bakat individu seseorang.

Saat ini sepak bola Italia berjuang untuk mengelola bakat mereka sendiri karena Cassano dan Balotelli telah menjadi bukti. "Saya tidak mau menghakimi mereka, tapi saya bilang bahwa bakat tidaklah cukup. Kita harus memberikan antusiasme, pemahaman, dan kita harus mengajarkan anak-anak ini yang terbaik," ujar Baggio. (GQ)

Tuesday, December 28, 2010

Sepak Bola Bukan Ilmu Eksak

KOMPAS.COM/LAKSONO HARI WIWOHOKetua Umum PSSI Nurdin Halid.

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum PSSI Nurdin Halid meminta tim nasional Indonesia untuk melupakan kemenangan besar atas Malaysia pada babak penyisihan lalu. "Harimau Malaya" yang akan ditantang pasukan "Merah Putih" di pertandingan final leg pertama Piala AFF 2010, kata Nurdin, bukan tim enteng lagi.

Firman Utina dan kawan-kawan memang pernah mempermalukan tim besutan K Rajagopal itu dengan skor telak 5-1 pada babak penyisihan Grup A. Kekalahan itu tidak lantas menjatuhkan mental Malaysia. Mereka bangkit dan secara mengejutkan lolos ke babak final setelah menyingkirkan juara bertahan Vietnam dengan skor agregat 2-0.

Nurdin menilai Malaysia bukan tim yang mudah dikalahkan. Jadi, ia meminta tim besutan Alfred Riedl itu untuk tidak tampil terlalu percaya diri pada pertandingan nanti.

"Insya Allah (menang). Saya berdoa kita bisa juara," kata Nurdin kepada wartawan di kantor PSSI, Rabu (22/12/2010) malam.

"Namun, jangan dilihat ukuran kemenangan 5-1. Sepak bola bukan ilmu eksak. Yang paling penting adalah menarik ditonton dan memenangi pertandingan," lanjutnya.

Jovanovic Bukan Pemain Kacangan

Penyerang Liverpool, Milan Jovanovic.

LIVERPOOL, KOMPAS.com - Pelatih Liverpool, Roy Hodgson, menegaskan, pihaknya hanya akan menjual  Milan Jovanovic jika tawarannya menarik. Meski sering di bangku cadangan, dia bukan pemain kacangan.

"The Reds" kabarnya siap melepas pemain tengah asal Serbia tersebut setelah dirinya gagal bersinar di Anfield. Didatangkan dengan status pemain bebas transfer, Jovanovic lebih banyak berada di bangku cadangan. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa Hodgson akan menjual pemain tersebut Januari mendatang.

Sejumlah klub di Jerman dan Turki berminat kepada pemain berusia 29 tahun tersebut. Namun, Hodgson menegaskan bahwa dirinya baru akan melepas pemain tersebut jika ada penawaran yang cocok.

"Bagi saya, ia (Jovanovic, Red) tetaplah pemain Liverpool. Saya tidak peduli ia bermain bagus atau buruk. Namun, saya juga tidak bisa memaksanya agar terus bersama kami. Ia bebas menentukan nasibnya sendiri," tegas Hodgson. (SKY)