Showing posts with label Bertahan. Show all posts
Showing posts with label Bertahan. Show all posts

Friday, November 25, 2011

Cesc: Kami Buat Inggris Bertahan Hampir 90 Menit

Gelandang Spanyol, Cesc Fabregas, merayakan gol pertamanya (dari dua) ke gawang Cile, pada pertandingan persahabatan, di Stade de Geneve, Jumat (2/9/2011).

LONDON, KOMPAS.com - Gelandang tim nasional Spanyol, Cesc Fabregas, menilai timnya tetap tim yang lebih baik meski kalah 0-1 dari Inggris di laga persahabatan, Sabtu atau Minggu (13/11/2011) dini hari WIB.

Dalam laga tersebut, Spanyol lebih menguasai pertandingan ketimbang Inggris. Hampir sepanjang 90 menit, pasukan Vicente Del Bosque tersebut membuat "The Three Lions" bertahan di daerah mereka sendiri. Namun, Inggris justru mampu mencuri gol kemenangan di menit ke-49 lewat aksi Frank Lampard.

"Kami mendominasi prtandingan. Kami membuat Inggris bertahan hampir 90 menit. Ada dua gaya sepak bola di laga ini, dan gaya permainan defensif yang menang," kata Fabregas seperti dilansir Telegraph.

"Kami sadar hanya bisa mencetak gol lewat tendangan bebas atau sepak pojok. Kami tak menghasilkan tendangan bebas yang cerdas dan harus membayar untuk itu. Kami senang karena kami bermain baik," lanjutnya.

Di laga persahabatan berikutnya, Selasa (15/11/2011), Spanyol akan berhadapan dengan Kosta Rika.

Tuesday, November 15, 2011

Andik Bertahan di Persebaya karena Cinta

Gelandang serang Timnas Indonesia U-23 Andik Vermansyah sebelum diwawancarai Kompas.com, di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (5/11/2011). KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI

JAKARTA, KOMPAS.com – Mungkin dulu tak banyak mengenal sosok Andik Vermansyah, gelandang serang mungil asal kota Jember yang dimiliki oleh Persebaya 1927. Mengawali karier dari sepak bola kampung, Andik kini menjelma menjadi pemain andalan klub papan atas Liga Indonesia, Persebaya Surabaya dan juga tim nasional U-23.

Meski tak punya postur yang ideal (162 cm), Andik tak lantas minder dan justru mampu memberikan yang terbaik saat diberikan tugas dalam bermain. Bahkan, dirinya sempat ditawari bermain oleh legenda sepak bola Portugal, Rui Costa.

Namun, siapa sangka awal kariernya tak berjalan dengan mulus. Ia harus banting tulang demi mewujudkan impiannya bermain untuk klub kesayangannya, Persebaya Surabaya. Lantas apa pesannya untuk anak-anak Indonesia? Berikut petikan wawancaranya dengan Kompas.com.

T: Sejak kapan kami bermain sepak bola? Aku sudah bermain bola sejak lima tahun. Waktu itu aku sering diajak kakak (Agus Dwi Cahyono, kakak nomor dua) bermain di sana. Aku bermain setiap hari di sana hinga aku sering dipukul orang tua karena pulangya Magrib terus dan bolos mengaji. Saat itu masih sepak bola antar-kampung. Baru kelas empat SD aku ikut sekolah sepak bola. Tahun 2005, Aku bergabung dengan Persebaya junior.

Pada tahun 2008, aku bersyukur bisa masuk ke tim senior Persebaya. Yang awalnya aku hanya lihat Bejo Sugiantoro latihan, akhirnya bisa latihan bersama. Aku sangat bersyukur.

T: Bagaimana sikap orang tua mengenai keputusanmu bersepak bola?
Awalnya orang tua kurang mendukung. Setiap habis dari lapangan, aku dipukul, tetapi aku membandel. Aku tahu mereka memukul aku bukan karena tidak sayang, tetapi takut aku kenapa-kenapa, contohnya patah kaki. Sebab, buat makan aja sudah apalagi mengeluarkan dana untuk hal yang tidak perlu. Namun lambat laun orang tua mengizinkan

T: Pernah berpikir pindah ke klub lebih besar?
Aku di Persebaya sudah sejak Persebaya yunior. Sebagai warga Surabaya menjadi suatu kebangaan bisa membela Persebaya. Aku juga senang bisa melihat bonek dan pemain seperti Bejo Sugiantoro.

Aku seperti sudah cinta mati dengan Persebaya. Jadi tak pernah tertarik untuk pindah klub.

T: Kepindahan Persebaya ke Liga Primer Indonesia (LPI) juga mengancam kesempatan kamu di timnas. Namun, kami tetap bertahan. Kenapa?
Ya karena aku sangat cinta dengan Persebaya. Aku juga optimistis karena mendengar pernyataan dari bapak Andi Mallarangeng (Menteri Pemuda dan Olah Raga) yang mendukung adanya LPI. Itu yang membuat aku bertahan di Persebaya.

T: Kabarnya kamu pernah dilirik klub Portugal. Bisa cerita soal itu?
Iya. Waktu itu masih pra-kompetisi. Aku baru bermain tiga pertandingan, tapi sudah mencetak banyak gol. Ternyata saat itu pak Llano (Mahardika, CEO Persebaya Surabaya) bikin videonya dan mengirimkannya ke Rui Costa (Direktur Sepak Bola Benfica). Pak Llano merupakan teman dekat Rui Costa. Aku lalu dipanggil sama Pak Llano ke kantornya untuk bicara empat mata. Beliau bilang, ‘ada tawaran main di Portugal. Kamu mau nggak?’. Ya aku jawab, ‘Kalau ada temannya, aku mau, Pak.'

Lagi pula hal itu harus aku diskusikan dulu dengan orang tua dan keluarga. Orang tua mintanya aku tetap di sini (Indonesia). Kalau kakak, dia suruh aku untuk ambil kesempatan itu.

T: Siapa pelatih yang paling berjasa dalam kemajuan karier kamu?
Aji Santoso yang melatih aku selama di PON. Aku baru tahu posisi dan bagaimana menyerang juga bertahan. Aku akui coach Aji sangat berjasa memberikan motivasi kepada aku hingga aku bisa latihan dengan serius.

T: Bagaimana dengan Rahmad Darmawan?
Kalau Pak Rahmad itu mampu merangkul pemain. Dia itu milik semua pemain. Beliau juga mampu memotivasi para pemain yang ada. Kalau secara teknik tidak jauh berbeda dengan pak Aji.

T: Apa momen terindah dalam kariermu?
Waktu aku juara PON bersama Jawa Timur. Saat itu kami berhasil mendapatkan emas dan aku dapat hadiah motor Mio sebagai bonusnya. Itu pertama kali aku punya motor sendiri.

T: Kalau momen terburuk?
Saat aku tak pernah dimainkan ketika Persebaya lolos ke Indonesia Super League. Aku sempat kecewa dan pernah berniat untuk pindah.

T: Kamu pernah ditolak masuk timnas saat Indonesia bersiap melawan Turkmenistan. Perasaan kamu?
Aku sangat kecewa saat itu.

T: Bisa ceritakan bagaimana kronologisnya?
Ada yang telepon aku terus menyuruhku datang seleksi, tapi tidak ada surat. Ada kemungkinan surat itu diberikan kepada Persebaya (versi Wishnu Wardhana). Waktu itu aku sempat ditanya coach Aji, ’kenapa kamu tidak berangkat?’. Lalu aku bilang masih bimbang karena masih simpang siur.

T: Banyak orang menjuluki kami Lionel Messi-nya Surabaya. Tanggapan kamu?
Semua juga bilang begitu, tetapi aku tidak merasa seperti itu. Saat aku bermain, para Bonek selalu teriak ’Messi..Messi...Messi’. Saya senang dipanggil Messi, tapi kan beda jauh ha ha ha.

T: Kamu tipe pemain seperti apa?
Itu orang yang menilai. Banyak orang bilang aku pemain yang punya kecepatan. Ada yang bilang, tanpa kecepatan saya tidak bisa jadi pemain seperti ini.

T: Apa yang jadi kelebihan seorang Andik Vermansyah?
Hmmmm..Mungkin kecepatan.

T: Apa rahasia kamu bisa tampil begitu?
Aku biasa latihan lari menaiki tangga, baik tangga jembatan atau tangga di mall. Kadang, aku lomba lari dengan taksi. Pernah waktu itu aku lomba sampai lima kali, setelahnya aku langsung muntah-muntah ha ha ha.

T: Postur kamu terbilang kecil untuk pemain sepak bola. Pernah merasa minder dengan postur tubuh kamu?
Tidak pernah. Soalnya, aku sejak kecil sudah bermain dengan orang yang posturnya lebih besar dariku. Waktu umur lima tahun, aku sudah bermain melawan bapak-bapak. Jujur, di timnas pun, aku tak pernah minder.

T: Kamu dikenal sebagai pria yang sederhana. Kabarnya, kamu lebih suka pakai sepatu murah ketimbang sepatu yang mahal harganya?
Kalau pakai sepatu mahal, aku tidak cocok. Lagian, kalau sepatu mahal tidak ada yang cocok dengan ukuran kakiku. Aku tidak peduli dibilang orang apa kalau pakai sepatu murah.

T: Punya pengalaman istimewa soal sepatu?
Aku punya sepatu untuk bermain sepak bola awalnya dikasih dari orang dan teman-teman. Sepatu pertama yang dibelikan ibu itu harganya 15 ribu. Itu aja harus nunggu Ibu dapat bayaran lebih. Dengan berjalannya waktu, Bapak mendapat rezeki dan aku dikasih uang 50 ribu untuk membeli sepatu yang sedikit lebih bagus. Aku terus mencari sepatu bola seharian tapi tidak ketemu karena duitnya kurang. Namun, besoknya aku bisa mendapatkan sepatu dengan harga 40 ribu rupiah. Aku senang sekali, sampai-sampai sepatu itu aku pegang terus hingga aku ajak tidur.

Aku juga pernah berjualan kue keliling kampung saat kelas empat SD. Aku mulai jualan dari jam 7 pagi sampai jam 8.30. Jam 9 pagi aku pergi ke sekolah. Aku juga pernah berjualan es di dekat stadion, Sejak itu aku tidak pernah meminta uang lagi kepada orang tua. Cuma dikasih jatah satu minggu 1500 sama bapak. Aku jualan untuk uang jajan aku dan untuk menambung agar bisa membeli sepatu bagus.

T: Kapan pertama kali kamu mendapat penghasilan sendiri dari bermain bola?
Aku mulai mencari penghasilan sendiri dengan ikut bermain tarkam di Madura. Saat itu, tahun 2003, aku mendapat bayaran 45 ribu rupiah dan hasilnya aku berikan semua untuk orang tua. Dari situ, aku bermain di manapun tidak pernah dipukul orang tua

T:  Andik itu sebenarnya orangnya seperti apa sih?
Baik, suka bercanda, suka cari temen, dan sederhana.

T: Siapa pemain idola atau panutan seorang Andik Vermansyah?
Kalau di dalam negeri aku suka Firman Utina dan Bejo Sugiantoro. Kalau di luar negeri aku suka Cristiano Ronaldo. Tim tentu Persebaya dan juga Real Madrid.

T: Bisa ceritain kenapa kamu begitu suka dengan Persebaya?
Awal aku cinta persebaya karena diajak tetangga nonton persebaya. Namanya Bapak Kar. Setiap Persebaya bermain, aku selalu diajak nonton dan lama-lama aku mulai melihat mereka latihan di Stadion Tambak Sari. Aku harus jalan kaki sepanjang 4 kilo meter untuk mencapai stadion tersebut.

T: Kalau hobi kamu apa?
Karaoke sama billiar. Bukan hiburan malam, tetapi karaoke dan billiar untuk refreshing saja sama teman-teman.

T: Kamu bisa dibilang punya sedikit waktu untuk keluarga. Apa yang kamu lakukan jika sudah pulang ke rumah?
Setiap pulang, aku pasti mengajak keluarga untuk makan di luar. Pacar juga aku ajak.

T: Menurut kamu, apa yang harus dibenahi dari sepak bola Indonesia agar bisa berkembang?
Indonesia itu kurang lapangan bola. Padahal, dari lapangan itulah muncul bibit-bibit pemain. Negara kita lebih besar dari Jepang, tapi di Jepang lapangannya lebih banyak dari yang kita miliki. Seharusnya kita harus memantau lapangan dan diklat yang ada saat ini.

T: Punya pesan untuk anak-anak Indonesia?
Terus bekerja keras dan jangan putus asa. Nasib tak akan berubah jika kita tidak mengubahnya sendiri.

Sunday, May 1, 2011

Ferguson Bujuk Scholes Bertahan

Gelandang Manchester United, Paul Scholes.

MANCHESTER, KOMPAS.com — Manajer Manchester United Alex Ferguson mengaku telah meminta Paul Scholes melupakan niat pensiun pada akhir musim ini. Namun, menurutnya, Scholes belum memberi kepastian.

Kontrak Scholes habis pada akhir musim ini. Dalam sejumlah wawancara dengan media Inggris, Scholes mengaku mempertimbangkan pensiun saat kontraknya habis pada akhir musim ini. Usia yang sudah mencapai 36 tahun disebutnya menjadi salah satu pertimbangan.

"Saya beberapa kali bicara dengan Scholesy untuk meyakinkannya bertahan, tetapi kita akan lihat," ujar Ferguson.

Selain itu, Ferguson juga memuji pemain veteran lainnya, Ryan Giggs, yang sudah berusia 37 tahun tetapi mampu menjaga level permainan dan kebugaran fisik.

Lebih dari itu, Giggs dinilainya memiliki gairah bermain tinggi, seperti yang telah ditunjukkan dengan memperpanjang kontrak dengan MU untuk satu musim, atau sampai akhir musim depan.

"Untuk Ryan, ia luar biasa, fantastis. Ia berusia 37 tahun dan terlihat seakan-akan masih memiliki karier sampai empat atau lima tahun lagi," kata Ferguson.

"Namun, sulit untuk mengatakannya karena ketika Anda bertambah tua, Anda semakin tua dan kadang-kadang itu bisa memukul Anda dengan cepat. Apa yang Ryan lakukan saat ini cukup luar biasa dan ia tak pernah punya masalah berat badan," tuturnya. (SKY)

Wednesday, April 20, 2011

Fabregas Isyaratkan Bertahan di Arsenal

Kapten Arsenal, Cesc Fabregas.

LONDON, KOMPAS.com - Kapten Arsenal Cesc Fabregas mengatakan ia telah mendapatkan pelajaran soal kesetiaan dan ketekunan dari kapten Barcelona Carlas Puyol. Selain itu, ia juga mengatakan, kapan pun ia pindah dari Arsenal sebelum pensiun, ia tak akan bergabung dengan klub Inggris lain.

Arsenal tidak menjuarai apa pun sejak Piala FA 2005 dan Fabregas disebut media-media Inggris mempertimbangkan pindah, jika musim ini kembali berakhir tanpa gelar. Barcelona disebut sebagai pelabuhan Fabregas musim depan.

"Kapan pun aku meninggalkan Arsenal, itu akan terjadi karena akal sehatku dan bukan karena (emosi). Dan, siapa yang mengatakan Anda akan bermain di tim baru? Atau apakah Anda akan berkembang? Di sini aku memiliki banyak keberuntungan personal, kecuali tidak meraih banyak gelar, dan aku baik-baik saja," ujar Fabregas.

"Aku bicara dengan Puyol, yang mengatakan bahwa ia tak menjuarai apa pun sampai usianya 26 tahun. Kesabaran dan kerja keras adalah hal terpenting dalam hidup. Jika Anda tidak akan melihatku (pindah karena pengaruh emosi). Dan jika suatu hari aku meninggalkan Arsenal, itu tidak untuk bergabung dengan klub Inggris lain. Itulah kepastiannya," tuturnya. (GUA)

Monday, February 14, 2011

Persib Masih Bertahan di LSI

KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJOPersib menggunakan lapangan futsal Soccer Coop, Bandung, untuk berlatih, Kamis (18/11). Ketiadaan lapangan menyebabkan manajemen Persib sering kerepotan mencari tempat berlatih. Persib tidak memiliki lapangan sendiri sehingga harus mengandalkan lapangan milik pihak ketiga.

BANDUNG, KOMPAS.com- Tim peserta Liga Super Indonesia dari Bandung, Persib, ternyata masih akan melanjutkan kompetisi dengan mengirimkan tim mereka untuk laga tandang ke Wamena. Wacana untuk hengkang ke kompetisi tetangga, Liga Primer Indonesia, belum juga diputuskan.

Demikian diungkapkan Manajer Persib, Umuh Muhtar, dalam jumpa pers di sebuah restoran di Jl LLRE Martadinata, Bandung, Kamis (27/1/2011). Pukul 15.00 ini, rombongan pemain yang terdiri dari 18 orang akan berangkat ke Wamena untuk menjalani laga tandang tanggal 30 Januari. Laga tersebut dilanjutkan melawan Persipura Jayapura, 2 Februari.

"Keputusan ini harus dibicarakan dengan seluruh pengurus di Jakarta. Kepastian bakal muncul satu atau dua hari ke depan," ujar Umuh.

Dia menuturkan, rencana Persib untuk hijrah ke LPI didasarkan atas kegeraman kepada manajemen kompetisi di LSI yang dinilai kerap merugikan tim peserta. Salah satu pemicunya adalah buruknya kepemimpinan wasit dalam laga kandang menghadapi Persisam Samarinda serta Arema Indonesia.

Monday, January 10, 2011

Semua Ingin Riedl Bertahan

JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) mempertahankan pelatih Alfred Riedl disambut baik oleh punggawa tim nasional Indonesia.

Riedl layak dipertahankan karena telah membentuk fondasi yang bagus bagi pasukan "Merah Putih". "Dia patut dipertahankan. Semua masyarkat juga pasti menginginkannya. Riedl sudah bikin fondasi yang bagus," kata Zulkifli Syukur kepada Kompas.com, Jumat (31/12/2010).

Defender yang memperkuat Arema Indonesia itu menilai Riedl telah memberikan prestasi yang luar biasa, meskipun Indonesia gagal menjuarai Piala AFF 2010. "Dengan merombak skuad dari pelatih sebelumnya Benny Dollo, Riedl telah berhasil membangun tim menjadi luar biasa terutama mental. Dalam beberapa pertandingan kami berhasil mengalahkan lawan meskipun harus tertinggal lebih dulu," tukas pemain asal Makassar itu.

Lebih lanjut, Zulkifli mengaku banyak mendapatkan pelajaran berharga selama dilatih oleh Riedl. Baginya, Riedl berhasil menerapkan kedisiplinan dalam tim. Ia berharap bisa membawa nilai-nilai penting yang diajarkan Riedl saat membela klub. "Dia bagus melakukan pendekatan dengan pemain. Dia sangat disiplin dan tegas. Yang paling penting, dia paling marah kalau kami main kasar. Selain itu, di enggak pernah menilai satu pemain menjadi bintang tetapi tim-lah yang menjadi bintang," beber bek berusia 26 tahun tersebut.

Hal senada diungkapkan penyerang muda "Merah Putih", Yongky Ari Bowo. "Keputusan bagus untuk mempertahankan Riedl. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari dia. Dia mengajarkan kami untuk selalu disiplin," tukas Yongky.

Sebagaimana diberitakan, posisi Riedl sempat terancam setelah Indonesia kembali menjadi runner-up di Piala AFF. "Merah Putih" kalah agregat 2-4 (0-3, 2-1) dari Malaysia pada babak final yang digelar 26 dan 29 Desember 2010. Meski begitu, Riedl belum kehilangan pekerjaannya. Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, menyatakan hanya akan mengevaluasi kinerja Riedl dan bukan memecatnya.

Penulis: Ferril Dennys   |   Editor: Erlangga Djumena   |   Loading...

Saturday, January 1, 2011

Ronaldinho Mau Bertahan

MILAN, KOMPAS.com - Bek AC Milan, Thiago Silva, mengatakan, rekan klub dan negaranya, Ronaldinho siap mendedikasikan sisa kariernya kepada klub, asal mendapat jaminan tampil reguler.

"Ronaldinho ingin tetap bersama kami. Aku tahu itu. Aku juga tahu, ia ingin bermain. Ia bermain bagus musim lalu dan mengawali musim ini dengan baik. Keputusan bergantung kepada pelatih dan para direktur," ujar Silva.

Ronaldinho bermain untuk Milan sejak 2008 dan merasakan didikan tiga pelatih berbeda, yaitu Carlo Ancelotti (2008-2009), Leonardo (2009-2010), dan Massimiliano Allegri (2010-sekarang).

Ketika masih dilatih Ancelotti, Ronaldinho juga tak banyak bermain. Selain karena performanya belum stabil dan masih dalam proses adaptasi, Milan saat itu memiliki Kaka, yang pada 2009 lalu pindah ke Real Madrid.

Karier Ronaldinho di San Siro mulai menanjak ketika Leonardo naik menggantikan Ancelotti. Namun, belum sampai titik puncak, Ronaldinho melihat Leonardo meninggalkan Milan karena tak sepaham dengan Presiden Milan, Silvio Berlusconi.

Pergantian pelatih dari Leonardo ke Allegri berdampak buruk bagi Ronaldinho. Kedatangan Allegri yang dibarengi pembelian Zlatan Ibrahimovic dan Robinho, membuat Milan bereksperimen untuk menemukan formula baru yang jitu.

Ronaldinho tak masuk kategori eksperimen yang berhasil. Hingga pekan ke-17 Serie-A musim ini, Ronaldinho baru bermain sebanyak sebelas kali, dengan empat di antaranya sebagai pengganti.

Belum lama ini, Ronaldinho disebut media-media Italia bakal pindah ke Gremio pada jendela transfer kedua, Januari mendatang, atau enam bulan sebelum kontraknya habis.

Milan menanggapi pemberitaan itu dengan dingin. Bukannya mencari cara membuat Ronaldinho bertahan, mereka malah bersiap menghadapi kepergiran Ronaldinho dengan menegosiasikan transfer penyerang Antonio Cassano dari Sampdoria, yang sejauh ini berjalan lancar.

Gremio sudah mengonfirmasikan, negosiasi dengan Ronaldinho sudah mencapai tahap akhir. Menurutnya, kepindahan Ronaldinho ke Gremio hanya tinggal menunggu kesediaan Milan melepasnya, yang sedang diusahakan agen Ronaldinho, Roberto de Assis. (SKY)

Penulis: Tjatur Wiharyo   |   Editor: Tjatur Wiharyo   |   Loading...