Rahmad menunjukkan dua tiket final leg kedua Piala AFF 2010 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Selasa (28/12/2010). Satu tiket (bawah) yang dibelinya dari calo diduga palsu. Keberadaan tiket palsu ini membuat calon penonton resah.JAKARTA, KOMPAS.com — Penukaran tiket final laga kedua Piala Suzuki AFF 2010 tetap amburadul. Sejumlah pemegang voucer pembelian tidak bisa menukarkannya dengan tiket. Para pemegang voucer pun menyampaikan protes ke kantor PSSI karena ditinggal kabur oleh petugas loket penukaran.
Panitia lokal Piala Suzuki AFF 2010 mengalokasikan waktu sehari pada Selasa (28/12/2010) untuk menukarkan voucer pembelian dengan tiket asli. Penukaran tiket kategori I di loket Albania, kategori II di loket timur, kategori III di loket utara, serta kategori VVIP dan VIP di loket barat Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Di loket penukaran tiket kategori III sempat terjadi kericuhan sekitar pukul 13.30. Para pemegang voucer pembelian tiket ribut karena petugas justru meninggalkan loket. Ratusan calon penonton akhirnya beriringan ke kantor PSSI. Mereka meminta penjelasan tentang penukaran tiket dari petugas.
Bagus (25), penonton asal Bandung, mengungkapkan, setelah menunggu selama dua hari, ia tak bisa menukarkan lima lembar kupon dengan tiket. Padahal, ia telah membayar lunas. "Duit sudah keluar, tetapi tiket tidak ada. Saya sudah bayar, lalu tiketnya pada ke mana?" keluh Bagus.
Kurniawan (22), penonton asal Kebumen, mengaku, saat ia mengantre mulai pukul 08.00 pagi tiba-tiba petugas tiket di Pintu III kabur.
Para pembeli tiket akhirnya menuju ke kantor PSSI untuk menuntut hak mereka. Mereka berkerumun sambil meneriakkan cemoohan serta hujatan kepada Ketua PSSI Nurdin Halid.
Di tengah kebingungan suporter mendapat tiket, para calo mencari kesempatan. Mereka menjual tiket di atas harga normal. Natan (20), suporter dari Bekasi, mendapat tawaran tiket kategori III yang seharusnya Rp 50.000, tetapi dijual Rp 100.000 per lembar. Bahkan, tiket kategori yang sama sempat ditawarkan kepada Edi (32) dan Dayat (38) dengan harga Rp 150.000.
Karena buruknya layanan penjualan tiket dari panitia penyelenggara, sebagian penonton mengancam akan membuat keributan pada laga Final Piala AFF, Rabu (29/12/2010) pukul 19.00.
Petugas keamanan Stadion Gelora Bung Karno, Mujakir, mengatakan, jika suporter yang membeli tiket tanpa menyertakan tanda terima dan hanya berupa kupon maka tak bisa mendapatkan tiket.
Potensi kekacauan penukaran tiket yang hanya menggunakan empat loket ini sempat ditanyakan kepada Ketua Panitia Lokal AFF 2010 Joko Driyono. Joko menyatakan, tidak akan ada kekacauan dan antrean panjang karena hanya menukarkan tiket.
Namun, optimisme panitia lokal buyar. Penukaran tiket memakan waktu karena petugas harus mencocokkan voucer atau nota pembelian dengan daftar pembelian secara manual.
Suporter tim nasional
Ribuan suporter dari daerah juga akan menyerbu Jakarta. Mereka datang dari Solo, Yogyakarta, Makassar, Malang, Madiun, dan Kediri. Mereka berangkat ke Jakarta menggunakan kereta api, bus, dan pesawat terbang. Para suporter memanfaatkan tempat ibadah dan emperan gedung di Senayan untuk menginap.
"Saya sudah datang dua hari lalu, menginap di sini (Masjid Al Bina). Mau cari tiket sudah habis, yang ada hanya tiket mahal, uang saya tidak cukup," kata Johan (18), suporter asal Surabaya.
Untuk mencegah warga berdatangan ke Stadion GBK, Pemprov DKI Jakarta menggelar nonton bareng di 268 lokasi se-Jakarta. Di sisi lain, 72 pusat perbelanjaan juga akan menggelar nonton bareng. Panitia lokal juga menyediakan enam layar lebar di sekitar Stadion GBK bagi para suporter yang tidak memiliki tiket menonton langsung. (ABK/ART/EKI/ENG/NDY/RAZ/ECA/ANG)
No comments:
Post a Comment